Rupiah Tembus Rp17.305, BCA Tenang Berkat Porsi Kredit Valas Hanya 4,9 Persen

Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp17.305 per dolar AS tidak membuat PT Bank Central Asia Tbk melihat adanya ancaman besar terhadap kualitas kredit. BCA menilai struktur portofolio kreditnya masih cukup aman karena porsi kredit valuta asing hanya 4,9 persen dari total kredit.

Wakil Presiden Direktur BCA John Kosasih menyebut dampak dari pelemahan rupiah terhadap perseroan saat ini masih sangat kecil. Dalam konferensi pers kinerja kuartal I 2026, ia menekankan bahwa kondisi tersebut masih dapat dikelola dengan baik oleh bank.

Porsi valas masih kecil

Komposisi kredit BCA yang didominasi mata uang domestik menjadi alasan utama mengapa pelemahan rupiah belum menekan fundamental kredit. Dengan porsi valas yang rendah, fluktuasi kurs tidak langsung memberi tekanan besar pada kualitas pembiayaan maupun kinerja perseroan.

John mengatakan, “Jadi kecil sekali saat ini [dampaknya], dan kondisinya saat ini masih terjaga dengan baik.” Pernyataan itu memperkuat pandangan bahwa pergerakan rupiah yang tajam belum mengubah kondisi kredit BCA secara material.

Di pasar, rupiah sempat terkoreksi 0,76 persen hingga menyentuh Rp17.305 per dolar AS pada pukul 09:40 WIB. Meski pelemahannya cukup terasa, BCA tetap menilai fondasi perbankan perseroan berada dalam kondisi yang terjaga.

Pada pembukaan perdagangan Jumat (24/4/2026), rupiah tercatat menguat terbatas 0,09 persen ke level Rp17.279 per dolar AS. Pergerakan itu terjadi saat indeks dolar AS masih berada di kisaran 98 dan harga minyak mentah global terus naik.

Dampak ke kredit dinilai terbatas

Bagi BCA, risiko nilai tukar belum menjadi isu yang mengganggu penyaluran kredit secara signifikan. Selama porsi kredit valas tetap rendah, gejolak rupiah tidak langsung mengubah profil risiko bank secara drastis.

John menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih berada dalam batas yang bisa dikelola. Ia juga menyampaikan bahwa jika rupiah melemah lebih jauh, pengaruhnya terhadap BCA tetap tidak signifikan.

Pandangan itu menunjukkan bahwa bank besar dengan eksposur valas yang terbatas memiliki ruang lebih aman saat rupiah bergerak volatil. Dalam situasi seperti ini, perhatian utama tetap tertuju pada pengelolaan risiko agar kualitas kredit tetap sehat.

Eksportir bisa mendapat sisi positif

Meski pelemahan rupiah sering dipandang sebagai tekanan bagi pasar, kondisi ini bisa memberi keuntungan sementara bagi sebagian eksportir. John menyebut kurs di level Rp17.300 berpotensi membuat margin eksportir membaik karena pendapatan valas yang dikonversi ke rupiah menjadi lebih tinggi.

“Kalau seandainya mereka adalah eksportir, tentu saja dengan adanya perlemahan rupiah ini malah menguntungkan,” ujarnya. Namun keuntungan itu tidak menghapus kebutuhan pelaku usaha terhadap kurs yang stabil dan mudah diprediksi.

Bagi dunia usaha, stabilitas nilai tukar tetap menjadi faktor penting dalam penyusunan anggaran dan perencanaan jangka panjang. Fluktuasi yang terlalu lebar dapat membuat biaya operasional lebih sulit dihitung dan meningkatkan ketidakpastian bisnis.

Stabilitas kurs tetap dibutuhkan

Pelemahan rupiah memang tidak selalu buruk bagi semua pelaku usaha, tetapi risiko ketidakpastian tetap lebih besar jika nilai tukar bergerak terlalu liar. Karena itu, banyak perusahaan dan perbankan tetap menempatkan stabilitas kurs sebagai kebutuhan utama.

BCA menilai struktur kredit yang seimbang membantu menjaga ketahanan perseroan menghadapi kondisi pasar yang berubah cepat. Selama porsi valas rendah dan risiko kurs terkendali, tekanan terhadap kredit diperkirakan tetap minim.

Perseroan pun menekankan bahwa kondisi saat ini masih aman untuk menjaga kualitas pembiayaan. Di tengah rupiah yang fluktuatif, fokus bank tetap berada pada pengelolaan risiko, keberlanjutan kredit, dan kemampuan memenuhi kebutuhan nasabah secara terjaga.

Baca Juga

Back to top button