Mayoritas Tumor Otak Primer Ternyata Jinak, Ini Gejala yang Sering Diabaikan

Tumor otak sering langsung dianggap sebagai vonis kanker ganas. Padahal, sebagian besar tumor otak primer justru bersifat jinak, meski tetap bisa berbahaya karena tumbuh di ruang kepala yang sempit.

Dokter Spesialis Bedah Saraf RS Premier Bintaro, dr. Moch. Evodia Slamet R., Sp.BS, menjelaskan bahwa tumor otak primer berasal dari jaringan atau selaput otak, sementara tumor sekunder muncul dari penyebaran kanker organ lain seperti payudara, paru-paru, atau tiroid. Perbedaan ini penting karena jenis tumor menentukan arah penanganan.

Mayoritas Bukan Tumor Ganas

Menurut dr. Evodia, data internasional menunjukkan sekitar 72 persen tumor otak primer bersifat jinak dan sekitar 28 persen bersifat ganas. Fakta ini menegaskan bahwa label tumor otak tidak otomatis berarti kanker agresif.

Namun, jinak bukan berarti aman. Massa yang tumbuh di dalam tengkorak tetap bisa menekan jaringan otak dan mengganggu fungsi-fungsi vital tubuh.

Gejala Bisa Berbeda-Beda

Tanda tumor otak sangat bergantung pada ukuran dan lokasinya. Karena itu, keluhan pada setiap pasien tidak selalu sama dan sering berkembang perlahan sebelum menjadi lebih berat.

Keluhan yang perlu diwaspadai antara lain nyeri kepala kronis yang makin berat, terutama bila disertai pandangan kabur. Kejang yang baru pertama kali muncul saat dewasa, gangguan keseimbangan, kelemahan tangan atau kaki, penurunan pendengaran, perubahan perilaku, muntah menyemprot, dan penurunan kesadaran juga termasuk gejala yang patut dicermati.

Bisa Menjadi Gawat Darurat

Dalam kondisi tertentu, tumor otak dapat berkembang menjadi keadaan yang mengancam nyawa. Risiko meningkat jika terjadi hidrosefalus atau penumpukan cairan di otak, maupun perdarahan pada jaringan tumor.

Kedua kondisi itu dapat menaikkan tekanan di dalam kepala dan memicu kerusakan otak permanen hingga kematian. Karena itu, deteksi dini menjadi langkah penting untuk meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan.

Pemeriksaan CT Scan dan MRI Jadi Kunci

Untuk menegakkan diagnosis, dokter umumnya menggunakan CT Scan atau MRI dengan kontras. Pemeriksaan dengan zat kontras sering dibutuhkan karena dapat memperlihatkan gambaran tumor lebih jelas dibandingkan tanpa kontras.

Hasil pencitraan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah terapi yang paling sesuai. Penanganan tumor otak memang sangat bergantung pada jenis, ukuran, dan letaknya.

Pilihan Terapi Semakin Luas

Perkembangan teknologi medis membuat terapi tumor otak kini semakin beragam. Opsi yang tersedia meliputi obat untuk mengurangi pembengkakan dan gejala, operasi bedah saraf terbuka, mikroskopik atau endoskopik, radioterapi, hingga kemoterapi pada jenis tertentu seperti glioblastoma.

Salah satu pilihan lain adalah Gamma Knife Radiosurgery, yaitu prosedur radiasi berpresisi tinggi tanpa sayatan untuk mengendalikan pertumbuhan tumor, terutama pada tumor berukuran kecil. Metode ini hanya membutuhkan satu kali tindakan dan tidak menimbulkan luka operasi.

Keluhan yang Tak Kunjung Hilang Jangan Diabaikan

Dr. Evodia menekankan pentingnya memeriksa keluhan neurologis yang menetap dan makin memburuk. Pemeriksaan dini membantu mempercepat diagnosis dan membuka peluang terapi yang lebih tepat.

Dengan semakin banyak pilihan penanganan, pasien tumor otak kini memiliki lebih banyak opsi medis. Mengenali gejala sejak awal dan segera berkonsultasi ke dokter tetap menjadi langkah penting sebelum komplikasi berkembang lebih jauh.

Source: www.suara.com

Terkait