Lampung sedang menguji cara baru untuk mendorong produksi kopi tanpa terlalu bergantung pada pupuk kimia. Di Kebun Induk Hanakau, hasil awal pemakaian Pupuk Hayati Cair atau PHC menunjukkan tanaman kopi bisa berbuah lebih cepat dari pola normal.
Temuan ini menarik perhatian karena PHC dibuat dari bahan lokal yang ramah lingkungan dan sudah dicoba di lahan percontohan. Pada tahap awal, tanaman yang mendapat perlakuan PHC terlihat tumbuh lebih optimal dan menghasilkan buah yang lebih besar.
PHC dibuat dari bahan lokal
Pupuk Hayati Cair merupakan pupuk organik berbasis mikroorganisme lokal. Bahan pembuatannya berasal dari limbah kelapa, limbah kedelai, dan air cucian beras yang diolah menjadi pupuk ramah lingkungan.
Rahmat Mirzani Djausal menyebut PHC dapat membantu meningkatkan pertumbuhan tanaman, membuat daun lebih hijau, mempercepat pembungaan, memperbesar ukuran buah, serta memperbaiki kesuburan tanah. Dengan begitu, ketergantungan pada pupuk kimia bisa dikurangi.
| Aspek | Keterangan | Detail Penting |
|---|---|---|
| Penerapan PHC | Lahan percontohan | 2 hektare |
| Efek pada kopi | Percepatan produksi | Berbuah pada usia 1,5 hingga 2 tahun |
| Produksi normal | Tanpa PHC | Umumnya baru panen setelah 3 tahun |
Hasil uji di Hanakau sejak 2025
Penerapan PHC di Kebun Induk Hanakau dimulai pada 2025 di lahan percontohan seluas 2 hektare. Dari pengamatan awal, tanaman kopi yang mendapat PHC tumbuh lebih optimal dibanding tanaman yang tidak menggunakannya.
Dampak yang paling menonjol adalah percepatan masa produksi. Bibit kopi yang biasanya baru berbuah dan dipanen setelah 3 tahun kini disebut mampu menghasilkan buah pada usia 1,5 hingga 2 tahun.
Rahmat Mirzani Djausal juga menyebut buah kopi terlihat lebih besar dan kualitasnya lebih baik. Dalam keterangan tertulis yang dikutip news.detik.com pada Senin (13/7/2026), ia mengatakan pertumbuhan tanaman menjadi lebih optimal.
Dukungan untuk petani dan pengembangan kopi Lampung
Selain memperkenalkan teknologi itu, Gubernur Lampung juga menyerahkan sampel PHC dalam kemasan botol agar bisa diuji langsung oleh petani di lahan masing-masing. Langkah ini diharapkan membuat inovasi tersebut lebih mudah dipraktikkan di lapangan.
Dalam kunjungan ke Kebun Induk Hanakau, Rahmat Mirzani Djausal didampingi Wakil Bupati Lampung Barat Mad Hasnurin beserta jajaran Pemprov Lampung dan Pemerintah Kabupaten Lampung Barat. Rombongan meninjau kebun kopi yang menjadi pusat percontohan, penelitian, sekaligus pengembangan benih kopi unggul di Lampung.
Kebun Induk Hanakau sendiri menjadi salah satu sentra pengembangan kopi yang menerapkan budidaya modern dan teknik perawatan tanaman untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas panen. Di lokasi itu dikembangkan kopi robusta dan arabika dengan sejumlah klon unggul nasional maupun klon lokal potensial.
| Jenis Kopi | Contoh Klon/Status | Keterangan |
|---|---|---|
| Robusta | BP 939, BP 936, BP 534, BP 436 | Klon unggul nasional sebagai sumber benih berkualitas |
| Robusta | Kopi Bagio, Turun Ujung, Bodong, Tugu Sari | Klon lokal potensial yang dipersiapkan menjadi varietas unggul bersertifikat |
| Arabika | Sekitar 200 batang | Ditanam sebagai uji adaptasi di dataran tinggi Sukau |
Mad Hasnurin menyampaikan apresiasi atas perhatian Gubernur terhadap pengembangan kopi di Lampung Barat. Ia menilai kehadiran gubernur menjadi motivasi bagi petani dan menunjukkan komitmen Pemprov Lampung dalam meningkatkan kualitas serta produktivitas kopi.
“Kami berharap program ini dapat terus dikembangkan sehingga kesejahteraan petani kopi semakin meningkat dan kopi Lampung Barat semakin berdaya saing,” ujarnya.
Dengan hasil awal yang menjanjikan, PHC menjadi salah satu upaya Pemprov Lampung untuk memperkuat daya saing sektor perkebunan. Fokusnya adalah mendorong kopi tumbuh lebih cepat, panen lebih baik, dan budidaya tetap ramah lingkungan.
Source: news.detik.com






