Ancaman konflik Iran dan Amerika Serikat kini meluas dari jalur pelayaran ke fasilitas yang menopang kehidupan ekonomi di Timur Tengah. Teheran menyatakan infrastruktur minyak, gas, listrik, dan ekonomi dapat menjadi sasaran jika fasilitas publik Iran diserang.
Peringatan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap dampak konflik di luar target militer. Fasilitas energi dan kelistrikan menjadi titik sensitif karena gangguan terhadapnya dapat memengaruhi banyak negara di kawasan.
Ancaman Balasan terhadap Infrastruktur
Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran menyatakan respons negaranya tidak akan terbatas pada pemblokadean ekspor minyak. Iran menyebut akan menyerang infrastruktur minyak, gas, ekonomi, serta pembangkit listrik di seluruh Timur Tengah apabila ancaman AS dijalankan.
Pernyataan yang disiarkan televisi nasional Iran itu juga menyoroti kemungkinan perang meluas melampaui kawasan. Komando tersebut mengatakan ancaman berulang dari AS dan militernya justru dapat memperbesar konflik.
“Ancaman berulang dari kriminal AS dan militernya hanya akan memperluas perang di kawasan dan lebih luas lagi,” kata Komando Pusat Khatam Al-Anbiya Iran. Pernyataan itu muncul ketika ketegangan terkait jalur energi dan pelayaran regional kembali meningkat.
Pembangkit Listrik Jadi Sorotan
Panglima Angkatan Dirgantara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Seyed Majid Mousavi, menyinggung dampak langsung bagi negara-negara yang bersekutu dengan Washington. Menurutnya, serangan terhadap jembatan dan pembangkit listrik Iran dapat diikuti gangguan pasokan listrik di negara sekutu AS.
“Jika jembatan-jembatan dan pembangkit-pembangkit listrik kami diserang, terputusnya aliran listrik di negara-negara sekutu (AS) tak akan terhindarkan,” kata Mousavi. Pernyataan tersebut dikutip pada Kamis, 23 Juli 2026.
Pernyataan Mousavi menempatkan fasilitas sipil sebagai bagian penting dalam eskalasi terbaru. Jembatan dan pembangkit listrik disebut dalam konteks respons terhadap ancaman yang sebelumnya disampaikan Presiden AS Donald Trump.
Trump mengancam akan menghancurkan jembatan atau pembangkit listrik Iran untuk setiap kapal yang diserang Iran di Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi pusat perselisihan karena berkaitan dengan keamanan kapal dagang yang melintas di kawasan tersebut.
Kesepakatan Damai yang Kembali Runtuh
Ketegangan terbaru terjadi setelah upaya penghentian konflik sebelumnya tidak bertahan lama. Iran dan AS sempat menandatangani memorandum perdamaian pada 18 Juni 2026, setelah konflik antara Teheran dan Washington pecah pada 28 Februari 2026.
| Tanggal | Peristiwa |
|---|---|
| 28 Februari 2026 | Konflik antara Teheran dan Washington mulai pecah. |
| 18 Juni 2026 | Iran dan AS menandatangani memorandum perdamaian untuk menghentikan konflik. |
| 8 Juli 2026 | Pasukan AS kembali melancarkan serangan ke Iran. |
Situasi berubah setelah pasukan AS kembali menyerang Iran mulai 8 Juli 2026. Komando Pusat AS menyatakan serangan itu merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Menurut VIVA, pasukan Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan militer AS di Timur Tengah. Perkembangan itu terjadi di tengah ketidakpastian mengenai status memorandum perdamaian yang sebelumnya telah ditandatangani kedua pihak.
Trump selanjutnya menyatakan kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran tidak lagi berlaku. Pernyataan tersebut mempersempit ruang deeskalasi, sementara ancaman Iran kini mencakup fasilitas energi, kelistrikan, dan kepentingan ekonomi kawasan.
Dengan sasaran yang disebut semakin luas, risiko konflik tidak lagi hanya berada di sekitar pangkalan militer atau kapal dagang. Infrastruktur Energi Timur Tengah berpotensi terdampak apabila ancaman kedua pihak berkembang menjadi aksi lanjutan.
Source: www.viva.co.id






