Serangan ke Pembangkit dan Desalinasi Kuwait, Konflik AS-Iran Ancam Jalur Energi Dunia

Konflik AS-Iran memasuki tahap yang lebih mengkhawatirkan setelah fasilitas pembangkit listrik dan desalinasi air laut di Kuwait dilaporkan terkena serangan Iran. Kerusakan pada instalasi vital tersebut memunculkan risiko langsung terhadap pasokan listrik dan air bersih di negara Teluk yang sangat bergantung pada desalinasi.

Tekanan juga muncul di laut, tempat Selat Hormuz, Laut Merah, dan Bab el-Mandeb kembali menjadi titik rawan bagi pengiriman energi. Ancaman terhadap kapal tanker dan dugaan keberadaan jalur ranjau membuat gangguan regional berpotensi menjalar ke perdagangan minyak dan gas dunia.

Fasilitas Air dan Listrik Menjadi Sasaran

Pemerintah Kuwait mengonfirmasi sebuah fasilitas pembangkit listrik sekaligus desalinasi air laut mengalami serangan. Insiden itu menyebabkan kerusakan, kebakaran, dan gangguan pada sejumlah besar unit pembangkit.

Bagi negara-negara Arab Teluk, fasilitas desalinasi bukan sekadar infrastruktur pendukung. Instalasi tersebut memasok air bersih untuk kota-kota besar di kawasan gurun, sehingga gangguan operasional dapat berdampak langsung pada kehidupan warga.

Lokasi atau JalurPeristiwa yang DilaporkanDampak Utama
KuwaitFasilitas pembangkit listrik dan desalinasi terkena serangan IranKerusakan, kebakaran, dan gangguan unit pembangkit
Bandar Khamir, IranJembatan dan stasiun kereta api menjadi sasaran seranganTujuh orang dilaporkan tewas dalam serangan jembatan
Selatan Selat HormuzDua kapal tanker dilaporkan meledak dan terbakar setelah melintasi jalur ranjauAncaman terhadap pelayaran dan pasokan energi
Laut Merah dan Bab el-MandebKapal disita kelompok bersenjata di lepas pantai YamanRisiko keamanan jalur minyak meningkat

Perluasan sasaran ini terjadi setelah gencatan senjata antara Washington dan Teheran runtuh pada pekan sebelumnya, menurut laporan CNBC Indonesia. Konflik yang semula berpusat pada target militer kini turut menyentuh jaringan transportasi, energi, dan air.

Komando Pusat Militer AS atau CENTCOM menyatakan operasinya diarahkan ke “infrastruktur logistik militer”. Dalam pernyataan melalui akun X, CENTCOM mengatakan serangan itu ditujukan untuk terus melemahkan kemampuan militer Iran atas arahan Panglima Tertinggi.

Serangan di Iran dan Ancaman Balasan

Pada Jumat, 17 Juli 2026, militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah jembatan di Iran. Media pemerintah Iran sebelumnya melaporkan sedikitnya lima jembatan di wilayah selatan negara itu menjadi sasaran.

Bandar Khamir termasuk lokasi yang terdampak, dengan tujuh orang dilaporkan tewas akibat serangan terhadap jembatan di kota pelabuhan itu. Stasiun kereta api di kota tersebut juga disebut terkena serangan, sementara bandara di Iranshahr yang berbatasan dengan Pakistan dilaporkan ikut menjadi target.

Reuters memverifikasi video yang memperlihatkan puing-puing, pagar pembatas hancur, kendaraan rusak, serta api di lokasi jembatan ambruk di Bandar Khamir. Media Iran juga melaporkan ledakan atau serangan di Sirik, Ahvaz, dan Yazd.

Iran kemudian mengumumkan serangan terhadap negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS, termasuk Bahrain, Qatar, dan Kuwait. Garda Revolusi Iran juga mengeklaim menyerang gudang penyimpanan drone AS di Bahrain serta pusat kecerdasan buatan utama negara itu menggunakan rudal balistik dan drone.

Angkatan Laut Iran turut menembakkan rudal jelajah pantai-ke-laut ke arah kapal AS yang disebut berada di Samudra Hindia bagian utara. Kantor berita IRNA melaporkan rudal tersebut membuat kapal itu menjauh dari jangkauan Angkatan Laut Iran.

Selat Hormuz Menambah Risiko Pasokan Energi

Ketegangan di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar karena jalur itu penting bagi pasokan energi dari kawasan Teluk. Marinir AS dilaporkan menaiki sebuah kapal tanker di dekat selat, sementara media Iran yang mengutip Garda Revolusi menyebut dua tanker terbakar setelah melewati jalur ranjau di selatan selat.

Garda Revolusi menyatakan ekspor energi kawasan tidak dapat berlangsung selama “agresi” AS belum dihentikan. Dalam pernyataan di televisi pemerintah Iran, kelompok itu mengatakan ekspor pupuk kimia serta “setetes pun minyak dan gas” dari kawasan tidak mungkin berjalan sampai agresi berakhir.

Gangguan keamanan juga merambat ke Laut Merah setelah sebuah kapal disita kelompok bersenjata di lepas pantai Yaman. Kejadian itu menambah tekanan di Bab el-Mandeb, jalur yang menghubungkan Laut Merah dan Teluk Aden serta penting bagi pelayaran minyak global.

Pasar energi bereaksi cepat terhadap perkembangan tersebut. Harga minyak mentah Brent naik sekitar 3% pada Jumat dan berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut.

Penasihat Pemimpin Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memperingatkan Washington agar tidak meningkatkan eskalasi atau mencoba merebut wilayah Iran. “Jika serangan Amerika Serikat terus berlanjut selama beberapa hari lagi, kami akan memasuki fase operasi ofensif berskala penuh,” kata mantan komandan tertinggi Garda Revolusi itu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan keprihatinan atas meluasnya konflik ke fasilitas sipil di Iran dan kawasan sekitarnya. Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menilai peningkatan serangan terhadap infrastruktur sipil sebagai perhatian serius di tengah risiko konflik yang terus melebar.

Source: www.cnbcindonesia.com
Terkait