Perburuan Burung Masteran Mengusik Kota, Kamitetep Kehilangan Predator Alami

Author: Cung Media

Kemunculan kamitetep di dinding, atap, hingga tempat tidur warga diduga berkaitan dengan perubahan keseimbangan ekosistem kota. Berkurangnya burung pemakan serangga disebut dapat mengurangi pengendali alami larva yang dikenal pula sebagai ulat tentet ini.

Masalah tersebut bukan hanya soal rumah yang kurang bersih, meski debu, rambut, dan kondisi lembap dapat mendukung perkembangan larva. Ketika predator alami makin sedikit dan ruang hijau menyusut, kamitetep berpeluang lebih mudah menyebar ke lingkungan hunian.

Perburuan Burung untuk Masteran

Ady Kristanto dari Jakarta Bird Watcher Society menjelaskan bahwa sejumlah burung pemakan serangga berperan menekan populasi kamitetep di alam. Saat jumlah burung tersebut menyusut, mangsanya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang dan masuk ke area manusia.

Tekanan terhadap burung liar disebut berkaitan dengan tren kicau mania, terutama kebutuhan burung masteran untuk melatih murai batu (Copsychus malabaricus) di kandang. Burung asli dengan variasi suara kerap dicari untuk mendukung latihan atau kontes gantangan.

Menurut penjelasan yang dikutip Kompas.com, perburuan masteran di Jakarta menyasar beberapa jenis burung kecil. Di antara jenis yang disebut ialah cinenen jawa, cinenen kelabu, perenjak jawa, dan burung madu sriganti.

Jenis burung Nama ilmiah Peran atau keterangan
Cinenen jawa Orthotomus sepium Disebut sebagai predator kamitetep
Cinenen kelabu Orthotomus ruficeps Target burung masteran
Perenjak jawa Prinia familiaris Disebut sebagai predator kamitetep
Burung madu sriganti Cinnyris ornatus Target burung masteran

Perenjak jawa dan cinenen disebut sebagai pemakan kamitetep, sehingga keberadaannya membantu memberi tekanan alami terhadap populasi larva. Berkurangnya kedua kelompok burung itu dapat mengubah rantai makanan yang semula bekerja di ruang hijau perkotaan.

“Ketika mangsanya semakin banyak tapi predatornya enggak ada, ya akhirnya mereka akan ke ranah manusia, ke dunia manusia,” ujar Ady Kristanto dalam Bincang Redaksi ke-73: Ekologi Kota Era Antroposen di Jakarta, Sabtu (18/7/2026). Pernyataan itu menggambarkan bagaimana gangguan pada ekosistem dapat terasa langsung di rumah warga.

Efek Berantai pada Wiwik Kelabu

Dampak berkurangnya perenjak dan cinenen juga disebut dapat menjalar kepada wiwik kelabu (Cacomantis merulinus). Burung ini memiliki perilaku brood parasitism, yaitu menitipkan telur pada sarang perenjak jawa atau cinenen.

Jika jumlah sarang inang berkurang, wiwik kelabu ikut menghadapi hambatan untuk berkembang biak. Padahal, burung tersebut memiliki lambung khusus untuk mencerna ulat bulu panjang dan menjadi salah satu pengendali hama ulat di lingkungan kota.

Pola ini dinilai menyerupai ledakan serangga yang pernah dikaitkan dengan tomcat dan tawon vespa. Selain hilangnya predator, berkurangnya lahan hijau membuat kamitetep perlu mencari ruang alternatif untuk hidup dan berlindung.

Siklus Hidup dan Risiko pada Kulit

Kepala Laboratorium Entomologi Fakultas Biologi UGM Hari Purwanto menyebut kamitetep bernama ilmiah Phereoeca allutella. Serangga dari famili Tineidae ini juga dikenal sebagai household casebearer atau plaster bagworm.

Larvanya hidup di dalam kantong pipih yang tersusun dari serat sutera dan material di sekitar tempat hidupnya. Kantong tersebut dapat mengandung serpihan kayu, pasir, tanah, maupun bulu hewan.

Tahap perkembangan Durasi atau jumlah Keterangan
Telur Sekitar 200 butir Menetas dalam sekitar 10 hari
Larva Sekitar 50 hari Hidup dalam kantong pelindung
Kepompong 11-23 hari Tahap sebelum menjadi ngengat
Ngengat dewasa Rata-rata 16 hari Betina 10-13 mm, jantan 7-9 mm

Dosen Departemen Biologi FMIPA UI Ratna Yuniati menjelaskan rambut kamitetep dapat memicu bentol pada orang yang memiliki alergi. Kontak dengan larva juga dapat menimbulkan ruam atau bintik kemerahan yang gatal pada kulit sensitif.

Reaksi ringan hingga pembengkakan dapat muncul, tetapi umumnya pulih sendiri dalam waktu tiga sampai tujuh hari. Rasa geli saat melihat kamitetep, menurut Ady, dapat lebih banyak dipengaruhi faktor psikologis.

Rumah Lembap Perlu Mendapat Perhatian

Kamitetep lebih sering muncul pada musim hujan karena kelembapan mendukung perkembangan larva dan kekuatan kantongnya. Debu serta rambut yang mudah menumpuk juga dapat menjadi sumber makanan bagi larva.

Pembersihan rumah secara menyeluruh dan berkala dapat dilakukan terutama di dapur, kamar mandi, serta area penyimpanan pakaian. Ventilasi perlu dibuka setiap hari, sementara kipas angin atau dehumidifier dapat digunakan untuk membantu mengurangi kelembapan.

Pakaian kotor sebaiknya tidak dibiarkan menumpuk, sedangkan kapur barus dapat ditempatkan di area yang rentan. Mengurangi pencahayaan luar rumah pada malam hari juga dapat membantu karena ngengat dewasa tertarik pada cahaya.

Perawatan rumah dapat menekan peluang kemunculan larva di dalam bangunan. Namun, keseimbangan ekosistem kota tetap berkaitan dengan terjaganya populasi burung pemakan serangga sebagai predator alami.

Terbaru