Senegal Kembali Menggigit, Tradisi Emas Singa Teranga Siap Diuji Di Piala Dunia 2026

Singa Teranga kembali bergerak dengan modal yang tidak kecil. Senegal memastikan tiket ke putaran final Piala Dunia 2026 setelah menjuarai Grup B Kualifikasi Zona Afrika, lalu datang ke Amerika Utara dengan reputasi sebagai salah satu kekuatan paling stabil di sepak bola Afrika.

Kelolosan ini juga menandai tiket ketiga secara beruntun bagi Senegal ke Piala Dunia. Di tengah persaingan yang makin ketat, capaian itu membuat perjalanan Sadio Mane dan rekan-rekannya terasa bukan sekadar lolos, tetapi juga menjaga tradisi yang terus hidup.

Lolos dengan cara meyakinkan

Senegal menutup kualifikasi di puncak klasemen setelah menang 4-0 atas Mauritania pada laga terakhir. Hasil itu membuat mereka unggul dari Republik Demokratik Kongo dan mengamankan status juara grup.

Performa stabil sepanjang kualifikasi menjadi kunci utama. FIFA menilai keberhasilan Senegal sebagai kelanjutan tradisi tim yang terus hadir di level tertinggi sepak bola Afrika.

Jejak yang belum putus

Piala Dunia 2026 akan menjadi penampilan keempat Senegal di turnamen ini. Debut mereka terjadi pada 2002 di Korea Selatan dan Jepang, dan momen itu masih menjadi tonggak paling dikenang dalam sejarah tim nasional tersebut.

Pada turnamen itu, Senegal langsung mengejutkan dunia dengan mengalahkan juara bertahan Prancis 1-0 di laga pembuka. Mereka kemudian melaju hingga perempat final sebelum dihentikan Turki lewat aturan golden goal.

Sejak saat itu, perjalanan Senegal tidak selalu mulus. Pada 2018 di Rusia, mereka tersingkir karena kalah dalam hitungan fair play, lalu pada Qatar 2022 mereka menembus babak 16 besar sebelum kalah 0-3 dari Inggris.

Fondasi dari gelar Afrika

Konsistensi Senegal juga ditopang prestasi di level kontinental. Mereka menjuarai Piala Afrika 2021 yang digelar pada 2022, dan trofi itu menjadi gelar besar pertama dalam sejarah sepak bola Senegal.

Gelar tersebut memperkuat kepercayaan diri skuad dan menjadi fondasi bagi performa mereka di ajang internasional. Sejak itu, Senegal makin sulit dipandang remeh di benua Afrika.

Pape Thiaw dan generasi yang berganti

Di ruang teknis, Senegal kini dipimpin Pape Thiaw. Mantan pemain yang pernah menjadi bagian dari generasi emas Piala Dunia 2002 itu ditunjuk permanen pada akhir 2024 setelah sempat berstatus pelatih interim menggantikan Aliou Cisse.

Di bawah Thiaw, Senegal tetap menjaga daya saing dan mengamankan tiket ke Amerika Utara. Komposisi tim juga menunjukkan keseimbangan antara pemain berpengalaman dan nama-nama muda yang mulai naik ke level utama.

Andalan lama, tenaga baru

Sadio Mane tetap menjadi figur paling menonjol dalam skuad Senegal. Penyerang berpengalaman itu pernah tampil sangat berpengaruh di Liverpool pada periode 2016-2022 dan meraih gelar Liga Inggris, Liga Champions, Piala FA, serta Piala Liga Inggris.

Senegal juga masih bertumpu pada Kalidou Koulibaly sebagai kapten dan bek tangguh, Edouard Mendy di bawah mistar, serta Idrissa Gueye di lini tengah. Di saat yang sama, nama-nama seperti Pape Matar Sarr dan Lamine Camara disiapkan untuk menjadi pilar masa depan.

Skuad Senegal di Piala Dunia 2026 juga memperlihatkan kedalaman yang cukup merata di setiap lini. Di bawah Pape Thiaw, mereka membawa Edouard Mendy, Yehvann Diouf, dan Mory Diaw di posisi kiper, lalu Kalidou Koulibaly, Moussa Niakhate, Ismail Jakobs, Krepin Diatta, dan El Hadji Malick Diouf di lini belakang.

Pada sektor tengah, Senegal punya Idrissa Gana Gueye, Pathe Ciss, Lamine Camara, Pape Matar Sarr, Habib Diarra, Bara Sapoko Ndiaye, dan Pape Gueye. Untuk lini depan, mereka menyiapkan Assane Diao, Bamba Dieng, Sadio Mane, Nicolas Jackson, Cherif Ndiaye, Iliman Ndiaye, Ismaila Sarr, dan Ibrahim Mbaye.

Grup berat menanti

Senegal tergabung di Grup I bersama Prancis, Norwegia, dan Irak. Komposisi itu membuat persaingan diprediksi ketat sejak awal, terutama karena lawan-lawannya membawa karakter permainan yang berbeda.

Dengan kombinasi pengalaman, kualitas individu, dan energi generasi baru, Senegal datang ke Piala Dunia 2026 untuk memperbesar warisan yang sudah dibangun sejak 2002. Tradisi itu kini memasuki babak baru, dan Singa Teranga kembali punya panggung untuk membuktikan bahwa mereka masih layak berada di antara nama-nama besar dunia.

Source: www.suara.com

Baca Juga

Back to top button