
Iran mulai membuka jalur transit di Selat Hormuz untuk beberapa kapal China setelah tercapai kesepakatan soal protokol pengelolaan jalur air itu. Langkah ini muncul di tengah ketegangan yang masih membayangi salah satu rute paling vital bagi perdagangan energi dunia.
Kebijakan tersebut menjadi sinyal baru di saat pasar energi global masih sensitif terhadap setiap perubahan di Selat Hormuz. Jalur sempit itu dilalui sekitar seperlima dari total minyak dan gas alam global, sehingga setiap pembatasan langsung memengaruhi arus pasokan internasional.
Koordinasi dengan Beijing
Kantor berita semi-resmi Fars melaporkan langkah itu pada Kamis dengan mengutip sumber yang mengetahui pembahasan tersebut. Sumber yang sama menyebut Teheran menyetujui fasilitasi lewatnya sejumlah kapal China sesuai kemitraan strategis kedua negara.
Menurut sumber yang dikutip Fars, keputusan Iran tidak berdiri sendiri. Langkah itu disebut mengikuti permintaan dari menteri luar negeri dan duta besar China untuk Iran.
Iran juga menyatakan siap membantu perlintasan kapal China selama sesuai dengan pengaturan yang disepakati. Sikap ini menunjukkan adanya koordinasi langsung antara Teheran dan Beijing di tengah situasi yang masih sensitif di selat tersebut.
Selat yang tetap rawan
Selat Hormuz tetap menjadi titik yang paling diperhatikan pelaku pasar karena perannya sebagai jalur utama energi global. Fars menyebut Iran sempat sangat membatasi transit di selat itu setelah dimulainya serangan AS dan Israel pada 28 Februari.
Situasi kemudian makin rumit setelah blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran diberlakukan beberapa hari usai gencatan senjata yang disepakati pada awal April. Rangkaian tekanan itu membuat pengaturan pelayaran di kawasan tersebut semakin sulit diprediksi.
Meski begitu, Iran sebelumnya juga memberi sinyal bahwa kapal-kapal netral masih bisa lewat selama berkoordinasi dengan angkatan bersenjata Iran. Dalam laporan Fars, kapal yang terkait dengan Tiongkok termasuk yang mendapat perhatian khusus dalam kebijakan tersebut.
Arus pelayaran mulai bergerak
Belum jelas seberapa jauh keputusan terbaru ini akan mengubah kondisi di lapangan. Namun, melintasnya satu kapal tanker super China pada Rabu memberi tanda bahwa arus pelayaran mulai bergerak lagi di kawasan itu.
Kapal tersebut membawa 2 juta barel minyak mentah Irak. Perlintasan itu menjadi salah satu indikator bahwa jalur strategis tersebut belum sepenuhnya tertutup, meski risiko gangguan masih tinggi.
Kepentingan bersama di tengah ketegangan
Laporan lain menyebut Presiden AS Donald Trump dan pemimpin China Xi Jinping sama-sama sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk arus energi yang bebas. Kesepakatan itu menegaskan bahwa jalur tersebut dipandang sebagai kepentingan bersama, walau situasi politik di sekelilingnya masih tegang.
Di tengah dinamika itu, keputusan Iran untuk memfasilitasi transit kapal China terlihat sebagai langkah pragmatis. Selat Hormuz tetap menjadi jalur yang sangat sensitif, dan setiap pengaturan baru di sana akan terus memengaruhi keamanan pasokan energi dunia.
Source: www.viva.co.id




