Pelemahan rupiah dan jatuhnya IHSG bukan hanya mengguncang pasar, tetapi juga memperlebar tekanan politik yang mengarah ke Presiden Prabowo Subianto. Di saat investor asing mulai kehilangan keyakinan, media asing ikut menyorot rapuhnya posisi pemerintah dan membuka kembali ruang kritik dari tokoh oposisi seperti Anies Baswedan.
The Straits Times dari Singapura menyebut Prabowo menghadapi kritik yang makin tajam di tengah pelemahan ekonomi. Media itu menilai pasar yang goyah dan berkurangnya kepercayaan investor asing membuat pemerintah berada dalam posisi yang lebih rentan terhadap tekanan publik.
Rupiah dan IHSG Sama-sama Tertekan
Nilai tukar rupiah terus melemah terhadap dolar AS hingga penutupan perdagangan, Senin 8 Mei 2026. Berdasarkan data kompilasi pasar spot Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 18.187 per dolar AS, turun 151 poin atau setara 0,8 persen.
Di pasar saham, IHSG juga tak mampu bertahan. Indeks ditutup melemah 4,52 persen ke level 5.342 seiring arus keluar modal asing yang menambah tekanan di bursa.
Investor Asing Mulai Menarik Diri
Riset Phintraco Sekuritas menyebut pelemahan IHSG dipicu hilangnya kepercayaan investor asing terhadap pasar saham Indonesia. Kondisi ini membuat sentimen pasar kian rapuh karena pelaku modal cenderung bersikap hati-hati saat risiko meningkat.
Phintraco juga menyoroti faktor eksternal yang ikut menekan pasar. Mereka menyebut sentimen Iran dan Israel saling melakukan serangan sehingga mengancam gencatan senjata yang rapuh.
Kenaikan harga minyak mentah lebih dari 4 persen juga menjadi perhatian. Menurut Phintraco, lonjakan itu dapat memicu risiko inflasi lanjutan dan berpotensi memperlebar defisit APBN 2026 jika tekanan terus memburuk.
Anies Muncul di Tengah Tekanan Politik
Di saat ekonomi melemah, sejumlah figur politik mulai aktif mengkritik pemerintah. Salah satu nama yang kembali disorot adalah Anies Baswedan, yang mulai melontarkan kritik terkait ketidakpastian ekonomi nasional.
Langkah itu dipandang bukan sekadar respons atas kondisi pasar. Pengamat politik menilai manuver tersebut sebagai upaya membangun kembali basis dukungan sekaligus menguji respons publik terhadap pemerintahan Prabowo.
Peta Persaingan Menuju 2029 Mulai Menghangat
Meski Pemilihan Presiden 2029 masih jauh, dinamika politik disebut mulai menghangat. Sorotan publik terhadap kondisi ekonomi membuat kebijakan pemerintah menjadi bahan perdebatan yang semakin terbuka di ruang politik.
Dalam situasi seperti ini, kinerja ekonomi berpotensi menjadi faktor penentu arah persaingan politik nasional. Jika tekanan terhadap rupiah, pasar saham, dan kepercayaan investor terus berlanjut, ruang kritik terhadap pemerintah juga bisa makin besar dan ikut membentuk peta kekuatan menuju 2029.
Source: www.suara.com