Jawa Barat Menuju Sunda, Jejak Panjang Identitas yang Tak Sekadar Nama Wilayah

Author: Cung Media

Wacana mengganti nama Provinsi Jawa Barat menjadi Sunda atau Tatar Sunda kembali menguat setelah seluruh fraksi di DPRD Jawa Barat memberi lampu hijau untuk pembahasan lanjutan. Di balik itu, ada dorongan untuk menegaskan identitas yang dinilai lebih tua daripada batas administratif modern.

Gagasan tersebut tidak hanya menyangkut nama wilayah. Sejumlah akademisi menempatkannya sebagai upaya menghubungkan kembali masyarakat dengan sejarah kebumian, budaya, bahasa, dan memori kolektif yang dianggap telah melekat jauh sebelum provinsi modern terbentuk.

Identitas yang Tidak Berhenti di Peta Administrasi

Guru Besar Universitas Padjadjaran, Ganjar Kurnia, yang ikut dalam tim pengkaji Provinsi Sunda atau Tatar Sunda, menilai nama Jawa Barat hanya menunjukkan arah mata angin. Ia menegaskan bahwa secara geografis wilayah yang lebih barat justru berada di Banten.

Menurut Ganjar, istilah Sunda membawa makna yang lebih dalam karena terkait dengan ruang hidup, akar kebumian, dan ikatan emosional masyarakat. Dalam pandangan itu, Sunda bukan hanya label budaya atau etnis, tetapi juga nama yang menempel pada lanskap sejarah yang jauh lebih tua.

Jejak Sunda dalam Geologi dan Sejarah Bumi

Dalam ilmu kebumian dikenal Paparan Sunda atau Sunda Shelf, yakni kawasan landas kontinen Asia Tenggara yang mencakup Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan wilayah sekitarnya. Para pakar sejarah dan geologi menyebut daratan itu kemudian tenggelam setelah zaman es berakhir dan permukaan air laut naik, sehingga membentuk kepulauan seperti sekarang.

Istilah Sunda dalam konteks ini bersifat geografis dan geologis, bukan penanda suku atau budaya tertentu. Ganjar juga menyebut istilah Sunda Besar dan Sunda Kecil telah lama dipakai, menandakan nama itu lebih tua daripada batas administratif provinsi saat ini.

Asal Usul Nama yang Menyebar dari Catatan Kuno

Dalam kegiatan “Keurseus Budaya Sunda Edisi I: Tatar Sunda tina Sawangan Geologi” pada 26 Agustus 2021, Guru Besar Emeritus Geologi ITB Prof. Dr. Koesoemadinata menjelaskan bahwa istilah Sunda dalam ilmu kebumian tidak berkaitan dengan nama etnis atau istilah politik. Ia merujuk pada catatan Claudius Ptolemaeus pada abad kedua Masehi yang menyebut kepulauan bernama Sunda di sebelah timur India sekitar tahun 150.

Catatan itu kemudian disebut menjadi bekal bangsa Portugis saat pertama kali tiba di Nusantara pada tahun 1500 Masehi. Menurut Koesoemadinata, ketika Portugis singgah di wilayah Kerajaan Sunda, mereka diduga memahami seluruh kepulauan yang didatangi sebagai wilayah Sunda.

Ia menjelaskan bahwa penamaan itu terbagi dalam Soenda Mayor atau Sunda Besar di bagian barat dan Soenda Minor atau Sunda Kecil di bagian timur. Istilah tersebut masih dipakai dalam pustaka geologi-geografi hingga kini.

Gunung Sunda Purba dan Jejak Bahasa Sanskerta

Koesoemadinata juga mengaitkan asal penyebutan Sunda dengan pandangan geolog Reinout van Bemmelen pada 1949. Menurut Bemmelen, istilah Sunda berasal dari bahasa Sanskerta “Cuddha” yang berarti putih.

Ia menyebut pernah ada gunung api raksasa di utara Bandung yang dinamai Gunung Sunda Purba pada zaman Pleistosen. Letusannya menutupi wilayah sekitar dengan abu vulkanik berwarna putih, dan kawasan itu diyakini sudah berpenduduk berdasarkan artefak yang ditemukan.

Dari situlah, wilayah tersebut disebut Negeri Putih atau Cuddha, yang kemudian dipandang sebagai cikal bakal Sunda Land. Penduduk yang mendiami kawasan itu lalu disebut Orang Sunda.

Pulau Jawa dan Nama yang Tersimpan dalam Prasasti

Di sisi lain, pulau yang kini menjadi jantung kebudayaan Sunda dikenal sebagai Pulau Jawa, atau dalam catatan lama disebut Jawa Dwipa atau Yavadvipa. Dalam buku The History of Java (1817), TS Raffles menulis bahwa nama Yavadvipa telah muncul dalam berbagai kisah klasik India, termasuk Ramayana.

Dalam bahasa Sanskerta, Yavadvipa berarti Pulau Padi atau Pulau Jewawut, yakni biji-bijian bahan pangan. Nama itu juga muncul dalam sejumlah sumber primer sejarah berupa prasasti di Tanah Jawa.

Salah satunya adalah Prasasti Canggal, prasasti tertua peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang bertanggal 654 śaka atau 6 Oktober 732 M. Nama yang sama juga muncul pada Prasasti Baru 956 śaka pada masa Raja Airlangga, serta pada prasasti era Majapahit yang menceritakan asal-usul Mahapatih Gajah Mada.

Dengan latar seperti itu, usulan perubahan nama Jawa Barat dibaca bukan semata persoalan administrasi. Perdebatan ini menyentuh ingatan sejarah yang panjang, dari geologi, bahasa, hingga warisan kerajaan yang masih meninggalkan jejak di ruang hidup hari ini.

Source: www.malutpost.id
Terbaru