Pasar keuangan Indonesia kembali menunjukkan sinyal rapuh saat rupiah sempat jebol ke Rp18.110 per dolar AS dan IHSG anjlok 3,23% pada awal perdagangan. Dua pasar utama ini bergerak searah di zona tekanan, meski otoritas moneter dan fiskal baru saja memberi sinyal koordinasi yang lebih kuat.
Respons pasar tampak jelas: investor belum sepenuhnya yakin bahwa jurus baru Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan akan cepat meredakan tekanan. Di bursa, aksi jual masih dominan, sementara di pasar valas, pelemahan rupiah menandakan pelaku pasar masih menunggu bukti nyata dari kebijakan yang dijanjikan.
Rupiah masih jadi titik paling sensitif
Pada perdagangan pagi, rupiah tercatat melemah 104 poin atau 0,58% dibandingkan penutupan sebelumnya. Posisi Rp18.110 per dolar AS menjadi penanda bahwa tekanan terhadap mata uang Garuda belum mereda.
Kondisi itu muncul di tengah komitmen pemerintah dan BI untuk menjaga stabilitas. Namun pasar tampaknya belum mau memberi respons positif hanya dari pernyataan koordinasi, karena fokus utama masih tertuju pada hasil yang bisa langsung dirasakan.
Arus modal global yang sensitif terhadap arah suku bunga juga ikut menambah tekanan. Pelaku pasar terlihat menimbang apakah aset rupiah masih cukup menarik untuk menahan keluarnya dana asing.
IHSG ikut terbawa gelombang jual
Di pasar saham, IHSG dibuka turun 3,23% atau 180,89 poin ke level 5.413. Data RTI Business menunjukkan indeks sempat bergerak di level tertinggi harian 5.490, sebelum turun hingga menyentuh 5.370.
Tekanan jual terjadi cukup merata. Sebanyak 532 saham melemah, hanya 53 saham yang menguat, dan 114 saham tidak bergerak.
Pelemahan ini memperlihatkan bahwa investor belum melihat cukup alasan untuk kembali masuk agresif ke saham. Saat rupiah tertekan, sentimen di bursa cenderung ikut memburuk karena pasar membaca risiko domestik dan eksternal secara bersamaan.
Jurus BI dan Kemenkeu sedang diuji
Perry Warjiyo sebelumnya menyebut ada dua langkah utama untuk memperkuat stabilitas. Langkah itu mencakup peningkatan daya tarik instrumen keuangan domestik agar investor asing kembali masuk ke saham, SBN, dan SRBI, serta menjaga kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan.
Perry juga menyoroti kenaikan suku bunga global yang telah mendorong arus modal keluar dari berbagai instrumen investasi di Indonesia. Ia menegaskan, fiskal dan moneter harus sama-sama meningkatkan daya tarik imbal hasil supaya inflows kembali masuk besar dan mendukung stabilitas rupiah.
Namun pasar belum langsung memberi kredit penuh pada strategi itu. Yang dicari investor bukan hanya sinyal kebijakan, melainkan kepastian bahwa instrumen rupiah benar-benar mampu menawarkan imbal hasil yang menarik tanpa menambah risiko baru.
Imbal hasil tinggi belum cukup tanpa kepercayaan
Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai kebijakan baru tersebut lebih tepat dibaca sebagai upaya menahan pelemahan rupiah. Ia menilai strategi itu belum otomatis menjamin penguatan yang berkelanjutan.
Menurut Josua, kenaikan imbal hasil aset rupiah memang bisa menarik dana asing kembali ke SBN dan SRBI. Tetapi efektivitasnya tetap bergantung pada tingkat kepercayaan investor terhadap kondisi ekonomi domestik.
Ia menyebut, jika pemodal masih melihat risiko kebijakan domestik tinggi, kenaikan imbal hasil hanya akan menjadi kompensasi risiko, bukan pemulihan kepercayaan. Pandangan itu menjelaskan mengapa pasar cenderung berhati-hati meski ada koordinasi yang lebih erat antara otoritas moneter dan fiskal.
Likuiditas dan disiplin kebijakan ikut menentukan
Selain imbal hasil, kecukupan likuiditas di pasar keuangan dan perbankan juga menjadi perhatian. Josua menilai tekanan terhadap rupiah kerap membesar saat pelaku pasar berebut likuiditas dan perbankan menjadi lebih hati-hati menyalurkan dana.
Ia menekankan bahwa likuiditas yang memadai bisa menjaga fungsi pasar uang, mendukung kredit, dan memperkuat operasi moneter BI. Tetapi kebijakan itu harus tetap seimbang, karena likuiditas yang terlalu ketat dapat menekan ekonomi riil, sedangkan likuiditas yang terlalu longgar saat rupiah melemah bisa mendorong permintaan valas.
Pada akhirnya, penguatan rupiah yang lebih tahan lama masih bergantung pada faktor yang lebih mendasar. Disiplin APBN, arah kebijakan ekonomi yang jelas, redanya tekanan global, harga minyak yang terkendali, cadangan devisa yang kuat, dan persepsi investor yang membaik tetap menjadi syarat penting agar pasar kembali percaya.
Source: www.suara.com






