Selat Hormuz Dibuka, Minyak Dunia Ambruk 10 Persen dan Premi Risiko Menguap

Harga minyak dunia langsung anjlok lebih dari 10 persen setelah Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran komersial. Penurunan ini membuat harga minyak Brent turun ke bawah ambang 90 dollar AS per barrel, sementara minyak mentah Amerika Serikat atau WTI juga melemah tajam.

Pergerakan tersebut menunjukkan pasar mulai menghapus premi risiko yang sebelumnya melekat pada harga energi. Selat Hormuz selama ini dianggap jalur paling sensitif karena sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewatinya, sehingga setiap gangguan di kawasan itu biasanya cepat mendorong harga naik.

Risiko pasokan mereda

Pembukaan kembali jalur itu terjadi setelah pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Lebanon. Situasi tersebut membuat kekhawatiran investor terhadap gangguan distribusi minyak global menurun, karena jalur pelayaran vital itu kembali dinilai aman untuk aktivitas komersial.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut operasional Selat Hormuz berkaitan langsung dengan stabilitas kawasan selama masa damai berlangsung. Dalam forum diplomatik di Doha, ia mengatakan, “Selat Hormuz dibuka sepenuhnya untuk pelayaran komersial selama masa gencatan senjata berlangsung.”

Pernyataan itu ikut memperkuat sinyal bahwa risiko geopolitik di kawasan mulai mereda. Pasar membaca langkah tersebut sebagai kabar baik bagi rantai pasok energi, terutama karena Selat Hormuz menjadi titik krusial yang memengaruhi arus minyak mentah dunia.

Respons cepat pasar energi

Harga minyak yang turun tajam mencerminkan hilangnya kekhawatiran atas potensi hambatan logistik di Timur Tengah. Saat risiko suplai menurun, trader cenderung menurunkan harga karena tidak lagi memasukkan skenario gangguan besar ke dalam valuasi pasar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menegaskan bahwa distribusi energi melalui selat itu dapat dilanjutkan oleh perusahaan pengapalan internasional. Ia menyebut jalur tersebut “terbuka dan siap untuk dilewati sepenuhnya,” yang ikut memperkuat optimisme pelaku pasar.

Namun, laporan New York Post menyebut arus kapal tetap berada di bawah pengawasan ketat. Setiap kapal komersial masih harus melalui koordinasi dengan otoritas maritim setempat sebelum melintasi Selat Hormuz.

Efek berantai ke saham dan konsumen

Pelemahan harga minyak tidak berhenti di pasar energi. Bursa saham Amerika Serikat ikut merespons positif karena investor melihat tekanan inflasi berpotensi mereda jika harga energi terus turun.

Dow Jones Industrial Average dilaporkan naik hingga 900 poin. Kenaikan itu mencerminkan keyakinan pasar bahwa biaya produksi dan konsumsi bisa lebih terkendali apabila harga minyak bertahan di level yang lebih rendah.

Dampaknya juga mulai terlihat di pasar bensin domestik Amerika Serikat. Harga bensin tercatat turun menjadi 4,09 dollar AS per galon, meski arah berikutnya tetap bergantung pada pergerakan harga minyak dalam perdagangan selanjutnya.

Volatilitas belum benar-benar hilang

Meski pasar menyambut pembukaan Selat Hormuz, kondisi di kawasan belum sepenuhnya stabil. Sejumlah analis menilai status jalur pelayaran itu masih sangat bergantung pada keberlanjutan gencatan senjata di Timur Tengah.

Selama jalur vital tersebut tetap dipengaruhi dinamika keamanan regional, harga minyak dunia masih berpotensi bergerak liar. Karena itu, pasar energi tetap memonitor setiap perkembangan dari Selat Hormuz dan area konflik di sekitarnya.

Terkait