Pemadaman listrik yang berlangsung selama dua pekan di sejumlah wilayah Jawa Barat mulai menekan usaha kecil di Kota Bandung. Di banyak titik, omzet harian pelaku UMKM turun tajam karena pelanggan enggan datang saat lokasi usaha gelap dan aktivitas kerja ikut terhenti.
Dampaknya terasa di ruko, pinggir jalan, warung makan, hingga barbershop. Bagi sebagian pelaku usaha, gangguan listrik yang berlangsung tiga sampai empat jam per hari itu sudah cukup untuk mengubah ritme penjualan dan membuat target harian sulit tercapai.
Omzet turun, operasional tersendat
Irfan, karyawan usaha kuliner bebek goreng di Jalan Terusan Jakarta, Kecamatan Antapani, mengatakan penghasilan harian tempat usahanya turun sampai 50 persen selama dua pekan terakhir. Sebelumnya, usaha itu biasanya meraup sekitar Rp 2 juta per hari.
Menurut Irfan, kondisi kedai yang gelap membuat pelanggan enggan makan di tempat. Ia juga melihat stok lilin di sejumlah toko dan minimarket cepat habis saat kebutuhan penerangan tambahan meningkat.
Hal serupa dialami Ahmad Djalil, penjual roti balok khas Bandung. Alat elektronik sealer yang dipakai untuk menutup kemasan tidak bisa beroperasi saat listrik padam, sehingga proses jualan ikut tersendat.
Sebelum gangguan listrik terjadi, Ahmad biasa berjualan dari maghrib hingga tengah malam. Setelah pemadaman berlangsung, pendapatan hariannya turun menjadi sekitar Rp 500.000 dari biasanya Rp 1 juta per hari.
Dampak langsung ke sektor jasa
Di sektor jasa, pemadaman juga memukul barbershop. Acep, perwakilan karyawan Cukur Hade Barbershop di daerah Cikutra, mengatakan pemadaman bergilir terjadi mendadak dan membuat operasional berhenti selama berjam-jam.
Ia menyebut kondisi itu membuat usaha mereka tidak mampu mencapai target harian 50 pengunjung per hari. Acep menilai masalah ini tidak boleh diabaikan karena langsung memukul kegiatan usaha.
Pelaku usaha kecil paling rentan
Pengamat ekonomi dan akademisi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, menilai pemadaman listrik berdampak pada aktivitas produksi dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah. Ia menegaskan mayoritas pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah tidak memiliki genset sehingga sangat bergantung pada pasokan listrik dari PLN.
Acuviarta juga menilai pemerintah perlu lebih transparan soal penyebab pemadaman, apakah terkait ketersediaan batubara atau gangguan pada pembangkit. Menurut dia, persoalan ini harus disikapi serius karena menyangkut aktivitas ekonomi masyarakat.
Penjelasan PLN
Manajer Komunikasi PLN Unit Induk Distribusi Jawa Barat, Nurmalitasari, mengakui adanya kendala teknis operasional pada pembangkit yang menurunkan kapasitas suplai listrik. PLN, kata dia, mengerahkan seluruh sumber daya untuk menjaga keandalan sistem kelistrikan.
PLN juga menerapkan manajemen beban secara terbatas di sejumlah wilayah terdampak untuk menjaga stabilitas pasokan. Di saat yang sama, perusahaan terus mengupayakan percepatan pemulihan kondisi operasi pembangkit agar listrik kembali normal.
Nurmalitasari menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi. Ia menambahkan bahwa perkembangan penanganan dan pemulihan akan terus disampaikan melalui kanal komunikasi resmi perusahaan.
Source: www.kompas.id






