PDB per kapita Indonesia diperkirakan naik tipis pada 2026, tetapi laju kenaikannya tidak setinggi pertumbuhan ekonomi nominal yang diproyeksikan S&P Global Ratings. Penyebab utamanya adalah pelemahan rupiah yang menahan nilai pendapatan rata-rata dalam dolar AS.
Dalam laporan yang dikutip CNBC Indonesia pada Senin (13/7/2026), S&P memperkirakan PDB per kapita Indonesia mencapai US$5.200 pada 2026, dari US$5.100 pada 2025. Di saat yang sama, pertumbuhan PDB nominal Indonesia diperkirakan mencapai 8,3%.
Rupiah Membatasi Kenaikan dalam Dolar AS
S&P menjelaskan bahwa depresiasi rupiah membuat pertumbuhan pendapatan rata-rata warga Indonesia dalam dolar AS bergerak lebih lambat. Artinya, meski ekonomi domestik tetap tumbuh, hasilnya tidak sepenuhnya tercermin pada ukuran per kapita dalam mata uang global.
Tekanan nilai tukar itu menjadi faktor utama yang membuat kenaikan PDB per kapita Indonesia terlihat terbatas. Namun, S&P menilai tren pertumbuhan pendapatan Indonesia tetap solid dan masih lebih baik daripada sebagian besar ekonomi dengan tingkat pendapatan yang serupa.
| Indikator | 2025 | 2026 |
|---|---|---|
| PDB per kapita Indonesia | US$5.100 | US$5.200 |
| Pertumbuhan PDB nominal | – | 8,3% |
| Pertumbuhan tren pendapatan | – | 3,9% |
Stabilitas Politik dan Kebijakan Masih Menopang
Selain faktor kurs, S&P juga menyoroti kondisi politik Indonesia yang dinilai masih stabil. Lembaga pemeringkat itu menyebut institusi politik dan kebijakan di Indonesia secara umum stabil dan bebas dari tantangan terhadap legitimasinya.
Penilaian tersebut juga didukung oleh kebijakan pemerintah yang selama bertahun-tahun memprioritaskan stabilitas ekonomi dan keuangan. CNBC Indonesia mencatat, pemerintah juga berupaya meningkatkan transparansi melalui interaksi dan berbagi informasi secara teratur dengan pelaku pasar keuangan.
S&P menambahkan bahwa para pembuat kebijakan Indonesia mulai lebih fleksibel saat menyesuaikan kebijakan bila diperlukan. Salah satu contohnya adalah pemotongan pengeluaran besar untuk menjaga defisit tetap di bawah ambang batas tahun ini.
Dengan kombinasi pertumbuhan ekonomi, stabilitas kebijakan, dan tekanan dari depresiasi rupiah, PDB per kapita Indonesia pada 2026 tetap diperkirakan naik. Meski begitu, levelnya masih berada di bawah sebagian besar negara berperingkat investasi lainnya.
