Rupiah Tembus Rp17.500, Bahlil Gelar Rapat Darurat Soal Nasib Harga BBM

Pelemahan rupiah ke level Rp17.500 per dolar AS membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan atas biaya energi dan subsidi BBM. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia langsung menggelar rapat darurat bersama jajaran menteri terkait untuk membahas dampaknya terhadap anggaran dan kemungkinan penyesuaian harga bahan bakar di dalam negeri.

Tekanan itu datang berbarengan dengan harga minyak dunia yang masih bertahan tinggi di atas USD 100 per barel. Kombinasi dua faktor tersebut menambah beban fiskal pemerintah karena biaya impor energi menjadi lebih mahal dan kebutuhan subsidi berpotensi ikut naik.

Rapat lintas kementerian untuk merespons tekanan kurs

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman membenarkan bahwa pembahasan lintas kementerian sedang berlangsung. Ia menyebut rapat itu digelar untuk memitigasi dampak pelemahan rupiah terhadap sektor energi dan anggaran subsidi.

Laode mengatakan pembahasan tersebut masih berjalan di level menteri. Ia meminta publik menunggu hasil pembicaraan sebelum pemerintah mengambil langkah berikutnya.

Pemerintah menilai tekanan nilai tukar tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Dampaknya juga langsung terasa pada biaya impor energi yang dibayar dengan dolar AS.

Rupiah sempat menyentuh titik terendah

Sorotan utama pemerintah tertuju pada pergerakan rupiah yang sempat turun ke Rp17.540 per dolar AS. Level itu menjadi salah satu titik terendah yang memicu kekhawatiran baru di sektor energi.

Pada Rabu pagi, rupiah bergerak tipis ke Rp17.493 per dolar AS. Meski membaik sedikit, posisinya masih menunjukkan tekanan yang kuat bagi biaya energi dan kebutuhan subsidi.

Dalam kondisi seperti ini, beban harga keekonomian energi ikut terdorong naik. Pemerintah pun harus menimbang lebih hati-hati agar gejolak kurs tidak langsung mengganggu stabilitas harga BBM.

Minyak dunia belum memberi ruang lega

Di sisi lain, harga minyak mentah internasional belum memperlihatkan pelemahan berarti. Brent tercatat di level USD 106,95 per barel, sementara WTI berada di USD 101,52 per barel.

Angka itu jauh di atas asumsi makro APBN 2026 yang memasang harga minyak di USD 70 per barel. Selisih yang lebar ini membuat ruang fiskal pemerintah makin sempit saat harus menjaga harga energi tetap stabil.

Kondisi tersebut ikut memperbesar perhatian pemerintah terhadap subsidi BBM. Jika harga minyak tetap tinggi dan rupiah terus tertekan, biaya yang ditanggung negara akan semakin berat.

Harga BBM masih dipantau pemerintah

Hingga kini, pemerintah belum mengambil keputusan soal penyesuaian harga BBM. Laode menegaskan bahwa perkembangan kurs rupiah dan harga minyak dunia masih dipantau sebelum langkah lanjutan diputuskan.

“itu masih kan belum ada info-info lain lagi kan, selain yang ada sekarang (harga BBM tidak naik), jadi kita lihat perkembangan berikutnya saja nanti,” ujarnya. Pernyataan itu menunjukkan pemerintah belum ingin tergesa-gesa mengambil keputusan di tengah tekanan pasar yang masih tinggi.

Meski begitu, rapat darurat yang dipimpin Bahlil menandakan situasi ini dipandang serius. Pemerintah kini berusaha mencegah tekanan eksternal berubah menjadi lonjakan biaya energi yang lebih besar bagi APBN dan masyarakat.

Source: www.suara.com
Terkait