Jangan Samakan Tinggi Anak dengan Haaland, Kisah Yamal dan Messi Jadi Pengingat

Postur tinggi Erling Haaland kerap membuat orangtua ingin meniru pola makan atlet profesional untuk anaknya. Namun, tinggi badan anak tidak dapat dikejar dengan satu menu atau kebiasaan tertentu karena dipengaruhi genetik, kondisi medis, nutrisi, dan pertumbuhan tulang.

Perjalanan Lamine Yamal, Lionel Messi, dan Haaland memperlihatkan tiga jalur pertumbuhan yang sangat berbeda. Perbandingan ini menjadi pengingat bahwa target utama bukan membuat anak setinggi idolanya, melainkan memastikan pertumbuhan anak berjalan sesuai potensinya.

Dokter spesialis anak subspesialis endokrinologi Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, Subsp.End., menjelaskan tinggi badan masih dapat bertambah selama lempeng epifisis belum menutup. Lempeng pada tulang ini berperan dalam proses pertambahan tinggi badan anak.

Waktu penutupan lempeng tulang tidak sama pada setiap anak. Karena itu, anak yang tampak lebih pendek dibandingkan teman sebayanya belum tentu telah berhenti tumbuh.

Yamal dan Lonjakan Tinggi pada Pubertas Akhir

Lamine Yamal menjadi contoh bahwa pertumbuhan dapat berlangsung cukup pesat pada fase pubertas akhir. Dalam bincang-bincang virtual yang dikutip Kompas.com, dr. Aman menyebut Yamal bertambah tinggi sekitar 10 sentimeter pada usia 15 hingga 17 tahun.

Kondisi seperti ini dapat ditemukan pada anak yang mengalami fase late bloomer. Pertumbuhan mereka terlihat lebih lambat daripada teman sebayanya pada suatu periode, tetapi tetap dapat berlanjut selama kondisi kesehatan dan perkembangannya dipantau dengan baik.

TokohFaktor UtamaPelajaran bagi Orangtua
Lamine YamalLonjakan pertumbuhan pada pubertas akhirAnak masih bisa tumbuh sebelum lempeng tulang menutup
Lionel MessiDefisiensi hormon pertumbuhanHambatan medis membutuhkan pemeriksaan dokter
Erling HaalandFaktor genetik keturunanDiet atlet tidak bisa diterapkan ke semua anak

Kasus Messi Bukan Sekadar Soal Menu Makan

Kisah Lionel Messi menunjukkan bahwa masalah tinggi badan tidak selalu selesai dengan menambah porsi makan. Pesepak bola Argentina itu pernah didiagnosis mengalami defisiensi hormon pertumbuhan pada masa kanak-kanak.

Kekurangan hormon tersebut membuat tinggi badan dapat tertinggal dibandingkan anak seusianya. Dalam kondisi tertentu, terapi hormon pertumbuhan dapat diberikan untuk membantu pertumbuhan, tetapi langkah ini harus didasarkan pada pemeriksaan tenaga medis.

Dr. Aman menekankan terapi hormon pertumbuhan diberikan apabila anak memang tidak tumbuh akibat kekurangan hormon. Tidak semua anak bertubuh pendek memerlukan terapi yang sama, sehingga orangtua tidak sebaiknya mengambil keputusan berdasarkan asumsi.

Riwayat pertumbuhan, kondisi tubuh, serta evaluasi dokter diperlukan untuk membedakan variasi alami dan gangguan kesehatan. Pemantauan yang tepat membantu orangtua menentukan apakah anak hanya membutuhkan waktu tumbuh lebih panjang atau perlu penanganan medis.

Genetik Haaland Tidak Bisa Ditiru Lewat Protein Berlebih

Tinggi badan Haaland juga berkaitan erat dengan faktor keturunan. Dr. Aman menjelaskan anak dari latar genetik tertentu dapat mengikuti jalur pertumbuhannya sendiri, termasuk melalui proses catch up physiologic pada usia mendekati tiga tahun.

Kecenderungan tinggi badan pada keturunan Kaukasia, misalnya, dapat berbeda dengan kurva pertumbuhan populasi lain. Membandingkan anak Indonesia dengan atlet Eropa tanpa melihat latar genetik berisiko menciptakan harapan yang tidak realistis.

Orangtua juga tidak dianjurkan mengikuti tren konsumsi protein sangat tinggi yang sering dikaitkan dengan atlet profesional. Anak tetap dapat tumbuh optimal dengan nasi atau mi sebagai makanan pokok selama kebutuhan gizi seimbang terpenuhi.

Memaksakan asupan protein hingga ratusan gram per hari dapat membebani ginjal dan berisiko memicu obesitas bila energi tidak digunakan. Perhatian utama sebaiknya diarahkan pada kecukupan nutrisi, pemantauan pertumbuhan, dan pemeriksaan dokter bila ada kekhawatiran.

Terkait