Saat Tokoh Anime Jadi Cinta Sejati, Ini Batas Tipis Fictosexuality yang Sering Tak Disadari

Fenomena fictosexuality kian ramai dibahas seiring makin banyak orang membangun ikatan emosional yang kuat dengan tokoh anime, gim, manga, film, serial televisi, hingga figur virtual. Di balik kesannya yang tidak biasa, para peneliti melihat pola hubungan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar menyukai karakter favorit.

Pusat perhatian fenomena ini bukan hanya soal ketertarikan, tetapi juga soal bagaimana tokoh fiksi bisa terasa nyata dalam kehidupan emosional seseorang. Di era digital, batas antara hiburan, rasa kagum, dan kedekatan personal makin tipis karena karakter hadir terus-menerus lewat layar.

Apa yang dimaksud fictosexuality

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Frontiers in Psychology dan tersedia melalui PubMed Central menjelaskan bahwa fictosexuality adalah keterikatan emosional, romantis, atau seksual yang kuat dan bertahan lama terhadap karakter yang tidak nyata. Konsep ini berbeda dari reaksi umum saat seseorang menikmati karya fiksi.

Para peneliti juga menempatkannya dekat dengan hubungan parasosial, yaitu hubungan emosional satu arah terhadap figur fiksi atau figur publik. Dalam kondisi ini, seseorang bisa merasa sangat mengenal tokoh tersebut, meski hubungan itu tidak pernah timbal balik.

Karena itu, fictosexuality tidak berhenti pada rasa suka sesaat. Fenomena ini bisa memengaruhi cara seseorang memandang cinta, kedekatan, dan pasangan ideal dalam kehidupan nyata.

Bukan sekadar penggemar karakter

Banyak orang pernah menyukai karakter tertentu lalu berpindah ke tokoh lain ketika cerita selesai. Pada fictosexuality, ketertarikan itu justru bisa bertahan selama bertahun-tahun dan menjadi bagian penting dari kehidupan emosional.

Perbedaannya terletak pada intensitas dan durasi. Seseorang yang hanya menganggap tokoh anime menarik belum tentu mengalami fictosexuality, tetapi bila ia terus membayangkan hubungan romantis jangka panjang dan merasakan ikatan kuat, pengalaman itu lebih dekat dengan konsep tersebut.

Ikatan seperti ini sering hadir sebagai bentuk kedekatan yang terasa nyata, meski hanya hidup dalam imajinasi dan ruang digital. Dalam pembahasan akademik, kondisi ini dipandang lebih dalam daripada kebiasaan menyukai karakter dalam fandom.

Mengapa karakter fiksi terasa begitu dekat

Psikoterapis dan seksolog Chloe Scotney, seperti dikutip CNN, menyebut ketertarikan pada karakter fiksi sebagai hal yang wajar. Karakter fiksi memang dirancang untuk memancing emosi lewat sifat lucu, cerdas, perhatian, pemberani, atau misterius.

Bahkan tokoh antagonis sering dibuat menarik karena sisi gelapnya ikut diromantisasi dalam cerita. Dari sini, karakter fiksi bisa terasa lebih aman untuk dikagumi karena tidak akan menolak, mengkritik, atau menyakiti balik.

Bagi sebagian orang, dunia fiksi juga menjadi ruang yang aman untuk mengenali ketertarikan dan identitas diri. Lewat anime, serial, buku, atau gim, seseorang bisa memahami tipe kepribadian yang disukai dan dinamika hubungan yang terasa cocok.

Scotney juga menyoroti bahwa karakter fiksi tidak akan mempermalukan, mengabaikan, atau merendahkan seseorang. Kondisi ini membuat keterikatan pada tokoh fiksi terasa menenangkan, terutama bagi orang yang pernah mengalami trauma hubungan, kesulitan percaya, atau rasa rendah diri.

Bagaimana bentuknya dalam kehidupan nyata

Fictosexuality tidak selalu muncul dengan pola yang sama pada setiap orang. Ada yang hanya memiliki satu karakter fiksi yang terus melekat, sementara yang lain tertarik pada beberapa tokoh dari media berbeda.

Salah satu kisah yang paling sering dibahas adalah Akihiko Kondo dari Jepang, yang secara terbuka menyatakan menikahi karakter virtual Hatsune Miku. Laporan yang luas menyorot bahwa Kondo sudah lama tidak menginginkan pasangan manusia dan mengaku memiliki ketertarikan kuat pada karakter fiksi.

Di komunitas daring, ekspresi perasaan ini juga muncul dalam banyak bentuk. Ada yang menulis fan fiction romantis, menggambar pasangan imajinatif, mengoleksi merchandise, merayakan ulang tahun karakter, atau memakai teknologi virtual untuk memperkuat kedekatan yang dirasakan.

Dalam kajian akademik, fictosexuality juga dibedakan dari fictoromance. Fictosexuality menekankan ketertarikan seksual terhadap karakter fiksi, sedangkan fictoromance lebih mengarah pada ketertarikan romantis tanpa unsur seksual.

Bukan diagnosis gangguan mental

Meski terdengar tidak lazim bagi sebagian orang, fictosexuality tidak otomatis dianggap sebagai gangguan mental. WHO dan American Psychiatric Association tidak mengklasifikasikan fictophilia atau fictosexuality sebagai diagnosis gangguan mental.

Patrick McGrath dari NOCD menjelaskan bahwa minat seperti ini tidak perlu dianggap patologis selama tidak mengganggu kehidupan diri sendiri maupun orang lain. Ia menekankan bahwa persoalan berbeda baru muncul jika seseorang meyakini hubungan dengan karakter fiksi itu bersifat timbal balik.

Dalam kondisi seperti itu, keyakinan bisa masuk ke wilayah delusi dan berkaitan dengan gangguan yang lebih serius. Para ahli karena itu membedakan tegas antara keterikatan emosional satu arah dan keyakinan yang mengaburkan batas fiksi serta realitas.

Studi di Frontiers in Psychology juga menegaskan bahwa fictosexuality tidak masuk dalam DSM-5 maupun ICD-11 sebagai gangguan mental. Karena bidang ini masih baru, para peneliti menilai studi lanjutan tetap dibutuhkan untuk memahami dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis dan relasi sosial.

Mengapa sorotannya terus meluas

Perkembangan internet, fandom global, media digital, kecerdasan buatan, dan dunia virtual ikut memperbesar perhatian pada fictosexuality. Karakter dalam anime dan gim kini tampil makin kompleks dan emosional, sehingga garis antara hiburan dan kedekatan personal makin sulit diabaikan.

Sejumlah peneliti melihat fenomena ini sebagai bagian dari perubahan cara manusia membangun kedekatan di era digital. Dalam ruang seperti ini, tokoh fiksi tidak lagi sekadar hiburan, tetapi juga menjadi tempat aman untuk menaruh rasa, harapan, dan bayangan tentang hubungan ideal.

Fenomena fictosexuality menunjukkan bahwa hubungan emosional manusia kini tidak selalu berhenti pada interaksi antarmanusia. Bagi sebagian orang, cinta sejati versi mereka hadir dalam sosok anime, karakter gim, atau figur virtual yang menemani setiap hari lewat layar.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button