BPA di Kemasan Plastik, Ancaman Senyap yang Bisa Mempercepat Pubertas Dini Anak

Paparan Bisphenol A atau BPA dari kemasan plastik yang dipakai berulang kali kini menjadi sorotan karena dikaitkan dengan pubertas dini pada anak. Zat ini tidak hanya hadir di kemasan makanan dan minuman, tetapi juga disebut sebagai salah satu faktor lingkungan yang dapat memengaruhi keseimbangan hormon sejak usia dini.

Prof Budi Wiweko atau Prof Iko menjelaskan bahwa pubertas dini tidak semata dipengaruhi genetik. Faktor lingkungan masih bisa ditekan melalui perubahan pola hidup dan pembatasan paparan zat tertentu, terutama zat pengganggu hormon yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

BPA dan cara kerjanya pada tubuh anak

Prof Iko menyebut BPA termasuk endocrine disruptors atau zat pengganggu hormon yang dapat ditemukan pada kemasan makanan, kemasan minuman, hingga polutan lingkungan. Senyawa ini mendapat perhatian khusus karena dapat menyerupai hormon estrogen dan bekerja pada reseptor yang sama.

Dampaknya, BPA dapat memengaruhi organ yang menjadi target hormon estrogen, termasuk rahim dan payudara. Pada paparan usia dini, organ reproduksi berpotensi berkembang lebih cepat sehingga tanda-tanda pubertas muncul lebih awal dari seharusnya.

Ia mencontohkan, anak perempuan yang terpapar BPA sejak dini bisa mengalami pertumbuhan payudara dan rahim lebih cepat. Kondisi itu membuat perkembangan fisik anak tidak sejalan dengan teman sebaya dan dapat memicu pubertas dini.

Risiko yang tidak berhenti pada perubahan fisik

Pubertas dini bukan hanya soal perubahan tubuh yang lebih cepat. Anak juga dapat menghadapi tekanan psikologis karena perubahan fisiknya muncul lebih awal dibanding lingkungan sosial di sekitarnya.

Sejumlah pakar dari Endocrine Society juga mengaitkan pubertas dini dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, gangguan psikososial, hingga kanker payudara. Karena itu, paparan BPA pada anak perlu dilihat sebagai isu kesehatan yang lebih luas, bukan sekadar persoalan kemasan plastik.

Sumber paparan yang dekat dengan keseharian

Prof Iko menekankan bahwa paparan BPA paling sering berasal dari kemasan makanan dan minuman yang digunakan setiap hari. Salah satu contoh yang disebut perlu diperhatikan adalah galon air minum, karena produk tersebut juga masuk kategori kemasan yang berpotensi menjadi sumber paparan.

Di Indonesia, BPOM RI telah menetapkan batas migrasi BPA maksimal 0,6 bagian per juta dalam kemasan pangan. Batas ini menjadi rujukan agar paparan dari kemasan tetap berada dalam ambang yang dinilai aman.

Dampak pada kesehatan reproduksi yang lebih luas

Paparan zat pengganggu hormon juga disebut berkaitan dengan kesehatan reproduksi secara umum. Prof Iko menyebut Bisphenol dan Dioksin dapat berhubungan dengan kista endometriosis, gangguan pematangan sel telur, gangguan ovulasi, kesulitan hamil, miom, hingga kanker.

Kewaspadaan juga penting pada ibu hamil, terutama pada tiga bulan pertama kehamilan. Prof Iko menegaskan bahwa masa awal kehamilan menjadi periode yang tidak boleh terpapar zat pengganggu hormon.

Peran keluarga dalam pencegahan sejak awal

Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai peningkatan kasus pubertas dini juga berkaitan dengan kesiapan keluarga mengenali tanda-tandanya sejak awal. Banyak kasus baru diketahui setelah orang tua membawa anak untuk konsultasi.

Pencegahan tidak cukup hanya dengan menghindari paparan zat tertentu. Pola hidup sehat seperti pengaturan jam tidur, pola makan, dan jenis konsumsi harian anak juga perlu dijaga agar faktor risiko bisa ditekan sejak dini.

Orang tua dapat lebih waspada dengan memperhatikan kemasan makanan dan minuman yang digunakan anak, membaca informasi produk secara cermat, serta memilih kemasan yang dinyatakan bebas BPA. Langkah sederhana ini membantu mengurangi paparan faktor lingkungan yang berpotensi memengaruhi hormon dan kesehatan reproduksi anak.

Source: www.beritasatu.com

Baca Juga

Back to top button