Memendam Emosi Bukan Tanda Kuat, Dokter Ungkap Risiko Obesitas hingga Diabetes pada Pria

Budaya “lelaki tidak bercerita” sering dianggap sebagai simbol keteguhan. Namun, dokter menilai kebiasaan memendam emosi justru bisa membawa dampak serius bagi kesehatan pria, mulai dari stres berkepanjangan, kenaikan berat badan, obesitas, hingga risiko diabetes.

Founder sekaligus Chairman Borderless Healthcare Group, Dr. Wei Siang Yu, menegaskan bahwa kesehatan mental pria sama pentingnya dengan kesehatan mental perempuan. Ia menyoroti tekanan sosial yang membuat banyak laki-laki merasa harus selalu kuat, tidak boleh menangis, dan sulit terbuka saat menghadapi masalah.

Emosi yang Dipendam Bisa Berubah Jadi Masalah Fisik

Menurut Dr. Wei, pria yang terbiasa menahan perasaan cenderung lebih sulit berbicara saat mengalami tekanan batin. Kondisi itu membuat beban psikologis menumpuk dan memicu rasa tidak bahagia yang berlangsung lama.

Ia menjelaskan bahwa sebagian pria mencari pelarian melalui makanan ketika tekanan tidak tersalurkan. Jika kebiasaan ini terus berulang, berat badan bisa naik dan berujung pada obesitas.

Obesitas Membuka Jalan ke Diabetes dan Gangguan Lain

Dr. Wei menyebut obesitas bukan hanya soal perubahan fisik. Kondisi itu juga dapat memicu gangguan mobilitas, radang sendi, hipertensi, hingga diabetes.

Dalam penjelasannya, ia menggambarkan rantai masalah tersebut sebagai situasi ketika seseorang tidak bahagia, lalu makan berlebihan, tubuh menjadi besar, dan kemudian muncul keluhan pada lutut, paha, hingga diabetes. Ia menekankan bahwa diabetes termasuk penyakit yang berbahaya karena dapat memicu komplikasi kronis lain.

Tekanan EmosionalDampak yang DisebutkanRisiko Lanjutan
Memendam perasaanStres berkepanjangan, rasa tidak bahagiaKenaikan berat badan, obesitas
Makan berlebihan saat tertekanPerubahan fisik dan beban tubuh bertambahGangguan mobilitas, radang sendi, hipertensi, diabetes
Stres tanpa penyaluran yang sehatPencarian pelarian melalui kebiasaan tertentuKerusakan pada tubuh dan mental

Sebagian Pria Melampiaskan Stres ke Rokok dan Alkohol

Selain makanan, Dr. Wei juga menyoroti respons sosial yang sering muncul saat pria berada dalam tekanan. Sebagian memilih merokok atau minum alkohol bersama teman sebagai pelarian dari masalah.

Menurutnya, kebiasaan itu justru memperburuk keadaan karena berjalan bersamaan dengan stres yang tidak terselesaikan. Kombinasi tekanan psikologis dan pola hidup tidak sehat dapat saling memperkuat risiko gangguan pada tubuh dan mental.

Kesehatan Pria Perlu Dilihat Secara Menyeluruh

Dr. Wei menekankan bahwa kesehatan pria tidak bisa dilihat hanya dari kondisi fisik. Ia mendorong pendekatan yang juga memperhatikan kebugaran tubuh, kesehatan mental, keseimbangan hormonal, dan aspek sosial.

Ia memperkenalkan konsep Longevity 5.0 sebagai layanan kesehatan yang lebih personal, terintegrasi, dan berkelanjutan. Melalui Continuum of Longevity Experiences atau CLE, layanan ini tidak berhenti di rumah sakit atau klinik.

Model tersebut menghubungkan layanan dari klinik, resor kesehatan, hingga rumah pasien. Sistem ini juga memungkinkan pasien di Indonesia terhubung dengan dokter lokal dan jaringan pakar longevity global melalui cloud yang terintegrasi, sehingga rekomendasi terapi dapat disusun lebih komprehensif dan multidisiplin.

Di tengah kuatnya budaya “lelaki tidak bercerita”, penjelasan Dr. Wei menunjukkan bahwa menahan emosi bukanlah tanda kekuatan. Jika tekanan batin terus dipendam dan disertai pola hidup tidak sehat, risiko obesitas, diabetes, dan gangguan kronis lain tetap membayangi banyak pria.

Source: www.suara.com

Terkait