Iran Serang Pangkalan AS di Suriah, Ancaman Hormuz Mengusik Pasar Energi Global

Author: Cung Media

Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memasuki fase yang lebih luas setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC menyerang pusat komando operasi khusus AS di pangkalan al-Tanf, Suriah. Aksi tersebut terjadi ketika Iran juga menyampaikan ancaman terhadap lalu lintas minyak dan gas di Selat Hormuz.

Ancaman itu menjadi perhatian karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur maritim paling strategis bagi distribusi energi internasional. Gangguan di perairan tersebut berpotensi memengaruhi arus ekspor minyak dan gas, sekaligus meningkatkan kekhawatiran pasar energi global.

Iran Menyatakan Kendali atas Selat Hormuz

IRGC menyatakan Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak akan mengizinkan ekspor energi melalui jalur tersebut selama serangan baru AS berlanjut. Pernyataan itu muncul di tengah rangkaian operasi udara militer AS ke wilayah Iran.

Menurut pernyataan IRGC yang dikutip Al Jazeera, “Iran memegang kendali penuh atas Selat Hormuz dan tidak ada minyak atau gas yang akan diekspor melalui jalur air tersebut selama serangan baru AS terus berlanjut.” Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa konflik militer kini turut menyentuh kepentingan energi lintas negara.

Bagi pasar internasional, Selat Hormuz menjadi titik sensitif karena perairan itu berperan penting dalam distribusi energi. Ancaman pembatasan ekspor dari Iran dapat memperbesar risiko gangguan pasokan apabila ketegangan terus meningkat.

Serangan Menjangkau Suriah hingga Negara Teluk

Serangan ke pangkalan al-Tanf disebut sebagai balasan atas tewasnya sejumlah tentara Iran di wilayah Iranshahr. Sasaran tersebut merupakan pusat komando operasi khusus AS yang berada di Suriah.

Selain Suriah, Angkatan Bersenjata Iran dilaporkan meluncurkan serangan ke markas militer AS di Kuwait dan Bahrain. Rentetan serangan lintas negara itu membuat sejumlah negara di kawasan Teluk meningkatkan kesiagaan pertahanan udara mereka.

Wilayah Sasaran atau Insiden Informasi yang Dilaporkan
Suriah Pangkalan al-Tanf Pusat komando operasi khusus AS menjadi sasaran IRGC.
Kuwait dan Bahrain Markas militer AS Dilaporkan menjadi sasaran rentetan serangan Iran.
Yordania Rudal mengarah ke wilayah negara itu Sistem pertahanan udara menjatuhkan tiga rudal Iran.

Di Yordania, pihak militer menyatakan sistem pertahanan udara berhasil merontokkan tiga rudal Iran yang mengarah ke wilayahnya. Korps Teknik Kerajaan Yordania kemudian dikerahkan untuk menangani serpihan rudal yang jatuh di lapangan.

Angkatan darat Yordania memastikan tidak ada korban jiwa di kalangan warga akibat insiden tersebut. Namun, peristiwa itu menunjukkan dampak konflik telah menjalar ke negara-negara di sekitar arena utama ketegangan.

Kementerian Dalam Negeri Qatar juga melaporkan seorang anak mengalami luka akibat serpihan puing yang jatuh. Insiden itu terjadi saat pasukan Qatar mencegat beberapa serangan udara dari Iran.

Korban Sipil dan Tekanan Politik

Di tengah serangan balasan Iran, militer AS mengklaim telah menuntaskan serangan malam keenam secara berturut-turut ke wilayah Iran. Operasi tersebut dilaporkan turut menimbulkan korban di kalangan sipil.

Kantor berita Fars melaporkan jumlah korban tewas akibat serangan AS di jembatan Bandar-e Khamir, Provinsi Hormozgan, meningkat menjadi tujuh orang. Laporan korban ini menambah tekanan pada konflik yang berkembang melalui aksi saling balas di sejumlah wilayah.

Situasi militer yang memanas juga diiringi dinamika politik di Washington terkait negosiasi dengan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance membantah tuduhan bahwa Jared Kushner dan Steve Witkoff berupaya mencari keuntungan finansial dari peran mereka dalam negosiasi tersebut.

Meluasnya serangan ke Suriah, Kuwait, dan Bahrain memperbesar risiko konflik regional yang lebih sulit dikendalikan. Perkembangan di Selat Hormuz akan menjadi perhatian utama karena ancaman terhadap jalur minyak dan gas dapat berubah menjadi gangguan ekspor energi.

Source: www.suara.com
Terbaru