Minyak Jelantah Disulap Jadi Bahan Bakar Pesawat, 915 Karyawan Pertamina Pamer Inovasi Hijau

Author: Cung Media

Pertamina menampilkan arah bisnis hijau yang makin serius lewat gagasan para karyawannya. Di ajang Annual Pertamina Quality Awards 2026 ke-16 di Jakarta, salah satu inovasi yang paling menarik perhatian adalah pengolahan minyak jelantah menjadi bahan bakar pesawat.

Terobosan itu muncul di tengah dorongan besar perusahaan untuk menjawab tantangan transisi energi global. Pertamina menempatkan inovasi sebagai bagian dari strategi membangun bisnis beremisi karbon rendah sambil mengejar target Net Zero Emission secara bertahap.

Minyak bekas yang naik kelas jadi bahan bakar pesawat

Salah satu sorotan utama datang dari Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap. Tim ini berhasil menciptakan Sustainable Aviation Fuel atau SAF, yakni bahan bakar pesawat ramah lingkungan dari olahan minyak goreng bekas.

Inovasi ini menunjukkan bahwa limbah rumah tangga bisa masuk ke rantai energi yang lebih bernilai. Pada saat yang sama, pendekatan tersebut mendukung agenda perusahaan untuk mencari solusi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Ratusan ide, satu panggung inovasi

Ajang APQ Awards 2026 mengusung tema “Elevating Talent, Accelerating Innovation, and Delivering Enterprise Value”. Sebanyak 915 pekerja berpartisipasi dalam 120 gugus inovasi yang tersebar di lingkungan internal Pertamina.

Beragam ide lain juga ikut mencuri perhatian dalam kompetisi itu. Salah satunya adalah pemanfaatan sisa makanan menjadi pelindung alat pengeboran minyak bumi.

Efisiensi biaya dan manfaat lingkungan

Tim PT Pertamina Drilling Services Indonesia atau PDSI juga meraih predikat Platinum lewat inovasi cairan antikarat untuk rig pengeboran. Produk yang diberi nama “Skin Care” itu dibuat dengan memanfaatkan limbah makanan yang sudah tidak terpakai.

Penggunaan bahan daur ulang tersebut disebut memberi penghematan anggaran hingga Rp 81 miliar bagi perusahaan. Selain menjaga kualitas alat, inovasi itu juga ditujukan untuk menekan pencemaran lingkungan dan mengurangi beban limbah.

Manager Organization & Quality Management PT PDSI Riyan Tamara menjelaskan bahwa inovasi itu lahir dari tantangan di lapangan. Ia menyebut alat pemboran sangat rentan terhadap karat, sehingga material ramah lingkungan menjadi pilihan yang relevan.

Inovasi yang diposisikan sebagai alat transformasi

Direktur Sumber Daya Manusia Pertamina Andy Arvianto menegaskan bahwa ratusan karya baru ini memberi dampak yang lebih luas dari sekadar perbaikan proses kerja harian. Menurut dia, program tersebut dirancang untuk membenahi alur kerja internal sekaligus menaikkan nilai korporasi.

Andy juga menyebut penguatan kompetensi pekerja, keandalan operasional, dan efisiensi biaya sebagai tujuan utama dari implementasi gagasan-gagasan itu. Ia menilai APQ Awards berfungsi sebagai instrumen strategis untuk membaca kondisi inovasi dan mutu di setiap entitas Pertamina Group.

Predikat Jumlah Gugus
Platinum 40
Gold 53
Silver 27

Pada penyelenggaraan tahun ini, tim penilai memberikan penghargaan Platinum kepada 40 gugus kerja. Sebanyak 53 gugus meraih predikat Gold, sementara 27 gugus inovasi memperoleh Silver.

Agar inovasi tidak berhenti di panggung penghargaan

VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron memastikan hasil karya para pekerja tidak berhenti pada seremoni. Manajemen akan memasukkan inovasi terpilih ke dalam sistem manajemen pengetahuan korporasi agar bisa diterapkan di wilayah operasi lainnya.

Integrasi itu ditujukan untuk mempercepat penyebaran formula yang telah teruji ke seluruh unit kerja di Indonesia. Pertamina juga menyiapkan pengawasan berkala melalui audit keberlanjutan agar manfaat inovasi tetap terasa dalam jangka panjang.

Dengan dorongan seperti ini, Pertamina menunjukkan bahwa inovasi internal bukan sekadar kompetisi, melainkan bagian dari upaya mempercepat transformasi bisnis. Dari minyak jelantah hingga limbah makanan, berbagai ide itu diarahkan untuk menghadirkan operasi yang lebih efisien dan lebih ramah lingkungan.

Terbaru