Anak tidak selalu berani menceritakan masalah, bahkan kepada orang tua yang dekat dengannya. Keberanian untuk jujur lebih mungkin tumbuh ketika anak yakin akan menerima respons yang aman saat menghadapi hal sulit.
Rasa aman tersebut tidak dibangun lewat satu percakapan besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan berulang. Respons orang tua pada saat anak sedih, marah, melakukan kesalahan, atau terlibat konflik dapat menentukan apakah anak memilih terbuka atau diam.
Pelatih pengasuhan anak Reem Raouda menilai kedekatan saja belum cukup untuk menumbuhkan kejujuran. Dari pengamatannya terhadap lebih dari 200 hubungan orang tua dan anak, ia melihat bahwa kepercayaan tumbuh melalui cara orang tua menghadapi emosi dan percakapan yang tidak nyaman.
Beautynesia, yang mengutip CNBC Make It, menyebut orang tua dapat menjadi tempat pulang yang dipercaya dengan menciptakan ruang aman untuk berbicara. Kebutuhan akan ruang seperti ini tidak hilang ketika anak bertambah besar dan persoalan yang dihadapinya semakin rumit.
| Kebiasaan Orang Tua | Dampak bagi Anak |
|---|---|
| Menenangkan diri sebelum merespons | Anak tidak takut terhadap reaksi orang tua |
| Berbagi tentang diri sendiri | Anak melihat contoh keterbukaan |
| Menanyakan perasaan anak | Anak merasa pikiran dan emosinya diperhatikan |
| Menerima berbagai emosi | Anak tidak merasa dihakimi |
| Memperbaiki diri setelah konflik | Anak belajar bahwa konflik dapat dipulihkan |
1. Menenangkan Diri Sebelum Merespons Anak
Reaksi pertama orang tua sering menjadi penentu apakah anak akan melanjutkan ceritanya. Saat orang tua langsung marah atau panik, anak dapat menangkap pesan bahwa masalahnya terlalu berbahaya untuk dibicarakan.
Menenangkan diri sebelum memberi tanggapan membantu orang tua tidak memperlakukan emosi anak sebagai ancaman yang harus segera dihentikan. Sikap yang lebih tenang memberi anak ruang untuk menjelaskan keadaan tanpa lebih dulu takut dimarahi.
2. Berbagi Tentang Siapa Diri Mereka
Dalam Komunikasi Orang Tua dan Anak, keterbukaan tidak hanya perlu diminta dari anak. Orang tua juga dapat menunjukkan secara wajar bahwa mereka mengenal dan mampu membagikan perasaan sendiri.
Rasa bahagia, sedih, maupun stres dapat disampaikan tanpa mengubah anak menjadi tempat menanggung masalah orang dewasa. Contoh tersebut membantu anak melihat bahwa membicarakan perasaan adalah hal yang dapat dilakukan dengan aman.
3. Sering Bertanya Tentang Perasaan Anak
Percakapan di rumah kerap berpusat pada nilai, tugas, aturan, atau prestasi. Pertanyaan tentang perasaan memberi sinyal bahwa keadaan batin anak juga penting untuk didengar.
Orang tua dapat membuka dialog dengan bertanya, “Apa perasaanmu hari ini?”, “Ada hal sulit yang sedang kamu pikirkan?”, atau “Apakah kamu bahagia?”. Dalam Pola Asuh Anak, perhatian terhadap pertanyaan semacam ini menunjukkan bahwa pikiran dan emosi anak layak mendapat tempat.
4. Menerima Berbagai Emosi
Anak tidak hanya membutuhkan orang tua ketika sedang gembira dan mudah diajak bicara. Mereka juga perlu merasa diterima saat marah, kecewa, sedih, atau berada dalam suasana hati yang buruk.
Menerima emosi tidak berarti membiarkan semua tindakan tanpa batas. Sikap ini berarti orang tua tidak membuat anak merasa takut atau dihakimi hanya karena sedang merasakan emosi yang tidak menyenangkan.
5. Memperbaiki Diri Setelah Konflik
Konflik antara orang tua dan anak dapat terjadi, tetapi pertengkaran tidak harus menghapus Kepercayaan Anak. Pemulihan setelah emosi mereda justru dapat menunjukkan bahwa hubungan tetap bisa diperbaiki.
Orang tua dapat mengakui apabila telah bersikap terlalu keras dan meminta maaf kepada anak. Kalimat seperti, “Tadi aku terlalu keras padamu” atau “Maafkan kesalahan ibu dan ayah ya,” membantu anak memahami bahwa kesalahan perlu diakui dan diperbaiki.
Kebiasaan tersebut tidak menjamin hubungan keluarga akan selalu bebas masalah. Namun, respons yang tenang, perhatian pada emosi, serta keberanian bertanggung jawab setelah konflik dapat membuat anak memandang orang tua sebagai sosok yang aman untuk dipercaya hingga dewasa.
