Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) Mochamad Iriawan menuntaskan kunjungan kerja marathon selama tujuh hari di wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Agenda itu diarahkan untuk memastikan pasokan energi tetap aman di kawasan strategis pariwisata nasional menjelang puncak musim liburan.
Bali menjadi titik perhatian terbesar dalam rangkaian pemantauan tersebut. Iriawan, yang akrab disapa Iwan Bule, menutup agenda di Fuel Terminal Sanggaran setelah lebih dulu meninjau sejumlah fasilitas energi penting di Jatim Balinus.
Terminal energi dan jalur distribusi ikut dipantau
Selama kunjungan, Iriawan meninjau Aviation Fuel Terminal dan Fuel Terminal Labuan Bajo, AFT El Tari dan FT Tenau Kupang, serta AFT Ngurah Rai Bali. Ia juga memantau pelayanan di sejumlah SPBU untuk memastikan distribusi energi tetap lancar sampai ke masyarakat.
Rangkaian itu dimulai dari peluncuran kapal Autonomous Trash Skimmer di Pantai Sekeh, Bali. Langkah tersebut diarahkan untuk membantu penanganan sampah laut di kawasan pesisir.
Sanggaran diposisikan sebagai aset strategis
Di Fuel Terminal Sanggaran, Iriawan menegaskan bahwa fasilitas itu memegang peran strategis dalam menjaga ketahanan energi Pulau Dewata. Ia menyebut Terminal BBM Sanggaran sebagai aset strategis nasional yang menjadi tulang punggung pasokan energi Bali.
Menurutnya, setiap gangguan pada terminal itu tidak hanya berdampak pada masyarakat. Dampaknya juga bisa menjalar ke sektor pariwisata dan perekonomian daerah.
HSSE, risiko pesisir, dan evaluasi insiden
Iriawan menyoroti posisi FT Sanggaran yang berada di kawasan pesisir dengan paparan gelombang laut tinggi dan berdekatan dengan permukiman warga. Karena itu, ia meminta standar keselamatan, pengelolaan risiko, dan kesiapsiagaan darurat diterapkan secara ketat.
Mantan Penjabat Gubernur Jawa Barat itu menegaskan bahwa aspek Health, Safety, Security, and Environment atau HSSE menjadi prioritas utama Pertamina. Ia menilai keberhasilan operasional tidak cukup hanya diukur dari lancarnya distribusi energi.
Iriawan juga menyinggung dugaan kebocoran pipa yang berdampak pada ekosistem mangrove di sekitar wilayah operasi. Insiden itu, menurutnya, harus menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat pencegahan dan manajemen risiko ke depan.
Digitalisasi operasi ikut didorong
Selain penguatan infrastruktur, Iriawan mendorong percepatan digitalisasi operasional melalui sistem monitoring dan otomasi distribusi. Langkah ini disebut penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menekan potensi human error.
Ia menegaskan bahwa Terminal BBM Sanggaran tidak hanya harus menjamin keamanan pasokan energi Bali. Fasilitas itu juga dituntut menjadi benchmark dalam pengelolaan aset, HSSE, dan keberlanjutan.
Source: rm.id






