Kalimat Tidak Efektif Sering Lolos, Ciri-Cirinya Mudah Dikenali Sebelum Nilai Turun

Kalimat tidak efektif masih sering lolos dalam percakapan sehari-hari, tugas sekolah, hingga tulisan ilmiah. Masalahnya sederhana, karena kalimat semacam ini membuat gagasan tersampaikan secara berbelit-belit sehingga inti pesan sulit ditangkap.

Di lingkungan akademik, masalah ini justru makin penting diperhatikan. Tulisan yang terlalu rumit, tidak tepat sasaran, atau ambigu dapat membuat karya ilmiah sulit dipahami dan memberi kesan kurang baik pada penulisnya.

Apa yang membuat kalimat dianggap tidak efektif

Kalimat tidak efektif adalah kalimat yang penyampaiannya tidak jelas dan tidak tepat sasaran. Bentuknya sering terasa berbelit-belit, boros kata, atau memiliki makna yang ambigu.

Kondisi itu membuat pembaca atau pendengar kesulitan memahami maksud kalimat. Risiko ini makin besar jika tanda baca yang dipakai juga kurang tepat.

Ciri paling mudah dikenali

Ciri utama kalimat tidak efektif adalah inti pesannya tidak tersampaikan dengan jelas. Selain itu, kalimat seperti ini kerap memakai kata jamak secara berlebihan dan memiliki subjek serta predikat yang kurang tegas.

Penanda lain juga mudah ditemukan saat membaca dengan teliti. Unsur kalimat bisa kabur, diksi terasa tidak pas, ejaan tidak sesuai dengan PUEBI, ide pokok tidak tampak, dan penggunaan kata menjadi boros.

Dalam praktiknya, ciri-ciri itu sering muncul bersamaan. Satu kalimat bisa terasa panjang, tetapi justru tidak memberi tambahan kejelasan.

Contoh yang sering muncul di keseharian

Kalimat tidak efektif sering terlihat dari pengulangan kata yang tidak perlu. Contohnya muncul pada frasa seperti “ada banyak macam-macam”, “para tamu-tamu”, atau “stiker-stiker” yang membuat kalimat terasa dobel dan tidak efisien.

Masalah lain muncul ketika kalimat memuat susunan yang kurang tepat. Bentuk seperti “Handphone adalah merupakan alat untuk komunikasi” atau “Dalam presentasi itu membicarakan” menunjukkan struktur yang tidak rapi dan inti informasi yang kurang tegas.

Ada juga kalimat yang tampak sederhana, tetapi tetap tidak efektif karena ide utamanya kabur. Kalimat seperti “Meskipun sakit, Budi tetap pergi berangkat kerja” atau “Walaupun sangat lelah sekali” menampilkan pengulangan makna yang sebenarnya bisa dipangkas.

Mengapa perlu segera diperbaiki

Kalimat tidak efektif bukan sekadar soal gaya bahasa. Masalah ini berkaitan langsung dengan ketepatan menyampaikan pesan kepada pembaca atau pendengar.

Di tugas sekolah dan kuliah, kalimat seperti ini bisa mengganggu pemahaman guru, dosen, atau pembaca lain. Karena itu, penulis perlu menjaga kejelasan unsur kalimat, pemilihan diksi, penggunaan ejaan, dan efisiensi kata.

Semakin ringkas dan tepat sebuah kalimat, semakin mudah pesan utamanya diterima. Sebaliknya, kalimat yang bertele-tele justru membuat pembaca harus menebak-nebak maksud yang ingin disampaikan.

Source: www.idntimes.com
Terkait