
NASA mengakui peta persaingan menuju Bulan kini berubah cepat, dan China disebut bisa meluncurkan misi berawak mengelilingi Bulan paling cepat pada 2027. Jika itu terjadi, Amerika Serikat tidak lagi menjadi satu-satunya negara yang pernah membawa manusia ke wilayah Bulan.
Peringatan itu datang dari Kepala NASA Jared Isaacman, yang menilai perlombaan antariksa modern bukan lagi sekadar soal prestise teknologi. Menurut dia, pertarungan ini juga menyangkut kepemimpinan geopolitik dan siapa yang lebih dulu menulis sejarah baru di luar angkasa.
China makin dekat ke target Bulan
Isaacman menyampaikan pandangan itu dalam pidato utama di konferensi ASCEND di Washington, AS, pada 19 Mei lalu. Ia menyebut momen ketika dunia kembali menyaksikan penerbangan awak antariksa mengelilingi Bulan kemungkinan akan dipimpin taikonaut China.
Hingga kini, pihak berwenang China belum mengumumkan jadwal resmi untuk misi itu. Namun, berbagai laporan dan pengamat antariksa menyebut Beijing tengah menyusun peta jalan terstruktur dengan target jangka panjang mendaratkan manusia di Bulan sebelum 2030.
Jika proyeksi tersebut terwujud, China akan semakin mendekati capaian yang selama puluhan tahun dikuasai Amerika Serikat. Sejauh ini, seluruh penerbangan berawak yang pernah mencapai wilayah Bulan, baik mengorbit, mengelilingi, maupun mendarat di permukaan Bulan, adalah misi NASA.
Tekanan ke NASA makin besar
NASA saat ini melanjutkan program Artemis sebagai penerus era Apollo. Sebanyak sembilan misi Apollo antara 1968 hingga 1972 berhasil mengantarkan astronaut AS ke permukaan Bulan, dan kini badan antariksa itu menyiapkan kelanjutan lewat Artemis 2.
Isaacman menilai laju program China mengingatkan pada semangat Amerika pada era 1960-an saat bersaing dengan Uni Soviet. Ia bahkan menyebut selisih waktu dalam perlombaan ini hanya dihitung dalam bulan, bukan tahun.
Dalam pandangannya, Amerika menargetkan kembalinya warga AS ke Bulan sebelum masa jabatan Presiden Trump berakhir. Di sisi lain, pesaingnya juga membidik pendaratan sebelum 2030, sehingga ruang untuk terlambat semakin sempit.
NASA ubah strategi dan jadwal
Dorongan untuk mengejar China membuat NASA menyesuaikan strategi dan jadwal. Awalnya, misi Artemis 3 yang akan mendaratkan manusia di Bulan dijadwalkan meluncur pada 2028.
Dalam revisi terbaru, misi itu bergeser ke masa uji terbang di orbit rendah Bumi pada 2027. Setelah itu, Artemis 4 dijadwalkan melakukan pendaratan di Bulan pada 2028.
Perubahan tersebut menunjukkan NASA ingin bergerak lebih agresif. Badan antariksa AS itu juga mengubah prioritas program agar sumber daya bisa dialihkan ke pembangunan pangkalan di permukaan Bulan.
Fokus bergeser dari Lunar Gateway
Salah satu langkah besar yang diambil NASA adalah menghentikan pengembangan proyek stasiun antariksa Lunar Gateway. Keputusan ini dibuat untuk mengalihkan sumber daya ke pembangunan pangkalan di Bulan dan memperbanyak misi pendaratan robot.
Langkah itu memperlihatkan bahwa NASA tidak hanya mengejar jadwal, tetapi juga merombak arah program. Strategi baru tersebut dipakai untuk menjaga posisi Amerika tetap kompetitif saat China mempercepat ambisi antariksa mereka.
Isaacman mengatakan laju China membuatnya teringat pada semangat Amerika ketika berlomba dengan Uni Soviet. Dukungan politik pun ikut muncul, termasuk dari anggota Kongres AS yang melalui Komite Anggaran DPR menyetujui alokasi dana lebih besar untuk program eksplorasi antariksa pada anggaran tahun fiskal 2027.
Dana tambahan itu ditujukan agar NASA tetap berada di jalur yang tepat. Dengan tekanan dari China dan perubahan strategi di internal NASA, persaingan menuju Bulan kini tampak makin ketat dan semakin dekat, dihitung dari bulan, bukan lagi dari tahun.
Source: www.cnbcindonesia.com




