Pemerintah menargetkan 136 juta masyarakat ikut skrining kanker tahun ini melalui program cek kesehatan gratis. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari capaian tahun lalu yang berada di kisaran 70 juta peserta.
Langkah ini menandai pergeseran fokus penanganan kanker ke deteksi dini, karena banyak pasien di Indonesia masih baru diketahui ketika sudah memasuki stadium tiga atau stadium empat. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa peluang sembuh jauh lebih tinggi jika kanker ditemukan sejak stadium satu.
Deteksi Dini Jadi Ujung Tombak
Budi menyebut strategi utama penanganan kanker adalah deteksi dini dan pengobatan cepat. Ia menyampaikan hal itu seusai menghadiri Indonesia-China Cancer Forum 2026 di kawasan Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan, Minggu (12/7/2026).
Ia juga mendorong masyarakat berusia 40 tahun ke atas dan mereka yang memiliki faktor risiko kanker untuk memanfaatkan cek kesehatan gratis. Program ini menjadi salah satu jalur utama pemerintah untuk memperluas akses skrining ke masyarakat.
Fasilitas Diagnostik Diperluas ke Daerah
Selain memperbanyak peserta skrining, Kementerian Kesehatan mempercepat pemerataan alat diagnostik di berbagai daerah. Pemerintah menyiapkan USG di sekitar 10.000 puskesmas untuk membantu deteksi dini kanker payudara.
Di saat yang sama, 361 unit mamografi ditambah dan disebar di 514 kabupaten/kota. Layanan CT scan juga dilengkapi di seluruh kabupaten/kota di Indonesia agar pemeriksaan lebih cepat dan merata.
| Langkah Pemerintah | Jumlah | Tujuan |
|---|---|---|
| Peserta skrining kanker tahun ini | 136 juta orang | Perluasan deteksi dini lewat cek kesehatan gratis |
| Peserta tahun lalu | Sekitar 70 juta orang | Perbandingan capaian program |
| USG di puskesmas | Sekitar 10.000 puskesmas | Deteksi dini kanker payudara |
| Mamografi | 361 unit di 514 kabupaten/kota | Mendukung pemeriksaan kanker |
| CT scan | Seluruh kabupaten/kota | Melengkapi layanan diagnostik |
Budi menegaskan bahwa pengendalian kanker bukan hanya urusan nasional, tetapi juga tantangan global. Karena itu, pemerintah terus memperkuat kerja sama internasional untuk mengembangkan teknologi kesehatan dan meningkatkan kapasitas tenaga medis.
Tenaga Onkologi Juga Dikejar
Dukungan datang dari Ketua Konsil Kesehatan Indonesia, drg Arianti Anaya, yang menilai pemenuhan sumber daya manusia kesehatan harus dipercepat. Fokus utamanya ada pada penguatan kompetensi tenaga medis di bidang onkologi.
Menurut Arianti, peningkatan kompetensi ditempuh lewat program fellowship dan advanced clinical training. Skema itu dinilai bisa memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan spesialis kanker lebih cepat dibanding jalur pendidikan akademik konvensional.
“Kami mendukung upaya Kemenkes dalam mempercepat pemenuhan sumber daya manusia kesehatan sekaligus meningkatkan kompetensinya. Dengan program fellowship dan advanced clinical training, kebutuhan tenaga kesehatan, khususnya di bidang penanganan kanker, dapat dipenuhi lebih cepat,” ujarnya.
Dengan skrining yang diperluas, alat diagnostik yang makin merata, dan kompetensi tenaga medis yang diperkuat, pemerintah berharap angka kesembuhan pasien kanker meningkat. Pada saat yang sama, angka kematian akibat kanker di Indonesia diharapkan terus turun lewat deteksi yang lebih dini dan penanganan yang lebih cepat.
Source: www.beritasatu.com






