
Ricuh yang terjadi pada laga Elite Pro Academy U-20 antara Bhayangkara FC dan Dewa United di Stadion Citarum, Semarang, langsung menyita perhatian publik karena pertandingan berakhir dengan insiden panas. Laga pada matchday ke-33 itu bukan hanya ramai karena hasil di lapangan, tetapi juga karena video kericuhan pemain dan staf pelatih beredar luas.
Dari rekaman yang tersebar, situasi tampak memanas setelah Bhayangkara FC menelan kekalahan. Muncul dugaan adanya tindakan kekerasan dari oknum staf ofisial tim terhadap pemain lawan, sehingga sorotan tidak lagi tertuju pada permainan, melainkan pada perilaku yang dianggap melampaui batas sportivitas.
Kericuhan di level pembinaan muda jadi sorotan
Insiden ini memicu keprihatinan besar karena terjadi di kompetisi usia muda yang seharusnya menjadi ruang belajar. EPA U-20 dibentuk untuk membangun disiplin, teknik, dan mental bertanding pemain muda, bukan menjadi tempat pelampiasan emosi ketika pertandingan berjalan tidak sesuai harapan.
Kericuhan di Semarang juga memunculkan pertanyaan soal kontrol diri di lingkungan pembinaan. Jika tensi pertandingan sampai berubah menjadi insiden fisik, maka dampaknya tidak hanya dirasakan tim yang terlibat, tetapi juga citra kompetisi yang seharusnya mendidik.
Situasi semacam ini menjadi lebih sensitif karena pemain U-20 masih berada dalam fase perkembangan. Dalam konteks itu, tindakan di lapangan bisa menjadi contoh langsung yang mereka serap dari orang-orang dewasa di sekitarnya.
Firman Utina kritik keras pelatih Bhayangkara U-20
Legenda Timnas Indonesia, Firman Utina, ikut menanggapi peristiwa tersebut dengan nada tegas. Ia menyasar perilaku oknum pelatih kiper Bhayangkara FC U-20 yang disebut terlibat dalam kericuhan dan menilai tindakan itu tidak layak dilakukan oleh seorang pelatih.
Firman menekankan bahwa pelatih seharusnya menjadi teladan di lapangan. Kekecewaannya terlihat dari pernyataannya yang menyebut, “Kamu tuh pelatih, bukan pemain. Makanya kursus jangan tidur supaya belajar sama-sama. Ini bukan zaman lo main. Nanti kita ketemu ya, coach,” yang memperlihatkan kritik keras terhadap keterlibatan staf pelatih dalam pertikaian.
Pernyataan tersebut juga menegaskan pentingnya fungsi pelatih di level akademi. Dalam pembinaan pemain muda, pelatih tidak hanya bertugas menyusun strategi, tetapi juga membentuk sikap, karakter, dan cara menghadapi tekanan pertandingan.
Perhatian juga tertuju pada Rakha Nurkholis
Selain mengecam dugaan kekerasan yang melibatkan pihak Bhayangkara FC U-20, Firman juga memberi perhatian kepada pemain Dewa United U-20, Rakha Nurkholis, yang disebut menjadi korban dalam insiden itu. Ia menyampaikan doa singkat agar Rakha segera pulih, sekaligus menyoroti pentingnya keselamatan pemain muda di setiap pertandingan.
Dukungan tersebut memperkuat pandangan bahwa kasus ini tidak bisa diperlakukan sebagai keributan biasa. Pada level usia muda, perlindungan terhadap pemain harus menjadi prioritas karena mereka masih berada dalam fase belajar menghadapi tekanan kompetisi.
Kehadiran staf pelatih dalam dugaan kekerasan membuat masalah ini dianggap lebih serius. Saat pelatih ikut terpancing emosi, pesan yang tertanam pada pemain muda bisa keliru karena mereka melihat langsung contoh perilaku yang tidak seharusnya ditiru.
Komdis PSSI belum keluarkan keputusan
Hingga kini, Komisi Disiplin PSSI belum mengeluarkan keputusan resmi terkait sanksi atas insiden di Stadion Citarum. Kondisi itu membuat perhatian publik masih tertuju pada langkah lanjutan dari otoritas sepak bola nasional terkait kasus yang sudah terlanjur meluas.
Kasus ricuh di Semarang juga kembali membuka pembahasan tentang pentingnya pengendalian emosi di kompetisi kelompok usia muda. Di tengah dorongan mengejar prestasi, sepak bola pembinaan tetap membutuhkan kedewasaan, kontrol diri, dan rasa hormat kepada lawan agar tujuan pembentukan talenta tidak melenceng dari jalurnya.





