Anak Muda Ramai Investasi, Tapi Banyak yang Masuk Tanpa Paham Risikonya

Author: Cung Media

Minat anak muda untuk berinvestasi memang terus naik, tetapi pemahaman tentang cara kerja produk keuangan belum ikut mengejar. IPOT menilai kondisi ini sebagai tanda bahwa banyak investor muda masuk ke pasar karena tren, bukan karena benar-benar siap.

Kesenjangan itu terlihat jelas dari data SNLIK 2025 pada kelompok usia 18-25 tahun. Inklusi keuangan sudah mencapai 89,96 persen, tetapi literasi keuangan baru 73,22 persen.

Masuk lebih cepat daripada paham

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The menyebut perilaku tersebut sebagai “Joining Without the Understanding”. Istilah itu menggambarkan kebiasaan mulai berinvestasi tanpa bekal pengetahuan yang memadai soal risiko, mekanisme, dan karakter produk yang dibeli.

Di banyak kasus, dorongan itu datang dari fear of missing out atau FOMO. Anak muda tertarik masuk karena melihat orang lain untung, bukan karena memahami cara kerja investasinya.

Selisih inklusi dan literasi masih lebar

Data SNLIK 2025 menunjukkan selisih 16,74 poin persentase antara akses dan pemahaman keuangan pada kelompok muda. Angka itu menegaskan bahwa akses ke produk keuangan sudah luas, tetapi kemampuan memakainya belum seimbang.

IPOT menilai kondisi seperti ini berisiko membuat generasi muda hanya menjadi pengguna produk keuangan. Tanpa pemahaman yang cukup, keputusan investasi bisa diambil terlalu cepat dan tanpa pertimbangan risiko yang memadai.

Empat faktor pendorong yang disorot IPOT

Moleonoto menjelaskan ada empat penyebab utama. Pertama, pembukaan rekening investasi kini sangat mudah dan serba digital, sehingga calon investor sering langsung bertransaksi tanpa sempat belajar lebih dalam.

Kedua, keputusan investasi sering dipengaruhi rekomendasi teman atau lingkungan pergaulan, tetapi ajakan itu tidak selalu diikuti transfer pengetahuan yang cukup. Ketiga, sebagian industri masih lebih fokus mengejar jumlah pembukaan rekening baru daripada meningkatkan kompetensi investor dalam jangka panjang.

Keempat, ada kebiasaan mengonsumsi konten edukasi singkat yang disebut Moleonoto sebagai “TikTok-fication”. Istilah itu menggambarkan ilusi paham dari materi pendek yang terasa mudah dicerna, tetapi tidak benar-benar mendalam.

Edukasi dianggap makin mendesak

IPOT menilai persoalan ini perlu ditangani serius karena banyak anak muda masuk ke dunia investasi melalui media sosial atau dorongan sekitar. Dalam kondisi seperti itu, risiko sering kali kurang dipahami, padahal setiap instrumen punya karakter dan tingkat risiko berbeda.

Sebagai respons, IPOT menggandeng komunitas esports melalui ajang Kapolda Jateng Cup 2026 di De Tjolomadoe, Surakarta. Di sana, perusahaan menghadirkan program “Cerdas Finansial Bersama IPOT” yang menggabungkan literasi keuangan, teknologi kecerdasan buatan atau AI, dan pengenalan investasi.

Dalam kegiatan itu, IPOT juga menyediakan konsultasi langsung dengan penasihat keuangan berlisensi. Langkah ini ditujukan agar peserta bisa memahami pengelolaan keuangan, prinsip investasi, serta manajemen risiko dengan lebih jelas.

Moleonoto mengatakan komunitas esports punya karakter yang relevan dengan dunia investasi, seperti disiplin, fokus, dan kemampuan membaca strategi. Melalui pendekatan itu, IPOT berharap generasi muda tidak hanya menjadi pengguna produk keuangan, tetapi juga memahami dasar investasi dan perencanaan keuangan jangka panjang secara lebih matang.

Perusahaan yang mengelola dana nasabah sekitar Rp312 triliun itu juga ingin melahirkan generasi investor yang lebih cerdas dan disiplin. Harapannya, teknologi bisa dipakai secara bijak untuk mendukung kemandirian finansial, bukan sekadar mengikuti tren yang ramai di media sosial.

Source: www.suara.com
Terbaru