Rupiah Stuck Di Rp17.383, Lonjakan Minyak Dunia Kembali Menekan Garuda

Rupiah bergerak tertahan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) saat pembukaan perdagangan Kamis (30/4/2026) pagi, dengan posisi di Rp17.383 per dolar AS. Tekanan utama datang dari lonjakan harga minyak mentah dunia dan kekhawatiran geopolitik di Selat Hormuz yang kembali membayangi pasar.

Kondisi itu membuat rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan indeks dolar AS yang turun 0,11 persen ke 98,85. Di saat yang sama, sentimen pasar lebih banyak dipengaruhi oleh risiko pasokan energi global setelah muncul rencana Presiden AS Donald Trump untuk memperluas blokade di kawasan Selat Hormuz.

Minyak dunia jadi sumber tekanan baru

Harga minyak Brent melonjak 6,08 persen ke US$118,03 per barel pada pukul 07:03 WIB. Lonjakan setajam ini memicu kekhawatiran pasar terhadap biaya energi yang lebih tinggi dan dampaknya terhadap ekonomi negara-negara pengimpor minyak.

Bagi rupiah, pergerakan tersebut menjadi sinyal negatif karena Indonesia masih dipersepsikan sebagai negara pengimpor minyak. Setiap kenaikan harga minyak cenderung dibaca pasar sebagai ancaman terhadap neraca perdagangan, subsidi energi, inflasi, dan kebutuhan valas.

Risiko geopolitik membuat pasar lebih hati-hati

Tekanan eksternal itu juga tercermin di pasar mata uang Asia yang bergerak tidak seragam. Won Korea Selatan dan yen Jepang menguat terbatas, sementara baht Thailand dan ringgit Malaysia melemah 0,21 persen.

Pola tersebut menunjukkan investor masih menimbang ketidakpastian pasokan energi dan risiko geopolitik. Dalam suasana seperti ini, pelaku pasar cenderung mencari aset yang dianggap lebih aman sambil mengurangi eksposur ke mata uang negara berkembang.

Obligasi domestik ikut kena imbas

Di pasar obligasi domestik, aksi lepas juga terjadi dan mendorong kenaikan imbal hasil di hampir seluruh tenor. Imbal hasil acuan tenor 10 tahun naik ke 6,83 persen, sedangkan tenor 1 tahun kembali menyentuh 6 persen.

Pergerakan itu memperlihatkan tekanan pasar tidak hanya terjadi di valas, tetapi juga merambat ke instrumen pendapatan tetap. Sensitivitas investor terhadap isu subsidi energi ikut memperbesar tekanan pada aset keuangan domestik.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kenaikan minyak dunia memberi tekanan kuat karena pasar menempatkan Indonesia sebagai pihak yang rentan terhadap lonjakan biaya energi. Ia mengatakan pasar langsung mengaitkan kenaikan harga minyak dengan risiko fiskal dan eksternal.

“Sehingga setiap kenaikan minyak langsung dibaca pasar sebagai risiko terhadap neraca perdagangan, subsidi energi, inflasi, dan kebutuhan valas,” kata Josua Pardede.

Permintaan dolar masih menjadi beban tambahan

Selain faktor minyak, rupiah juga menghadapi tekanan dari tingginya permintaan dolar di pasar domestik. Permintaan itu muncul untuk kebutuhan pembayaran impor dan repatriasi dividen, sehingga menambah beban pada pergerakan mata uang rupiah.

Josua juga menyoroti kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan biaya pengiriman barang di tengah konflik geopolitik. Menurut dia, beban itu dapat memperburuk persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan kebutuhan pembiayaan dalam negeri.

“Permintaan dolar musiman, serta ada kekhawatiran investor terhadap dampak kenaikan minyak ke subsidi energi dan kondisi fiskal,” ujarnya.

Pada perdagangan sebelumnya, rupiah di pasar spot sempat menyentuh rekor terendah sepanjang masa di Rp17.330 per dolar AS. Josua menekankan pentingnya aliran modal asing ke instrumen SBN dan SRBI agar rupiah mendapat dukungan yang lebih kuat.

Dengan tekanan dari harga minyak, risiko geopolitik, dan permintaan dolar yang masih tinggi, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah. Estimasi perdagangan hari ini berada di kisaran Rp17.250 hingga Rp17.350 per dolar AS selama sentimen pasar belum menunjukkan perbaikan yang berarti.

Terkait