Royal Enfield akhirnya masuk ke era motor listrik lewat sub-merek Flying Flea, dan model pertamanya langsung membawa identitas yang sangat berbeda dari motor listrik kebanyakan. FF.C6 tampil retro, tetapi di balik desain klasik itu tersimpan paket teknologi modern yang diarahkan untuk kebutuhan harian di kota.
Langkah ini penting karena Royal Enfield selama ini dikenal lewat motor yang mengandalkan karakter berkendara dan desain ikonik. Kehadiran FF.C6 memperlihatkan bagaimana merek asal Inggris itu mulai bergerak ke elektrifikasi tanpa melepaskan citra premium dan gaya lawas yang sudah lama melekat.
Desain klasik yang tetap terasa modern
FF.C6 mengambil inspirasi dari motor Flying Flea yang pernah dipakai pasukan terjun payung Inggris pada Perang Dunia II. Wujudnya dibuat seperti cruiser bergaya retro, dengan lampu depan bulat, spion bulat, bodi mirip tangki motor sport naked lawas, dan jok tunggal.
Di sisi teknis, motor ini sudah dibekali rem cakram di depan dan belakang. Suspensi belakangnya memakai monoshock yang terhubung langsung ke rangka dan swing arm, sementara bagian kaki-kaki menggunakan pelek alloy berwarna hijau tua yang senada dengan bodi.
Komponen inti motor listrik juga ditempatkan rapi di bawah bodi, termasuk baterai dan perangkat penggerak. Perpaduan itu membuat FF.C6 tetap mempertahankan bahasa desain klasik, tetapi tidak tertinggal dalam urusan teknologi dasar kendaraan listrik.
Jarak tempuh yang cukup untuk mobilitas kota
Salah satu daya tarik utama FF.C6 ada pada klaim jarak tempuhnya yang mencapai 154 kilometer berdasarkan standar Indian Driving Cycle (IDC). Angka ini membuat motor listrik pertama Royal Enfield tersebut terlihat cukup relevan untuk penggunaan harian di area perkotaan.
Soal pengisian daya, baterainya disebut cukup efisien. Dari kondisi 20 persen ke 80 persen, waktu isi ulang diklaim sekitar 65 menit.
Untuk pengisian penuh dari 0 ke 100 persen, waktunya diklaim selesai dalam lebih dari dua jam. Kombinasi jarak tempuh dan waktu isi ulang itu memberi FF.C6 posisi yang menarik di tengah kebutuhan pengguna kota yang menginginkan motor listrik praktis.
Sudah mulai didistribusikan di India
Electrek melaporkan bahwa Flying Flea FF.C6 sudah mulai didistribusikan di pasar India untuk mendukung kebutuhan konsumen perkotaan. Distribusi awalnya masih terbatas di wilayah Bengaluru, tetapi langkah ini menandai awal kehadiran resmi Royal Enfield di segmen kendaraan listrik.
Di India, FF.C6 diposisikan sebagai motor listrik premium yang menyasar konsumen berorientasi gaya hidup. Targetnya bukan hanya mereka yang mencari alat transportasi harian, tetapi juga pembeli yang menginginkan produk dengan karakter visual dan identitas merek yang kuat.
Harga dan posisi pasar
Masuknya Royal Enfield ke segmen kendaraan listrik dinilai penting karena pasar skuter listrik memang berkembang pesat di berbagai negara Asia, sementara segmen motor listrik masih relatif kecil dibanding kendaraan bermesin konvensional. Situasi itu membuat FF.C6 hadir di ruang pasar yang belum terlalu padat, tetapi tetap menantang.
Royal Enfield juga menyebut ekspor sebagai salah satu fokus utama pengembangan Flying Flea. Namun, perusahaan belum mengungkap pasar internasional mana yang akan menjadi tujuan berikutnya.
Di India, Flying Flea FF.C6 dibanderol sekitar 279.000 rupee atau sekitar Rp52,7 jutaan. Harga itu menegaskan posisinya sebagai motor listrik premium yang menggabungkan desain klasik, teknologi baru, dan ambisi elektrifikasi dari salah satu nama paling ikonik di dunia roda dua.







