UBTech membawa arah baru dalam robot humanoid lewat U1, robot hiper realistis yang tidak ditujukan untuk pabrik atau pergudangan. Targetnya justru sangat personal, yakni menemani kaum lajang dan lansia dalam keseharian.
Perubahan ini membuat U1 berbeda dari banyak robot humanoid lain yang selama ini identik dengan otomasi kerja. UBTech memposisikannya sebagai pendamping dengan kemampuan percakapan, kontak mata, dan respons emosional berbasis kecerdasan buatan.
Bukan Robot Rumah Tangga Biasa
Dalam peluncurannya di Shenzhen, UBTech menegaskan bahwa U1 bukan robot rumah tangga yang diprogram untuk mencuci piring, memasak, atau membersihkan rumah. Fokusnya ada pada interaksi sosial yang lebih natural, bukan pekerjaan domestik.
Perusahaan itu juga menyediakan U1 dalam versi laki-laki dan perempuan. Meski tampilannya dibuat makin menyerupai manusia, UBTech menegaskan U1 tidak dirancang untuk menawarkan hubungan intim, setidaknya untuk saat ini.
Membaca Emosi Lewat Kamera di Mata
Dalam demonstrasi yang ditunjukkan, U1 dapat berbicara, mempertahankan kontak mata, dan mengenali kondisi emosional pemiliknya. Mata robot ini dibekali kamera yang bisa mendeteksi tanda-tanda stres, kelelahan, atau perubahan ekspresi wajah tertentu.
Seluruh proses pengenalan emosi dilakukan langsung di dalam perangkat, tanpa mengirim data ke server eksternal. UBTech menyebut pendekatan itu dipilih untuk menjaga privasi karena robot akan digunakan di rumah dan berinteraksi setiap hari dengan pemiliknya.
Perusahaan juga mengklaim data pribadi tetap tersimpan di dalam perangkat dan tidak bergantung pada layanan komputasi awan. Dengan begitu, risiko penyalahgunaan data maupun akses dari pihak luar disebut bisa diminimalkan.
Tampilan Realistis, Tapi Masih Jauh dari Sempurna
UBTech mengakui U1 masih belum bisa disamakan dengan manusia sungguhan. Saat diperagakan, robot ini bisa menjaga kontak mata dan berbicara cukup alami, tetapi gerakan tubuh dan ekspresi wajahnya masih memperlihatkan unsur mekanis di balik lapisan kulit silikon.
Material silikon yang digunakan diklaim memiliki tekstur menyerupai kulit manusia, meski masih terasa lebih dingin saat disentuh. Gerakan otot dan persendiannya juga belum sepenuhnya luwes, sehingga kesan realistisnya belum sempurna.
Kecerdasan emosional U1 pun bukan emosi nyata, melainkan hasil analisis pola menggunakan kecerdasan buatan dan model bahasa besar. UBTech menilai ini tetap menjadi langkah awal menuju generasi robot humanoid yang makin natural dalam berinteraksi dengan manusia.
Teknologi yang Dipinjam dari Walker S2
Sebelum U1, UBTech lebih dulu memperkenalkan Walker S2, robot humanoid yang disebut bisa berjalan mandiri sekaligus mengganti baterainya sendiri tanpa bantuan manusia. Robot itu dapat memantau daya, menuju stasiun pengisian, melepas baterai lama, lalu memasang baterai baru.
Teknologi Walker S2 menjadi fondasi penting bagi pengembangan U1, meski arah keduanya berbeda. Jika Walker S2 diarahkan untuk efisiensi kerja, U1 dipusatkan pada interaksi sosial dan pendampingan emosional.
| Model | Fokus | Ciri Utama | Catatan |
|---|---|---|---|
| U1 | Pendamping emosional | Percakapan, kontak mata, deteksi emosi | Dirancang untuk lajang dan lansia |
| Walker S2 | Otomasi kerja | Bisa berjalan mandiri dan ganti baterai sendiri | Menjadi fondasi pengembangan U1 |
Minat Pasar Sudah Besar
UBTech mengungkapkan U1 sudah memperoleh lebih dari 13.000 pemesanan awal. CEO sekaligus pendiri UBTech, Zhou Jian, mengatakan angka itu terkumpul dalam waktu singkat setelah masa reservasi dibuka.
Calon pembeli hanya perlu membayar uang muka 3.000 yuan atau sekitar Rp 10,3 juta, yang bisa dikembalikan jika pesanan dibatalkan. U1 hadir dalam dua pilihan karakter, yakni versi perempuan setinggi sekitar 167 sentimeter dan versi laki-laki setinggi sekitar 183 sentimeter.
Masing-masing model dibekali 88 motor servo di berbagai persendian tubuh agar gerakannya lebih fleksibel dibanding generasi sebelumnya. UBTech juga menyematkan struktur leher biomimetik dengan dua titik putar yang diklaim bisa meniru sekitar 90% gerakan leher manusia dalam aktivitas sehari-hari.
Dikutip dari Fast Company, peluncuran U1 berlangsung saat pemerintah China menempatkan robot humanoid sebagai salah satu sektor prioritas teknologi nasional. Dalam rencana lima tahun terbaru, robot diarahkan menjadi perangkat serbaguna yang dipadukan dengan AI untuk mendukung banyak aktivitas manusia.
Presiden Federasi Robotika Internasional Takayuki Ito menilai China sedang bergeser dari otomatisasi industri konvensional menuju robotika cerdas berbasis AI. Pemerintah bahkan memasukkan robot humanoid ke dalam 10 industri strategis yang akan menjadi motor pertumbuhan ekonomi pada periode 2026 hingga 2030.
Barclays memperkirakan sekitar 11 juta robot humanoid akan beroperasi di China pada 2035, sementara Morgan Stanley mencatat penjualan sepanjang tahun lalu baru sekitar 12.000 unit. Di tengah pasar yang masih kecil tetapi menjanjikan itu, U1 diposisikan sebagai tanda bahwa robot humanoid mulai masuk ke ruang paling personal: rumah dan kehidupan sehari-hari.
