Pernyataan Donald Trump memanaskan lagi perhatian dunia ke Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di kawasan Teluk. Di tengah klaim Iran bahwa selat itu ditutup tanpa batas waktu, Trump justru menegaskan kapal dagang masih bisa melintas.
Dalam wawancara telepon dengan program Meet the Press di NBC News, Trump menyebut situasi tetap terkendali setelah operasi militer AS pada malam sebelumnya. Ia berkata, “(Selat) itu terbuka. Kami membombardir mereka habis-habisan tadi malam.”
Selat Hormuz Masih Jadi Titik Paling Rawan
Iran sebelumnya mengumumkan penutupan Selat Hormuz hingga pemberitahuan lebih lanjut setelah eskalasi konflik meningkat dalam beberapa hari terakhir. Namun, pemerintah AS menegaskan jalur itu belum benar-benar tertutup bagi pelayaran komersial.
Komando Pusat Militer AS atau Centcom pada Minggu (12/7/2026) mengatakan pihaknya akan terus menjaga agar kapal sipil dan kapal komersial bisa melintas dengan aman. Centcom juga menyebut operasi terbaru terhadap Iran ditujukan untuk mengurangi kemampuan Teheran menyerang kapal dagang di kawasan itu.
| Pihak | Klaim Utama | Dampak yang Disebut |
|---|---|---|
| Iran | Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut | Konflik dan pelayaran di kawasan makin tegang |
| AS / Centcom | Selat Hormuz tetap terbuka untuk kapal dagang | Kapal sipil dan komersial tetap dijaga agar aman melintas |
Trump juga menuduh Iran sempat menyetujui kesepakatan sehari sebelumnya, lalu meluncurkan serangan drone terhadap sebuah kapal. Menurutnya, serangan itu memicu balasan baru dari AS.
Serangan Balasan Memperluas Tekanan di Laut dan Darat
Dilansir BBC, eskalasi terbaru bermula setelah AS mengaku menyerang lebih dari 140 target militer Iran sebagai respons atas serangan terhadap sebuah kapal yang melintasi Selat Hormuz. Washington menyebut kapal berbendera Siprus itu diserang rudal jelajah IRGC karena dianggap memakai rute yang tidak disetujui.
Centcom menyatakan kapal tersebut rusak di ruang mesin sehingga tidak bisa melanjutkan pelayaran. Satu awak kapal dilaporkan hilang, sementara otoritas maritim Inggris menyebut seluruh kru terpaksa meninggalkan kapal dengan sekoci penyelamat.
AS mengatakan serangannya menghantam lokasi rudal, drone, jaringan komunikasi, dan fasilitas pengawasan di wilayah pesisir Iran. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan Iran telah membuat pilihan yang buruk dan harus menanggung konsekuensinya.
Di sisi lain, IRGC menyatakan serangan AS juga menyasar sejumlah pangkalan pantai dan menara telekomunikasi di wilayah selatan Iran. Iran kemudian membalas dengan serangkaian serangan ke pangkalan AS dan negara-negara sekutunya di kawasan.
IRGC mengklaim fase pertama pembalasan mencakup serangan ke Pangkalan Udara Prince Hassan di Yordania yang disebut menghancurkan pusat komando serta hanggar drone MQ-9. Iran juga melaporkan rudal ditembakkan ke arah Pulau Qeshm, yang disebut menjadi salah satu pangkalan penting IRGC di Teluk.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, yang juga menjadi kepala negosiator Iran dalam perundingan dengan AS, mengatakan bahwa “era kesepakatan sepihak telah berakhir.” Ia menulis di media sosial X, “Sudah kami katakan: tepati janji atau bayar harganya. Kenyataan sedang mengetuk pintu.”
Pertempuran terbaru itu juga membahayakan gencatan senjata sementara yang sebelumnya disepakati untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengupayakan penghentian konflik secara permanen. Meski begitu, Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran masih akan berlanjut dan para mediator tetap berusaha menghidupkan kembali proses diplomatik.
Source: www.kompas.com






