Kazakhstan muncul sebagai opsi baru dalam tarik-ulur diplomasi nuklir Iran. Negara itu menyatakan kesiapan menyimpan cadangan uranium yang diperkaya milik Teheran jika Washington dan Iran mencapai kesepakatan soal program nuklir.
Gagasan ini langsung menyorot satu titik paling sensitif dalam pembicaraan lama antara Amerika Serikat dan Iran. Penyimpanan uranium di negara ketiga dipandang sebagai langkah teknis yang bisa membantu membangun kepercayaan, tetapi hanya jika semua pihak utama menyetujuinya.
Kazakhstan membuka pintu
Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional atau IAEA, Rafael Grossi, menyampaikan bahwa Kazakhstan telah membuka kemungkinan menjadi lokasi penyimpanan uranium Iran. Menurut Financial Times, stok itu disebut berada pada tingkat pengayaan yang mendekati kebutuhan untuk pembuatan senjata nuklir.
Grossi menilai sikap terbuka Kazakhstan dapat menjadi salah satu jalan tengah dalam proses negosiasi. Dalam kerangka diplomasi nuklir, penempatan cadangan uranium di luar Iran memang pernah dibahas sebagai salah satu opsi untuk meredakan ketegangan.
Namun, skema seperti itu tidak bisa berjalan sepihak. Kesepakatan harus diterima oleh semua pihak utama agar transfer atau penyimpanan cadangan uranium dapat dilakukan dengan aman secara politik dan diplomatik.
Teheran menolak melepas kendali
Di sisi lain, Iran menunjukkan penolakan tegas terhadap wacana penyerahan cadangan uranium ke pihak luar. Ketua Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menegaskan bahwa Teheran tidak akan menyerahkan uranium yang telah diperkaya kepada negara ketiga maupun pihak perantara.
Azizi menyampaikan penolakan itu di tengah pembahasan mengenai kemungkinan transfer uranium yang telah diperkaya hingga 60% ke China. Ia menegaskan, “Iran tidak berencana menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya kepada negara ketiga atau pihak perantara.”
Sikap ini memperlihatkan bahwa Iran masih ingin mempertahankan kendali penuh atas material nuklirnya. Posisi tersebut membuat peluang solusi teknis dari luar negeri tetap bergantung pada perubahan sikap Teheran.
Diplomasi masih berjalan di jalur sempit
Perbedaan pandangan antara IAEA, Kazakhstan, dan Iran menunjukkan bahwa sengketa nuklir belum mendekati titik selesai. Di satu sisi, ada tawaran tempat penyimpanan di negara ketiga yang bisa menjadi pengaman sementara.
Di sisi lain, penolakan Iran menegaskan bahwa isu cadangan uranium tetap menjadi bagian paling rumit dalam pembahasan program nuklir Teheran. Selama belum ada kesepakatan yang disetujui bersama, wacana penyimpanan di luar negeri akan terus bergantung pada negosiasi yang rapuh.
Situasi ini juga menempatkan peran mediator sebagai unsur penting dalam diplomasi. Jalur pembicaraan masih terbuka, tetapi setiap langkah baru akan sangat ditentukan oleh seberapa jauh pihak-pihak yang terlibat mau menerima kompromi.
Source: www.beritasatu.com






