
Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp 17.877 per USD tidak langsung membuat harga Pertalite dan Biosolar berubah. Pemerintah memastikan BBM bersubsidi itu tetap aman, sementara publik masih mencermati dampak kurs terhadap harga energi.
Kepastian tersebut datang dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun, dan kebijakan itu sudah lebih dulu disampaikan pemerintah.
Harga belum berubah di tengah tekanan kurs
Tekanan pada rupiah memang meningkatkan perhatian pasar energi. Kurs transaksi Bank Indonesia sempat menunjukkan dolar AS di level Rp 17.877 per USD, sementara rupiah juga bergerak di kisaran psikologis Rp 17.700-Rp 17.800 per USD.
Meski begitu, pemerintah menilai pergerakan nilai tukar tidak otomatis memicu perubahan subsidi. Kebijakan harga BBM bersubsidi tetap dijaga agar tidak menambah beban masyarakat dalam waktu dekat.
Di sisi moneter, BI-Rate telah dinaikkan 50 basis poin menjadi 5,25 persen. Langkah itu ditempuh untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih terasa.
Stok BBM disebut masih aman
Selain harga, pemerintah juga menekankan kondisi pasokan yang masih terjaga. Yuliot menyebut stok Pertalite berada jauh di atas cadangan minimal, begitu pula solar CN48 yang masih melampaui standar aman.
Standar minimal stok operasional nasional berada di angka 23 hari. Untuk pasokan BBM nonsubsidi, pemerintah juga menilai ketersediaannya cukup secara nasional sehingga kebutuhan energi harian masih bisa dipenuhi.
Kondisi ini menjadi salah satu alasan pemerintah belum mengubah kebijakan harga. Selama stok berada di atas batas aman, pemerintah menilai ruang untuk menjaga stabilitas pasokan masih terbuka lebar.
Produksi dalam negeri ikut didorong
Menghadapi tekanan kurs dan dinamika pasar energi global, pemerintah mulai memperkuat sisi hulu. Yuliot menyebut peningkatan produksi minyak di dalam negeri menjadi salah satu langkah untuk menjaga ketahanan pasokan.
Pemerintah juga menyiapkan kilang di dalam negeri agar rantai pasok energi lebih kuat. Langkah ini diharapkan membantu menjaga kestabilan pasokan BBM subsidi maupun nonsubsidi saat kondisi pasar bergerak tidak menentu.
Upaya tersebut penting karena pasokan energi nasional tidak hanya bergantung pada harga, tetapi juga pada ketahanan produksi dan distribusi. Pemerintah ingin mengurangi tekanan dari faktor eksternal yang bisa memengaruhi biaya energi.
ICP masih menjadi pertimbangan
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia turut menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi masih aman hingga akhir 2026. Ia merujuk pada rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang disebut belum menyentuh batas USD 100 per barel sejak Januari 2026.
Bahlil menyebut rata-rata ICP dari Januari hingga kini masih berada di kisaran USD 80–81 per barel. Meski pada April 2026 sempat mencapai USD 117,31 per barel, pemerintah tetap menilai kondisi keseluruhan masih bisa ditopang.
Pernyataan itu menunjukkan pemerintah masih menahan penyesuaian harga Pertalite dan Biosolar di tengah kombinasi tekanan kurs, harga minyak, dan kebutuhan stabilisasi rupiah. Dengan stok yang disebut aman dan pasokan nasional yang cukup, pemerintah ingin memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terjaga.





