Nama Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai dicatut dalam narasi yang menyebut masyarakat diminta berbelanja Rp1 juta setiap bulan di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Pigai menegaskan kabar yang beredar di media sosial X itu tidak benar dan merupakan hoaks.
Klaim tersebut memuat isu yang sensitif karena menyangkut pengeluaran rutin warga serta membawa nama seorang menteri. Kementerian Komunikasi dan Digital atau Komdigi juga telah memberikan klarifikasi bahwa informasi tersebut tidak benar.
Tidak Pernah Ada Ajakan Belanja Bulanan
Pigai membantah pernah mengeluarkan pernyataan tentang kewajiban maupun ajakan berbelanja senilai Rp1 juta per bulan di koperasi tersebut. Bantahan itu mencakup narasi bahwa dana belanja warga diperlukan untuk meningkatkan omzet koperasi dan membayar gaji manajer.
Dalam keterangan tertulis pada Minggu (19/7/2026), ia meminta masyarakat memeriksa setiap pernyataan yang mengatasnamakan dirinya melalui kanal resmi. Pigai menyatakan, “Saya tegaskan, komentar resmi saya hanya ada di akun media sosial X milik saya saja.”
Penegasan itu menjadi penting karena poster yang beredar menampilkan gambar Pigai bersama klaim yang terlihat seolah berasal dari pernyataan resmi. Namun, ia memastikan isi poster tersebut bukan pendapat ataupun pernyataan yang pernah disampaikannya.
Menurut laporan Suara.com, unggahan yang memuat poster tersebut sebelumnya disebarkan melalui akun X milik tokoh dakwah internasional asal Bulukumba, Sulawesi Selatan, Imam Syamsi Ali. Poster itu mengaitkan belanja masyarakat dengan upaya menaikkan omzet Koperasi Merah Putih serta pembayaran gaji manajer.
| Pihak atau Akun | Informasi yang Beredar | Keterangan |
|---|---|---|
| Natalius Pigai | Dikaitkan dengan ajakan belanja Rp1 juta per bulan | Membantah dan menyebutnya hoaks |
| Komdigi | Memberikan klarifikasi atas kabar yang beredar | Memastikan informasi tersebut tidak benar |
| Imam Syamsi Ali | Mengunggah poster bergambar Pigai di X | Poster memuat klaim belanja di koperasi |
| Indra J Piliang | Membagikan unggahan serupa di X | Menyinggung pembangunan koperasi di sejumlah daerah |
Narasi Lain Juga Dibantah
Bukan hanya soal belanja Rp1 juta, Pigai mengatakan ada narasi lain yang turut mencatut namanya dalam rencana pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Narasi itu disebut melibatkan banyak unsur, mulai dari masyarakat adat, dukun, aktivis, jurnalis, hingga pejabat kementerian dan lembaga.
Menurut Pigai, seluruh keterangan yang menghubungkan dirinya dengan skema tersebut tidak pernah datang darinya. Ia menyayangkan informasi palsu itu dapat tersebar luas, termasuk melalui unggahan sejumlah tokoh publik.
Adanya unggahan serupa dari lebih dari satu akun memperlihatkan bagaimana sebuah klaim dapat menyebar tanpa sumber pernyataan yang jelas. Poster atau unggahan yang memakai foto pejabat bisa tampak meyakinkan, meski tidak berasal dari akun resmi dan belum dapat diverifikasi.
Dalam kasus ini, rujukan atas pernyataan Pigai hanya dapat dicek melalui akun X miliknya. Publik juga dapat memperhatikan apakah unggahan mencantumkan sumber primer, kutipan utuh, serta konteks yang dapat diperiksa kembali.
Pesan untuk Memeriksa Informasi
Pigai mengingatkan masyarakat agar lebih selektif ketika menerima kabar dari media sosial. Ia mendorong publik untuk menggunakan media massa yang bekerja sesuai kaidah jurnalistik sebagai salah satu rujukan dalam memeriksa informasi.
“Jangan lagi percaya sumber tidak jelas!” ujar Pigai terkait narasi yang beredar atas namanya. Pesan itu menekankan pentingnya kehati-hatian sebelum mempercayai maupun membagikan unggahan kepada orang lain.
Ia juga menyoroti tanggung jawab tokoh publik saat menyebarkan informasi kepada masyarakat. Ketelitian diperlukan agar unggahan yang belum terverifikasi tidak memperluas penyebaran disinformasi.
Klarifikasi dari Pigai dan Komdigi menjadi penanda bahwa klaim belanja Rp1 juta per bulan di Koperasi Merah Putih tidak dapat dianggap sebagai pernyataan resmi. Masyarakat perlu memeriksa asal informasi, akun penerbit, dan keterangan yang bisa diverifikasi sebelum mengambil kesimpulan.
Source: www.suara.com






