NASA menyiapkan Artemis III sebagai misi yang tidak mendarat di Bulan, tetapi justru menjadi tahap penting sebelum misi berikutnya benar-benar turun ke permukaan. Empat astronaut yang dipilih akan menguji rangkaian manuver krusial di orbit rendah Bumi, termasuk rendezvous dan docking dengan pendarat bulan.
Misi ini menjadi salah satu penentu arah program Artemis karena hasil uji terbangnya akan dipakai lagi oleh kru Artemis IV. NASA menargetkan Artemis IV sebagai misi yang akan mendarat di Bulan pada 2028, sehingga Artemis III menjadi penghubung yang sangat menentukan.
Empat astronaut dengan latar berbeda
NASA menunjuk Andre Douglas, Luca Parmitano, Randy Bresnik, dan Frank Rubio untuk menjalankan misi ini. Dari empat nama itu, Andre Douglas menjadi satu-satunya yang belum pernah terbang ke antariksa sebelumnya.
Komando misi dipegang Randy Bresnik, astronaut paling senior di tim. Bresnik telah bersama NASA sejak 2004 dan pernah terbang dalam misi pesawat ulang-alik NASA yang kini sudah pensiun pada 2009.
Luca Parmitano dari Badan Antariksa Eropa atau ESA akan menjadi pilot misi. Ia dikenal sebagai astronaut Italia pertama yang memimpin International Space Station dan menjadi astronaut ESA pertama yang dipilih untuk program Artemis.
Parmitano juga pernah mengalami insiden serius saat spacewalk di ISS pada 2013. Helmnya sempat terisi air hingga hampir membuatnya tenggelam, tetapi ia berhasil kembali ke dalam stasiun setelah spacewalk dibatalkan.
Frank Rubio ditunjuk sebagai mission specialist dan memegang rekor NASA untuk penerbangan antariksa terlama, yakni 371 hari. Ia tiba di ISS pada September 2022 dengan kapsul Soyuz Rusia yang mengalami kebocoran coolant, lalu kembali ke Bumi pada September 2023.
Uji penting untuk sistem pendarat bulan
NASA akan menggunakan misi ini untuk menguji kemampuan sistem yang akan menopang misi-misi berikutnya. Blue Origin milik Jeff Bezos dan SpaceX milik Elon Musk sama-sama terlibat dalam penyediaan pendarat bulan yang akan diuji.
Dalam skenario yang dijelaskan NASA, Blue Origin akan meluncurkan pendaratnya lebih dulu, lalu kru Artemis III terbang dengan kapsul Orion. Setelah itu, Blue Origin dan Orion akan merapat di orbit untuk menjalani pengujian sebelum berpisah lagi.
Setelah tahap itu selesai, Starship milik SpaceX akan diluncurkan dan bertemu kembali dengan Orion. Kru kemudian akan kembali ke Bumi setelah rangkaian pertemuan dan pengujian tersebut selesai dilakukan.
Jadwal tetap dijaga meski sempat ada kekhawatiran
NASA masih menargetkan Artemis III berlangsung pada akhir 2027. Target tersebut tetap dipertahankan meski sebelumnya sempat muncul kekhawatiran soal kesiapan salah satu komponen utama misi.
Kekhawatiran itu muncul setelah roket New Glenn milik Blue Origin meledak di landasan saat uji darat di Cape Canaveral pada Mei. Insiden itu sempat menimbulkan tanda tanya soal kelancaran jadwal misi.
Namun, pada Selasa, Administrator NASA Jared Isaacman mengatakan pendarat Blue Origin tetap akan menjadi bagian dari Artemis III. Pernyataan itu menegaskan bahwa NASA masih mempertahankan rencana misi sesuai target yang ada.
Lanjutan dari Artemis II
Artemis III datang setelah Artemis II pada April membawa astronaut NASA kembali ke orbit Bulan. Itu menjadi penerbangan berawak pertama yang melampaui orbit rendah Bumi sejak Apollo 17 lebih dari 50 tahun sebelumnya.
Artemis II juga menjadi misi uji, meski posisinya lebih dekat ke Bulan dibandingkan Artemis III. Misi itu menguji wahana Orion dan berhasil meluncurkan Space Launch System, lalu membuka jalan bagi tahap berikutnya dalam program Artemis.
Dengan komposisi kru yang berpengalaman dan fokus pada pengujian sistem, Artemis III kini berdiri sebagai ujian penting sebelum NASA melangkah lebih jauh ke misi pendaratan manusia berikutnya di Bulan.







