Jejak obat antidepresan kini tidak hanya berhenti di tubuh manusia. Senyawa yang keluar lewat urine dan limbah domestik ikut mengalir ke sungai, dan sebagian tidak terurai sempurna di instalasi pengolahan air limbah.
Kondisi itu membuat residu farmasi bertahan di perairan lebih lama dari yang banyak diduga. Temuan terbaru di Carolina Utara, Amerika Serikat, menunjukkan kontaminasi semacam ini sudah mencapai kadar yang dinilai berpotensi membahayakan satwa liar air.
Residunya paling mudah ditemukan di hilir sungai
Penelitian yang dimuat di jurnal Environmental Science & Technology menemukan sejumlah antidepresan pada sampel air di dekat muara instalasi pengolahan air limbah. Erin Baker, penulis utama studi itu, menyebut hasil tersebut sejalan dengan riset lain yang menunjukkan obat makin sering terdeteksi di perairan dunia.
Untuk memetakan sebaran kontaminasi, Emily Vincent dan tim dari University of North Carolina, Chapel Hill, mengambil sampel dari empat sungai di dekat muara instalasi pengolahan air limbah serta satu danau terpencil sebagai pembanding. Sampel yang dikumpulkan pada Desember 2024 itu dianalisis untuk mencari 34 senyawa antidepresan, termasuk SSRI, SNRI, dan NDRI.
Hasilnya, 17 jenis obat atau metabolit ditemukan pada sampel di hilir instalasi pengolahan air limbah. Sementara itu, sampel dari hulu sungai dan danau pembanding hampir tidak menunjukkan kontaminasi yang sama.
Dampaknya dikhawatirkan menjalar ke satwa air
Sejumlah senyawa yang terdeteksi muncul pada konsentrasi yang sebelumnya dikaitkan dengan perubahan perilaku dan efek toksik pada organisme perairan. Kelompok yang paling rentan mencakup ikan dan krustasea kecil yang hidup terus-menerus di lingkungan tercemar.
Para peneliti menilai persoalan ini perlu dikaji lebih jauh karena banyak studi sebelumnya hanya menguji paparan jangka pendek di laboratorium. Di alam, hewan air bisa terpapar senyawa yang sama berulang kali dalam waktu lama, sehingga dampaknya belum tentu sama dengan hasil percobaan singkat.
Tim peneliti juga mendorong kajian lanjutan tentang paparan kronis dan efek campuran berbagai obat yang hadir bersamaan di lingkungan. Risiko ekologis dari kombinasi senyawa seperti ini masih belum sepenuhnya dipahami.
Implikasinya juga menyentuh kualitas air untuk manusia
Keberadaan residu antidepresan di sungai memunculkan pertanyaan lebih luas soal kualitas air yang dipakai masyarakat. Banyak lokasi penelitian berada di sungai yang juga dimanfaatkan untuk air minum, irigasi pertanian, dan rekreasi.
Meski studi ini tidak menyimpulkan adanya dampak langsung terhadap kesehatan manusia, temuan itu menunjukkan sistem pengolahan air belum sepenuhnya mampu menghilangkan kontaminan farmasi. Pencemaran air pun tidak lagi hanya dikaitkan dengan plastik, limbah industri, atau bahan kimia pertanian.
Pemantauan dan teknologi pengolahan air perlu ditingkatkan
Erin Baker menilai peningkatan penggunaan obat di seluruh dunia berpotensi membuat jumlah residu farmasi di lingkungan ikut bertambah. Karena itu, pemantauan kualitas air di berbagai wilayah perlu diperluas agar skala masalahnya terlihat lebih jelas.
Di sisi lain, teknologi pengolahan air yang lebih efektif untuk menyingkirkan residu obat juga dibutuhkan. Baker menyebut studi tentang strategi remediasi yang efektif penting untuk membantu mengurangi tantangan pencemaran yang terus berkembang ini.
Jejak antidepresan di sungai memperlihatkan bahwa manfaat obat bagi manusia dapat menyisakan dampak lingkungan yang tidak selalu terlihat. Selama pengolahan air belum mampu menghapus seluruh residu farmasi, ancaman bagi ekosistem perairan berpotensi terus meningkat seiring bertambahnya penggunaan obat-obatan di masyarakat.
