PT Timah Tbk memilih membagikan separuh laba bersih tahun buku 2025 kepada pemegang saham. Dari total laba yang tumbuh pada 2025, emiten berkode TINS itu menyiapkan Rp656,81 miliar untuk dividen.
Keputusan ini memberi sinyal ganda bagi investor. Di satu sisi, ada pembagian hasil usaha yang besar, sementara di sisi lain perseroan tetap menahan dana untuk memperkuat operasional dan produksi.
Dividen disetujui dalam RUPS
Restu pembagian dividen sudah diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham yang digelar pada Jumat, 12 Juni 2026. Nilainya setara sekitar 50% dari laba bersih perseroan pada 2025.
Jadwal pembagian juga sudah diumumkan ke publik. Cum date pasar reguler ditetapkan pada 23 Juni 2026, sedangkan cum date pasar tunai pada 24 Juni 2026.
Untuk tahap ex date, pasar reguler dan pasar negosiasi akan berlangsung pada 25 Juni 2026. Ex date pasar tunai menyusul pada 26 Juni 2026, dan recording date ditetapkan pada 25 Juni 2026.
Pembayaran dividen dijadwalkan selesai pada 10 Juli 2026. Dengan jadwal itu, investor sudah bisa mengetahui kapan hak atas pembagian laba perseroan masuk ke rekening masing-masing.
Laba 2025 naik, ruang bagi dividen ikut terbuka
Besarnya dividen TINS sejalan dengan kinerja laba bersih tahun 2025 yang mencapai Rp1,31 triliun. Angka itu naik 10,08% secara tahunan dibandingkan laba bersih 2024 yang sebesar Rp1,19 triliun.
Peningkatan laba memberi ruang bagi perusahaan untuk berbagi keuntungan lebih besar kepada pemegang saham. Namun, perusahaan tidak menghabiskan seluruh laba tersebut agar mesin bisnis tetap punya tenaga untuk tumbuh.
Sisa laba diarahkan ke produksi smelter
Sisa laba bersih 2025 akan dipakai untuk penguatan internal perusahaan. Fokus utamanya adalah menaikkan volume produksi sekaligus mempertebal cadangan komoditas timah perseroan.
Direktur SDM dan Transformasi Korporasi TINS Ratih Mayasari menyebut prioritas perusahaan adalah memulihkan kapasitas pemrosesan. Perseroan juga ingin meningkatkan kapasitas produksi fasilitas smelter yang sempat menyusut pada periode sebelumnya.
Untuk mendukung target itu, pemegang saham telah menyetujui anggaran belanja modal. Alokasi modal kerja dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan berada pada kisaran Rp400 miliar hingga Rp500 miliar.
Ratih mengatakan PT Timah akan lebih mengarah pada peningkatan kapasitas produksi smelter yang sempat mengalami penurunan pada 2025. Perusahaan menargetkan kondisi itu membaik pada 2026 seiring penguatan operasional yang disiapkan.







