Rupiah kembali berada di bawah tekanan besar setelah menyentuh level all-time low 17.669 per dolar AS pada perdagangan intraday Senin (18/5). Mata uang ini kemudian ditutup di 17.656, membuat pelemahannya sejak awal tahun mencapai -5,8% dan menempatkannya sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia.
Pelemahan itu tidak berdiri sendiri. Pasar kini semakin waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, sementara harga minyak yang tetap tinggi dan data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan ikut memperkuat sentimen negatif terhadap aset emerging markets.
Dolar AS Makin Kuat, Tekanan ke Rupiah Meningkat
Ekspektasi kebijakan The Fed menjadi pendorong utama penguatan dolar AS. Harga minyak Brent naik sekitar +0,6% ke US$110 per barrel pada Senin sore setelah insiden drone di Uni Emirat Arab dan Arab Saudi, sehingga pasar kembali khawatir inflasi global akan bertahan lebih panas dari perkiraan.
Dari Amerika Serikat, Biro statistik tenaga kerja AS mencatat inflasi IHK April 2026 sebesar 3,8% YoY. Angka itu berada di atas konsensus 3,7%, lebih tinggi dibanding inflasi Maret 2026 sebesar 3,3% YoY, dan menjadi level tertinggi sejak Mei 2023.
Setelah data tersebut dirilis, CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas The Fed menaikkan suku bunga setidaknya 25 bps ke 3,75–4% hingga akhir 2026 naik menjadi sekitar 51%. Sepekan sebelumnya, probabilitas itu masih 21%, menandakan pasar kini jauh lebih agresif dalam memprice-in arah kebijakan The Fed.
Indeks dolar AS atau DXY juga ikut menguat +1,19% WoW ke level 99,1 pada Senin sore. Penguatan ini menekan rupiah dan memberi tekanan tambahan ke berbagai instrumen pasar di negara berkembang.
Pasar Domestik Ikut Merasakan Dampaknya
Tekanan di valuta asing langsung merembet ke pasar domestik. Yield obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik +11 bps ke 6,81% pada Senin, sementara IHSG melemah -1,85% ke 6.599,2 dengan outflow asing sebesar Rp464,0 miliar.
Sentimen komoditas juga belum membantu. Harga minyak yang bertahan tinggi dinilai berpotensi menambah tekanan inflasi global, sedangkan emas turun -0,29% ke 4.549, meski coal menguat +2,51% ke 135,0 dan CPO naik +2,49% ke 4.530.
Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung menunggu sinyal yang lebih jelas dari bank sentral AS. Selama ekspektasi rate hike The Fed tetap tinggi, aset berisiko di emerging markets masih rawan bergerak liar.
BI Menatap Volatilitas, Bukan Hanya Level Rupiah
Bank Indonesia memantau pelemahan rupiah dengan fokus pada volatilitas, bukan semata level absolut. Perry Warjiyo menyebut BI menggunakan rata-rata pergerakan 20 hari sebagai acuan dalam membaca arah rupiah.
Dalam rapat bersama DPR pada Senin (18/5), Perry mengatakan BI optimistis rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tahun ini bisa kembali menguat ke 16.500. Ia juga menyebut rentang rata-rata sekitar 16.200–16.800 seperti yang diasumsikan dalam APBN 2026.
Perry menilai tekanan rupiah secara historis memang kuat pada kuartal kedua karena permintaan dolar AS cenderung lebih tinggi, terutama dari musim pembagian dividen. Setelah itu, rupiah biasanya menguat pada kuartal berikutnya.
Meski begitu, Perry juga menyebut pelemahan rupiah -5,8% YTD masih tergolong terkendali. Di sisi lain, konsensus yang dihimpun Bloomberg menunjukkan median estimasi BI Rate hingga akhir 2026 kini berada di level 5%, yang mengindikasikan ekspektasi kenaikan suku bunga sebesar +25 bps.
Tekanan Belum Selesai
Narasi kenaikan suku bunga The Fed tidak hanya membebani rupiah, tetapi juga menekan pasar berkembang secara lebih luas. Pelemahan indeks saham, kenaikan yield obligasi, dan tekanan terhadap mata uang regional menunjukkan bahwa arus sentimen global masih sangat sensitif terhadap arah kebijakan AS.
Bagi pasar Indonesia, kombinasi dolar AS yang kuat dan harga energi yang tinggi membuat rupiah tetap rentan. Selama ekspektasi rate hike The Fed bertahan di level tinggi, tekanan terhadap aset domestik berisiko terus berlanjut.
Source: snips.stockbit.com






