Michel Platini kembali menyeret FIFA dan Gianni Infantino ke meja hijau. Mantan Presiden UEFA itu resmi menempuh jalur hukum perdata dan pidana di Prancis atas tuduhan yang ia nilai merusak jalan kariernya menuju puncak sepak bola dunia.
Langkah ini berakar pada skandal pembayaran 2 juta franc Swiss atau sekitar Rp36 miliar pada 2011, yang dulu menyeret nama Platini dan Sepp Blatter. Bagi Platini, kasus itu bukan sekadar urusan etik, melainkan bagian dari proses yang disebutnya sengaja menghalangi peluangnya memimpin FIFA.
Gugatan yang Menyasar FIFA dan Petinggi Lama
Dalam pengaduan pidananya, Platini menuduh Infantino bersama dua mantan pejabat tinggi FIFA, Marco Villiger dan Domenico Scala, melakukan malicious prosecution atau penuntutan jahat. Ia juga mengajukan gugatan perdata untuk menuntut kompensasi finansial dari FIFA.
Langkah hukum itu menegaskan bahwa Platini tidak hanya mempersoalkan nama baiknya. Ia juga ingin menggugat dampak pribadi dan hukum dari rangkaian kasus yang membuatnya tersingkir dari kontestasi tertinggi di sepak bola internasional.
Skandal yang Mengubah Arah Suksesi FIFA
Platini sempat menjadi tokoh paling berpengaruh di sepak bola Eropa saat memimpin UEFA pada 2008 hingga 2015. Saat itu, ia dipandang sebagai kandidat kuat pengganti Sepp Blatter dalam pemilihan Presiden FIFA pada 2016.
Namun, ambisi itu runtuh setelah skandal pembayaran kepada Platini mencuat. Pembayaran yang disebut sebagai honor atas pekerjaan konsultasi untuk Blatter satu dekade sebelumnya itu berujung pada sanksi berat dari Komite Etik FIFA.
FIFA menjatuhkan larangan beraktivitas di sepak bola selama delapan tahun kepada Platini. Hukuman itu kemudian dipangkas Pengadilan Arbitrase Olahraga atau CAS menjadi empat tahun.
Bebas di Swiss, Posisi Platini Menguat
Perlawanan Platini mendapat dorongan baru setelah pengadilan banding pidana federal Swiss membebaskannya bersama Blatter dari semua tuduhan korupsi pada Maret 2025. Putusan itu menjadi titik balik penting dalam upayanya membalikkan narasi lama yang membelit namanya.
Vonis bebas tersebut menguatkan keyakinan Platini bahwa proses hukum yang menjeratnya dulu tidak berjalan netral. Dari sudut pandangnya, perkara itu menjadi alat untuk menutup jalan menuju kursi tertinggi FIFA.
Infantino, UEFA, dan Perubahan Peta Kekuasaan
Gugatan ini juga menyorot hubungan panjang Gianni Infantino dengan struktur UEFA sebelum naik ke FIFA. Ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal UEFA di bawah kepemimpinan Platini, lalu terpilih menjadi Presiden FIFA setelah Blatter tersingkir dan Platini tak lagi bisa maju.
Konteks itu membuat perkara terbaru Platini sangat sensitif di dunia sepak bola internasional. Hingga kini, FIFA belum memberikan komentar resmi atas langkah hukum yang diambil mantan bos UEFA tersebut.
Bagi Platini, pengadilan Prancis kini menjadi panggung baru untuk mempersoalkan kembali proses yang mengakhiri ambisinya di level tertinggi. Kasus ini sekaligus menempatkan FIFA, Infantino, Villiger, dan Scala kembali dalam sorotan, sementara dampak skandal 2015 terus berlanjut hingga sekarang.
Source: mediaindonesia.com






