
Mahasiswa Teknik Elektro Universitas Widya Kartika (UWIKA) di Surabaya mengembangkan helm pintar berbasis Internet of Things (IoT) untuk membantu meningkatkan keselamatan pekerja tambang. Inovasi ini dirancang agar kondisi lingkungan dan kondisi fisik pekerja bisa dipantau secara langsung saat aktivitas berlangsung di lapangan.
Gagasan tersebut muncul dari kebutuhan akan sistem keselamatan yang lebih tanggap di area tambang yang memiliki risiko tinggi. Perubahan cuaca, gas berbahaya, dan kondisi tubuh pekerja yang dapat menurun sewaktu-waktu menjadi alasan utama perlunya alat pemantauan yang mampu memberi peringatan lebih cepat.
Pemantauan real-time untuk lingkungan dan tubuh pekerja
Smart helmet ini memakai sejumlah sensor untuk membaca situasi di sekitar pengguna. Sensor suhu LM 135 berfungsi mendeteksi perubahan temperatur lingkungan, sedangkan sensor gas beracun MQ-135 digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan gas berbahaya di area kerja.
Selain itu, helm dilengkapi sensor MAX30102 yang memantau detak jantung dan kadar oksigen dalam darah atau SpO₂. Dengan sensor ini, perangkat tidak hanya memantau kondisi sekitar, tetapi juga membantu mengetahui apakah tubuh pekerja masih berada dalam kondisi aman selama bekerja.
Ada pelacakan lokasi dan peringatan otomatis
Helm pintar UWIKA juga dibekali sistem pelacakan lokasi berbasis GPS. Fitur ini memudahkan pihak terkait mengetahui posisi pekerja secara akurat, terutama saat terjadi keadaan darurat atau ketika pekerja berada di area tambang yang luas.
Saat sistem mendeteksi kondisi berisiko, voice alert akan aktif secara otomatis. Informasi status juga ditampilkan pada layar LCD yang terpasang di perangkat, sehingga pengguna dapat segera mengetahui apakah situasi di sekitarnya aman atau perlu waspada.
Data diolah dengan Fuzzy Mamdani
Data dari sensor tidak hanya ditampilkan, tetapi juga diproses dengan metode Fuzzy Mamdani. Sistem ini membantu menggabungkan berbagai parameter yang terbaca lalu mengklasifikasikan kondisi menjadi dua status utama, yaitu aman dan bahaya.
Pendekatan tersebut membuat penilaian sistem menjadi lebih adaptif karena keputusan tidak bergantung pada satu indikator saja. Kombinasi data suhu, gas, detak jantung, kadar oksigen, dan lokasi memberi gambaran yang lebih utuh tentang tingkat risiko yang sedang dihadapi pekerja.
Terhubung ke aplikasi Blynk
Smart helmet ini juga terintegrasi dengan aplikasi berbasis IoT bernama Blynk. Melalui aplikasi tersebut, data dapat dipantau dari jarak jauh oleh pengawas atau manajemen tanpa harus berada di lokasi yang sama dengan pekerja.
Konektivitas ini memberi nilai tambah dalam pengawasan karena informasi bisa diterima secara real-time. Dalam situasi tertentu, pemantauan jarak jauh dapat membantu pihak terkait mengambil langkah lebih cepat dan lebih tepat saat ada indikasi bahaya.
Relevan untuk lebih dari satu sektor
Inovasi smart helmet UWIKA tidak hanya dinilai berguna untuk pertambangan. Teknologi serupa juga berpeluang diterapkan di sektor konstruksi, manufaktur, hingga energi, selama penyesuaian dilakukan sesuai kebutuhan masing-masing lapangan.
Pengembangan ini menunjukkan bahwa teknologi dapat memperkuat budaya keselamatan kerja dengan cara yang lebih modern dan responsif. Melalui sensor, analisis data, peringatan otomatis, perangkat ini menawarkan cara baru untuk memantau risiko di lingkungan kerja yang berbahaya secara lebih praktis dan terhubung.





