RI Dibanjiri 3.100 Serangan DDoS per Hari, Tebusan Jadi Senjata Utama Pelaku

Author: Cung Media

Indonesia tengah menghadapi lonjakan serangan DDoS yang tidak lagi sekadar mengganggu layanan, tetapi juga berubah menjadi alat pemerasan. Pada kuartal I/2026, StormWall mencatat lebih dari 280.000 serangan yang berhasil dimitigasi, atau sekitar 3.100 serangan per hari yang menargetkan organisasi di Tanah Air.

Angka itu menunjukkan tekanan serangan yang tinggi di Indonesia, dengan motif finansial menjadi pendorong utama. StormWall menyebut sekitar 70% serangan DDoS di Indonesia bermotif uang, dan 41% di antaranya disertai tuntutan tebusan.

Tebusan Lebih Sering Muncul di Indonesia

Porsi serangan yang menuntut tebusan di Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata global. Dalam laporan itu, angka Indonesia mencapai 41%, sedangkan secara global berada di kisaran 30%.

Pola ini memperlihatkan bahwa pelaku tidak hanya ingin membuat layanan lumpuh, tetapi juga menekan korban agar membayar supaya serangan berhenti. Kondisi tersebut menjadi risiko besar bagi organisasi yang belum memiliki perlindungan DDoS memadai.

Serangan Makin Lama dan Sulit Dideteksi

Serangan di Indonesia juga cenderung berlangsung lebih lama. Hanya 62% serangan yang selesai dalam waktu kurang dari lima menit, sementara secara global proporsinya mencapai sekitar 78%.

Pendiri sekaligus CEO StormWall Ramil Khantimirov mengatakan pelaku kini menggunakan pola low-and-slow probing. Serangan berintensitas rendah ini dibuat bertahap agar lalu lintas tetap berada di bawah ambang deteksi sebelum serangan utama diluncurkan.

Strategi seperti itu memberi pelaku ruang untuk mencari titik lemah sistem lebih dulu. Bagi organisasi yang tidak punya pertahanan DDoS yang andal, pola ini bisa meningkatkan risiko gangguan layanan secara signifikan.

Teknik Serangan Semakin Berlapis

Laporan StormWall juga menunjukkan serangan multi-vector di Indonesia naik 47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Saat ini, sekitar 62% dari seluruh serangan menggabungkan dua atau lebih vektor serangan, dan 26% memakai tiga vektor atau lebih secara bersamaan.

Di saat yang sama, serangan probing meningkat 81% secara tahunan. Metode carpet bombing juga naik 76%, yakni teknik yang menyebarkan lalu lintas serangan ke banyak alamat IP dalam satu jaringan.

Kenaikan beberapa pola serangan sekaligus mengindikasikan pelaku makin agresif dalam mencari celah. Situasi ini membuat pertahanan yang hanya mengandalkan satu lapisan perlindungan semakin sulit diandalkan.

Telekomunikasi dan Hiburan Jadi Target Utama

Dari sisi sektor, telekomunikasi menjadi target terbesar dengan porsi 26% dari total lalu lintas serangan. Industri hiburan berada di posisi berikutnya dengan 22%, disusul sektor keuangan sebesar 17%.

StormWall menilai sektor hiburan di Indonesia jauh lebih dominan menjadi sasaran dibandingkan tren global. Secara global, hanya sekitar 9% serangan DDoS yang menyasar industri tersebut.

Perbedaan itu menunjukkan pola serangan di Indonesia tidak selalu sama dengan tren internasional. Di tingkat global, kuartal pertama 2026 lebih banyak dipicu aksi hacktivisme yang berkaitan dengan konflik di Timur Tengah, sementara di Indonesia orientasinya cenderung mengarah pada keuntungan finansial.

Temuan ini menjadi peringatan bagi organisasi di Indonesia agar memperkuat kesiapan menghadapi serangan yang makin sering, lebih lama, dan lebih berlapis. Kemampuan mendeteksi pola awal serangan menjadi semakin penting untuk menekan risiko gangguan layanan dan pemerasan digital.

Source: teknologi.bisnis.com
Terbaru