
Maka Cavalry mulai menonjol karena membawa kombinasi yang jarang ada di motor listrik lokal: top speed tembus 108 km/jam dalam pengujian, tapi tetap nyaman untuk dipakai harian. Skutik listrik buatan Maka Motors ini juga ikut ramai dibahas karena datang dengan slogan “motor paling enak” dan, dari hasil uji jalan, klaim itu dinilai punya dasar yang cukup kuat.
Yang membuatnya menarik bukan hanya angka di atas kertas. Pengujian kanal Otomotif TV menunjukkan bahwa performa, handling, dan rasa berkendara menjadi kekuatan utama, meski ada beberapa catatan pada fitur dan finishing bodi.
Performa yang terasa nyata di jalan
Maka Cavalry memakai baterai lithium ferro phosphate 4 kWh dan motor listrik hub drive 4 kW. Tenaga puncaknya mencapai 9 kW atau setara 12 HP, dengan torsi 251 Nm.
Respons itu terasa saat motor mulai melaju. Dalam mode HT atau High Torque, karakter Cavalry disebut paling menarik karena akselerasinya agresif dan terasa ringan ketika gas dibuka.
Tarikan awalnya memang tidak meledak-ledak. Namun setelah berjalan, motor cepat merespons, termasuk saat dipakai menyalip atau menanjak.
Dalam pengujian, kecepatan puncaknya mencapai 108 km/jam. Angka itu sedikit melampaui klaim resmi 105 km/jam, dengan akselerasi yang disebut tidak jauh berbeda dari Honda PCX 160 RoadSync.
Dua mode berkendara yang berbeda karakter
Maka Cavalry menawarkan dua mode utama, yakni HT dan HR. Keduanya memberi pengalaman berkendara yang sangat berbeda dan membuat karakter motor berubah cukup signifikan.
Mode HT difokuskan pada performa. Mode ini dinilai paling natural untuk penggunaan harian karena memberi akselerasi responsif, meski tidak memiliki regenerative braking saat gas ditutup.
Saat mode HT aktif, motor terasa ngeloyor seperti motor manual ketika kopling ditarik. Karena itu, deselerasi lebih banyak bergantung pada rem.
Sebaliknya, mode HR atau High Regen mengejar efisiensi daya. Efek regenerative braking-nya sangat kuat untuk membantu memperpanjang jarak tempuh.
Karakter itu punya sisi lain yang kurang nyaman. Saat gas ditutup, motor terasa tertahan mendadak dan menimbulkan efek “ngayun”, sementara akselerasinya jauh lebih santai dibanding HT.
Di mode HR, kecepatan maksimal dibatasi sekitar 70 km/jam. Angka itu turun menjadi sekitar 40 km/jam saat baterai di bawah 11 persen, lalu tinggal sekitar 32 km/jam ketika indikator kura-kura muncul.
Jarak tempuh dan pengisian daya
Daya jelajah menjadi salah satu nilai jual paling penting pada Maka Cavalry. Dalam pengujian agresif memakai mode HT, motor ini mampu menempuh sekitar 91 kilometer dalam sekali pengisian.
Saat memakai mode HR yang lebih hemat energi, jarak tempuhnya naik menjadi sekitar 112 kilometer. Capaian itu membuat Cavalry tetap relevan untuk mobilitas harian hingga perjalanan lebih jauh.
Pabrikan mengklaim jarak tempuh bisa mencapai 160 kilometer. Namun angka tersebut berlaku bila motor digunakan dengan kecepatan rata-rata sekitar 25 km/jam.
Untuk pengisian daya, baterai 4 kWh membutuhkan waktu sekitar delapan jam dengan charger bawaan 500 watt. Daya charger yang kecil membuat beban listrik rumah lebih ringan, terutama bila pengisian dilakukan semalaman.
Maka juga menyediakan fast charging di dealer resmi. Dalam pengujian, pengisian selama 12 menit disebut mampu menambah jarak tempuh sekitar 20 kilometer.
Nyaman dipakai harian, meski fiturnya sederhana
Sisi handling dan suspensi ikut menjadi kekuatan utama Cavalry. Posisi duduknya disebut mirip Honda ADV 160 dan Honda PCX 160, dengan ergonomi santai khas skutik premium.
Saat diajak bermanuver, motor ini dinilai sangat nurut. Ban Maxxis soft compound memberi grip yang lengket, sehingga rasa percaya diri pengendara tetap terjaga.
Suspensi belakang disebut empuk dan nyaman. Sementara itu, suspensi depan kadang terasa terlalu lembut hingga mudah bottoming saat menghantam lubang besar atau polisi tidur dalam kecepatan tinggi.
Di sisi fitur, Cavalry masih tergolong sederhana untuk harga sekitar Rp35,85 juta on the road Jakarta. Motor ini belum memakai keyless, ABS, atau konektivitas aplikasi smartphone, dan panel instrumennya juga dinilai basic meski tetap informatif.
Meski begitu, sejumlah fitur praktis tetap ada. Seluruh lampu sudah LED, tersedia tombol mundur, USB charger, dan dudukan khusus holder ponsel di setang.
Bagasi 20 liter di bawah jok juga cukup lega untuk menyimpan charger, jas hujan, dan perlengkapan harian. Soal build quality, komponen logam seperti pelek, suspensi, dan lengan ayun dinilai rapi, meski beberapa panel bodi plastik masih terlihat kurang presisi dan agak renggang di sejumlah bagian.





