Sebuah lukisan dari 1611 kini dibaca ulang sebagai bukti visual yang tak biasa tentang perilaku kelelawar purba. Di dalam karya itu, para peneliti menemukan detail yang selaras dengan temuan sains modern baru pada 2025: kelelawar yang memangsa burung.
Temuan tersebut berasal dari lukisan Jan Brueghel the Elder berjudul Air, sebuah karya alegoris era Renaissance yang dikenal karena ketelitian detail hewan dan tumbuhannya. Pada sudut kanan atas kanvas, tampak seekor kelelawar membawa burung di mulutnya saat terbang, detail kecil yang kini memicu pembacaan baru atas hubungan antara seni dan sejarah alam.
Seni yang Menyimpan Catatan Alam
Lukisan kuno tidak selalu berhenti sebagai objek estetika. Dalam banyak kasus, karya seni juga bisa menjadi arsip visual yang merekam hewan dan tumbuhan yang dikenal pada zamannya.
Miguel Clavero dari Estación Biológica de Doñana, salah satu penulis studi ini, mengatakan kepada IFLScience bahwa sumber di luar akademi sejarah alam kerap diabaikan. Menurut dia, karya seni dan kamus geografis dapat menjadi “ratusan ribu catatan” yang membantu memahami distribusi hewan di masa lalu.
Dalam lukisan Air, Brueghel menampilkan berbagai burung yang mudah dikenali, termasuk angsa, pelikan, dan burung hupo. Ia juga menggambar spesies lain yang menunjukkan luasnya jaringan perdagangan dan pengetahuan global pada masa itu.
| Contoh Hewan dalam Lukisan | Asal atau Keterangan | Makna |
|---|---|---|
| Angsa, pelikan, burung hupo | Spesies asli Eropa | Menunjukkan pengamatan alam yang dekat |
| Burung paruh betet abu-abu Afrika, bangau mahkota abu-abu, merak India, cendrawasih Raggiana, kalkun, makau | Beragam wilayah di Afrika, Asia, dan Amerika | Mencerminkan jangkauan perdagangan dan pengetahuan global |
Kelelawar yang Cocok dengan Temuan Modern
Hewan yang digambar di sudut lukisan itu diidentifikasi para peneliti sebagai kelelawar malam besar atau greater noctule bat. Identifikasi ini penting karena spesies yang sama baru dibahas dalam jurnal ilmiah modern pada 2025 sebagai kelelawar pemangsa burung.
Clavero menilai bagian ini kemungkinan lebih dekat ke lisensi artistik daripada pengamatan langsung. Ia menjelaskan bahwa kelelawar tidak akan bisa bernavigasi dengan baik jika mulutnya tersumbat burung, karena ekolokasi mereka bergantung pada suara yang dikeluarkan melalui mulut.
Di alam nyata, kelelawar jenis itu biasanya memakan mangsanya di tanah atau saat bertengger, bukan sambil terbang membawa burung. Namun, menurut Clavero, Brueghel tampaknya tidak menggambar sembarang kelelawar karena spesies yang dipilih justru cocok dengan perilaku yang kini telah divalidasi sains.
Para peneliti menduga Brueghel mungkin mendengar cerita dari penduduk setempat saat bepergian ke Italia, atau melihat tanda-tanda seperti bulu burung di tempat kelelawar bertengger. Dari sana, ia memasukkan detail itu ke dalam komposisi lukisan yang sedang dikerjakannya.
Kasus ini memperlihatkan bagaimana karya seni dapat menjadi jendela penting untuk membaca sejarah alam. Analisis lengkap lukisan tersebut telah diterbitkan di PNAS, dan temuan ini menambah bukti bahwa pengamatan masa lalu tidak selalu lahir dari laboratorium.
