Perlindungan Otomatis Dicabut, Spesies Terancam Baru di AS Bisa Diburu

Author: Cung Media

Spesies yang baru ditetapkan berstatus terancam di Amerika Serikat tidak lagi otomatis mendapat larangan penuh terhadap pembunuhan, penjebakan, atau gangguan. Perubahan kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump ini membuat perlindungan harus ditetapkan secara khusus untuk setiap spesies.

Artinya, penetapan status threatened saja tidak lagi langsung memberikan perlindungan setara spesies yang berada pada kategori lebih kritis. Situasi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena satwa dan tanaman yang populasinya mulai menurun dapat menunggu lebih lama sebelum memperoleh aturan perlindungan.

Perubahan Besar dalam Penerapan ESA

Kebijakan yang diumumkan pada Jumat (17/7) mengubah penerapan Undang-Undang Spesies Terancam Punah atau Endangered Species Act (ESA) 1973. Sejak 1975, spesies berstatus terancam memperoleh perlindungan otomatis yang pada praktiknya setara dengan spesies hampir punah atau endangered.

Perlindungan sebelumnya mencakup larangan membunuh, menjebak, dan mengganggu satwa secara ilegal. Kini, Fish and Wildlife Service perlu menilai kebutuhan perlindungan tersebut satu per satu sebelum menerbitkan ketentuan khusus.

Aspek Ketentuan Sebelumnya Ketentuan Baru
Spesies terancam baru Mendapat perlindungan otomatis Perlindungan ditetapkan per kasus
Larangan gangguan Berlaku seperti pada spesies hampir punah Tidak langsung berlaku
Penetapan habitat penting Dampak ekonomi dapat diabaikan Dampak ekonomi wajib dipertimbangkan

Aturan baru ini tidak mencabut perlindungan bagi spesies yang sudah lebih dahulu berstatus terancam dan telah memperoleh ketentuan perlindungan. Namun, spesies yang ditetapkan setelah kebijakan berlaku harus menunggu proses penilaian tersendiri dari lembaga terkait.

Manatee Florida dan kelinci kerdil atau pygmy rabbits termasuk satwa yang disebut berpotensi terdampak langsung. Keduanya masih berada dalam proses evaluasi untuk memperoleh status perlindungan.

Habitat Kritis Kini Mempertimbangkan Ekonomi

Perubahan lain menyasar penetapan habitat kritis, yakni wilayah yang penting bagi kelangsungan hidup suatu spesies. Fish and Wildlife Service kini diwajibkan mempertimbangkan dampak ekonomi saat menentukan wilayah tersebut.

Sebelumnya, lembaga itu memiliki keleluasaan untuk mempertimbangkan atau mengesampingkan kekhawatiran ekonomi demi menjaga spesies yang terancam. Penetapan habitat kritis dapat memengaruhi penggunaan lahan serta rencana pembangunan di area yang masuk perlindungan.

Menteri Dalam Negeri Doug Burgum mengatakan kebijakan tersebut dibutuhkan untuk memperkuat kemandirian energi Amerika Serikat dan memastikan tindakan federal sesuai hukum. Dalam pernyataan resminya, Burgum menyebut, “Sudah terlalu lama, UU Spesies Terancam Punah dipersenjatai untuk menghentikan hampir semua proyek baru di Amerika, yang meningkatkan biaya bagi keluarga dan melemahkan daya saing kita.”

Kritik dari Kelompok Lingkungan

Kelompok lingkungan menilai perubahan itu bisa memperbesar tekanan terhadap satwa liar dan kawasan publik. Pengacara Earthjustice, Clay Samford, menyebut aturan baru tersebut buruk bagi satwa liar serta lahan publik.

Samford mencontohkan burung ‘I’iwi di Hawaii sebagai spesies yang dapat terpengaruh oleh pendekatan baru terhadap habitat kritis. Menurutnya, peternak sapi dapat memiliki peluang lebih besar meminta pengecualian lahan dari status habitat kritis dengan alasan ekonomi.

Di sisi lain, Property and Environment Research Center atau PERC mendukung kebijakan tersebut. Kelompok konservasi libertarian itu menilai penyamaan perlindungan spesies terancam dan hampir punah justru dapat mengurangi insentif untuk memulihkan populasi.

Antrean Evaluasi di Tengah Pengurangan Staf

Perubahan prosedur ini muncul ketika Fish and Wildlife Service mengalami pengurangan personel. Data Center for Biological Diversity menunjukkan lembaga tersebut kehilangan sekitar 18 persen staf, termasuk 530 ahli biologi, pada bulan-bulan awal pemerintahan Trump periode kedua dibandingkan tahun terakhir pemerintahan Biden.

Menurut Media Indonesia, kondisi itu berpotensi memperlambat penerbitan perlindungan baru karena setiap spesies memerlukan evaluasi individual. Saat ini, lebih dari 500 spesies masih menunggu evaluasi status perlindungan.

Antrean tersebut mencakup tanaman Aztec Gilia dan kaktus Clover di New Mexico. Berkurangnya tenaga ahli, banyaknya perkara yang menumpuk, serta prosedur perlindungan yang lebih spesifik menjadi tantangan baru bagi upaya konservasi di Amerika Serikat.

Source: mediaindonesia.com
Terbaru