Coinbase Menang Lawan SEC, Masuk S&P 500 Saat Perang Regulasi Berbalik Arah

Coinbase menutup perang regulasi tiga tahun dengan hasil yang sulit dibayangkan ketika gugatan SEC pertama kali diumumkan. Perusahaan kripto ini kini menjadi perusahaan kripto-native pertama yang masuk ke S&P 500, sementara saham COIN sempat melonjak sekitar 24% pada hari pengumuman.

Yang membuat momen itu lebih besar adalah akhir kasusnya nyaris tanpa luka. Gugatan SEC berakhir tanpa penalti, tanpa perubahan wajib pada bisnis Coinbase, dan dengan potensi penghematan biaya hukum lebih dari $50 juta per tahun.

Gugatan yang sempat mengguncang Coinbase

SEC mengajukan perkara pada 6 Juni 2023 di Southern District of New York. Regulator menuduh Coinbase beroperasi sebagai bursa efek nasional, broker, dan clearing agency tanpa registrasi, serta menawarkan efek belum terdaftar lewat layanan staking-as-a-service.

Inti konflik terletak pada status token yang diperdagangkan di platform tersebut. SEC menilai SOL, ADA, dan MATIC termasuk sekuritas di bawah Howey Test, yang melihat ada investasi dalam usaha bersama dengan ekspektasi keuntungan.

Jika pandangan SEC menang, model bisnis Coinbase bisa berubah mendasar. Setelah menerima Wells notice sebelumnya, saham COIN turun sekitar 12% pada hari gugatan diumumkan.

CEO Brian Armstrong dan Chief Legal Officer Paul Grewal menolak tuduhan itu. Keduanya menegaskan token kripto tidak cocok dengan definisi Howey dan mengkritik pendekatan penegakan SEC.

Pertarungan hukum yang berlanjut, lalu mulai berbalik

Coinbase memilih melawan ketimbang berkompromi, berbeda dari sejumlah perusahaan kripto lain yang memilih penyelesaian dengan regulator. Strategi itu membuat perkara ini menjadi salah satu ujian paling penting bagi batas pengawasan aset digital di Amerika Serikat.

Pada 27 Maret 2024, Hakim Katherine Polk Failla sebagian besar berpihak pada SEC di tahap awal perkara. Pengadilan menilai SEC cukup kuat dalam mendalilkan bahwa sejumlah token di Coinbase dan program staking melibatkan transaksi sekuritas, meski klaim yang lebih sempit terkait Coinbase Wallet ditolak.

Ketidakpastian itu terus bertahan hingga awal 2025. Pada Januari 2025, Pengadilan Banding Sirkuit Ketiga menyebut penolakan SEC atas petisi Coinbase pada 2022 untuk aturan khusus kripto sebagai “conclusory and insufficiently reasoned.”

Pada saat yang sama, SEC memindahkan jaksa senior yang memimpin perkara kripto, termasuk kasus Coinbase, ke peran internal terkait IT. Langkah ini dipandang banyak praktisi hukum sebagai tanda bahwa pendekatan penegakan yang agresif mulai mereda.

Kasus dihentikan, Coinbase justru diuntungkan

Pada 27 Februari 2025, SEC mengajukan kesepakatan bersama untuk menghentikan perkara di SDNY dengan status dismissal with prejudice. Dalam pengajuannya, SEC menyebut penghentian itu “not based on any assessment of the merits of the claims,” yang menegaskan keputusan tersebut lahir dari perubahan kebijakan, bukan hasil kekalahan di ruang sidang.

Tidak ada penalti yang dijatuhkan. Tidak ada perubahan operasional yang diwajibkan, dan Coinbase menyebut penghentian kasus itu akan menghemat lebih dari $50 juta per tahun untuk biaya hukum.

Perubahan arah yang lebih luas ikut membentuk hasil itu. Pergeseran menuju kerangka legislatif seperti CLARITY Act membantu mengubah lingkungan tempat SEC bekerja, sementara gugatan Coinbase dan penahanan perkara terkait terhadap Binance menandakan pergeseran dari litigasi lawan-lawanan ke perumusan kebijakan yang lebih kooperatif.

Manatt menilai strategi SEC yang memakai Howey Test terhadap bursa kripto untuk sementara tersisih. Bagi Coinbase, itu berarti kemenangan yang tidak hanya menyelesaikan satu perkara, tetapi juga menandai perubahan arah pengawasan aset digital.

S&P 500 memberi sinyal penerimaan arus utama

Masuknya Coinbase ke S&P 500 pada 19 Mei 2025 membawa arti simbolis dan finansial yang besar. Karena indeks itu melacak triliunan dolar dana pasif dan hadir di jutaan rekening pensiun warga Amerika, langkah ini memberi eksposur tidak langsung terhadap kripto bagi banyak investor ritel.

Pada Juni 2025, saham Coinbase bahkan menjadi konstituen dengan kinerja terbaik di indeks tersebut. Bagi Brian Armstrong, pencapaian ini menjadi bukti penerimaan arus utama terhadap aset digital.

Namun, kemenangan ini tidak menghapus seluruh risiko yang masih mengitari perusahaan. Coinbase masih menghadapi investigasi SEC yang disebut sebagai legacy probe, serta gugatan perdata terpisah yang menyorot dugaan misrepresentasi regulasi.

SEC juga memiliki Crypto Task Force yang bergerak ke arah rulemaking, tetapi kerangka regulasi menyeluruh belum tersedia. Di tengah transisi itu, Coinbase terus memperluas langkah bisnisnya dan memanfaatkan momentum saat posisinya di industri makin dekat dengan arus utama.

Terkait