Kejurnas Angkat Besi Semarang Memasang Standar Ketat demi Mencari Penerus Eko Yuli

Jalur menuju pemusatan latihan nasional kini diperebutkan lewat standar angkatan yang lebih ketat di Kejurnas Angkat Besi Remaja dan Junior 2026. Para lifter muda tidak cukup hanya hadir dan bertanding, karena mereka harus memenuhi Minimal Angkatan Pertama atau MAP pada setiap kelas.

Aturan tersebut menjadikan kejuaraan di Semarang sebagai panggung seleksi yang lebih terukur bagi atlet-atlet daerah. Hasilnya dapat menjadi bahan pemantauan untuk menemukan calon lifter yang berpeluang berkembang sebagai andalan Indonesia.

Kejuaraan ini berlangsung di Hotel Khas Semarang, Jawa Tengah, pada 22-24 Juli. Sebanyak 297 lifter dan ofisial dari 23 daerah mengikuti persaingan kelompok remaja dan junior, baik putra maupun putri.

Komposisi peserta terdiri atas 105 lifter remaja, 115 lifter junior, serta 77 ofisial. Partisipasi dari berbagai daerah itu memperlihatkan luasnya basis pembinaan angkat besi usia muda di Indonesia.

MAP Menjadi Pintu Awal Kompetisi

PB PABSI menerapkan MAP yang berbeda pada setiap kelas berat badan. Standar ini menetapkan batas minimum angkatan snatch dan clean and jerk untuk percobaan pertama seorang lifter.

Sekjen PB PABSI Djoko Pramono menjelaskan bahwa ketentuan itu dibuat agar persaingan lebih kompetitif. Regulasi tersebut juga menyesuaikan perubahan kelas pertandingan yang ditetapkan Federasi Angkat Besi Dunia atau IWF.

“Diharapkan dari kejurnas ini akan muncul lifter-lifter muda potensial yang kelak bisa dipanggil ke Pelatnas,” kata Djoko Pramono. Ia menilai kejuaraan ini juga penting untuk memantau perkembangan pembinaan lifter remaja dan junior di daerah.

Pada kelompok remaja putra, MAP meningkat sejalan dengan kenaikan kelas berat badan. Kelas di atas 70 kg memiliki batas awal tertinggi, yakni 85 kg untuk snatch dan 105 kg pada clean and jerk.

Kelas Remaja PutraSnatchClean and Jerk
56 kg55 kg70 kg
60 kg65 kg80 kg
65 kg75 kg90 kg
70 kg80 kg100 kg
+70 kg85 kg105 kg

Standar remaja putri dimulai dari kelas 45 kg dengan MAP 30 kg snatch dan 40 kg clean and jerk. Syarat tertinggi ditempatkan pada kelas di atas 57 kg, yaitu 50 kg snatch dan 60 kg clean and jerk.

Kelas Remaja PutriSnatchClean and Jerk
45 kg30 kg40 kg
49 kg35 kg45 kg
53 kg40 kg50 kg
57 kg45 kg55 kg
+57 kg50 kg60 kg

Kelompok Junior Menghadapi Target Lebih Tinggi

Persaingan pada kelompok junior menuntut kapasitas angkatan awal yang lebih besar dibandingkan kategori remaja. Untuk junior putra, MAP tertinggi berada di kelas di atas 75 kg dengan 95 kg snatch dan 115 kg clean and jerk.

Kelas Junior PutraSnatchClean and Jerk
60 kg75 kg95 kg
65 kg80 kg100 kg
70 kg85 kg105 kg
75 kg90 kg110 kg
+75 kg95 kg115 kg

Di junior putri, kelas 49 kg dipatok dengan MAP 45 kg pada snatch dan 55 kg pada clean and jerk. Kelas di atas 61 kg menjadi kelas dengan standar tertinggi, yakni 70 kg snatch serta 90 kg clean and jerk.

Kelas Junior PutriSnatchClean and Jerk
49 kg45 kg55 kg
53 kg50 kg60 kg
57 kg55 kg70 kg
61 kg60 kg80 kg
+61 kg70 kg90 kg

Selain medali di masing-masing kelas, penyelenggara menyiapkan penghargaan untuk lifter terbaik putra dan putri pada kelompok remaja maupun junior. Penghargaan itu menjadi tambahan motivasi bagi atlet yang ingin menonjol di tengah persaingan lintas daerah.

Dukungan pembinaan juga datang dari Pupuk Indonesia melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan. SVP TJSL Pupuk Indonesia Frans Adisuranta Ginting mengatakan, “Kami harapkan melalui angkat besi ini, kami bisa melakukan pemberdayaan masyarakat dan kami mendukung PABSI agar lebih banyak lagi melahirkan atlet berprestasi.”

Dengan standar MAP, PB PABSI dapat melihat kesiapan lifter daerah berdasarkan ukuran yang lebih seragam. Kejurnas ini pun menjadi salah satu pintu bagi talenta muda untuk dipantau menuju Pelatnas Angkat Besi.

Source: sport.detik.com
Terkait