Wuling Eksion PHEV tidak hanya mengandalkan statusnya sebagai SUV plug-in hybrid, tetapi juga cara kerja energinya yang dibuat sangat fleksibel. Justru di pemakaian harian, empat mode energi yang disiapkan terasa paling relevan karena pengguna bisa memilih strategi tenaga sesuai kebutuhan.
Di pasar, Eksion PHEV disebut lebih laris dibanding versi BEV-nya. Minat itu ikut didorong desain modern dan teknologi yang dianggap lengkap, sementara model BEV tetap mendapat pesanan dari konsumen.
Empat mode energi, bukan sekadar mode berkendara
Berbeda dari mode berkendara pada SUV umumnya, empat mode di Eksion PHEV berfungsi untuk mengatur sumber tenaga yang dipakai mobil. Wuling menyematkan EV Max, EV First, Hybrid, dan Fuel Priority sebagai paket pengelolaan energi yang lebih spesifik.
EV Max menjadi mode yang paling dekat dengan pengalaman mobil listrik murni. Saat mode ini aktif, mobil mengutamakan tenaga listrik sepenuhnya sampai sisa daya baterai tinggal 12 persen, lalu sistem otomatis berpindah ke Hybrid.
Mode ini cocok untuk pengguna yang ingin memaksimalkan listrik selama mungkin tanpa banyak campur tangan mesin bensin. Karakternya memberi sensasi berkendara yang lebih dekat ke mobil listrik, tetapi tetap dibatasi kapasitas baterai.
EV First dan Hybrid untuk penggunaan yang lebih praktis
EV First masih memberi bantuan dari mesin bensin, tetapi baru bisa dipakai setelah daya baterai tersisa 35 persen. Wuling menyebut mode ini bersama Hybrid lebih praktis dan tidak terlalu merepotkan bagi pengguna.
Hybrid bekerja dengan menyeimbangkan tenaga listrik dan bensin secara otomatis sesuai beban atau kebutuhan berkendara. Hasilnya, mobil bisa terasa lebih halus, responsif, dan efisien dalam berbagai situasi.
Pendekatan ini membuat Eksion PHEV terasa mirip mobil hibrida pada umumnya, karena pengemudi tidak perlu sering mengatur sumber tenaga secara manual. Sistem akan menyesuaikan pemakaian energi agar efisiensi tetap terjaga.
Fuel Priority jadi kebalikan EV Max
Mode lain yang tersedia adalah Fuel Priority, yang bekerja sebagai kebalikan dari EV Max. Pada mode ini, mobil memakai tenaga mesin bensin terlebih dahulu.
Jika bensin habis, tenaga listrik murni masih bisa diandalkan dari baterai yang tersisa saat mobil dipakai di area perkotaan. Pola ini membuat mobil tetap bisa berjalan seperti mobil konvensional, namun masih menyimpan cadangan listrik untuk situasi tertentu.
Konsep empat mode energi itu membuat Eksion PHEV unik karena fokusnya bukan pada mode jalan, melainkan strategi penggunaan energi. Bagi konsumen, pilihan itu memberi ruang yang lebih jelas untuk memaksimalkan listrik, memakai kombinasi keduanya, atau mendahulukan bensin sesuai kebutuhan harian.
Secara teknis, Wuling Eksion PHEV tetap mengandalkan mesin bensin 1.500 cc dengan transmisi Dedicated Hybrid Transmission atau DHT. Sistem itu dipadukan dengan teknologi plug-in hybrid dan baterai 20,5 kWh untuk menggabungkan tenaga bensin dan listrik secara efisien.
Dengan paket tersebut, mobil ini diklaim bisa menempuh lebih dari 1.000 km saat memanfaatkan bensin dan listrik secara gabungan. Saat hanya memakai tenaga listrik, jarak tempuhnya disebut mencapai 125 km.
Di tengah pasar SUV yang ramai dengan produk merek senegara, kehadiran teknologi seperti ini menjadi salah satu modal penting Wuling. Apalagi model ini disebut punya harga yang cukup terjangkau untuk kelas SUV, sementara rival seperti Chery Tiggo 8 CSH masih tercatat sebagai PHEV terlaris sejauh ini.
Source: ridertua.com






