Ancaman musim kemarau yang lebih kering akibat El Nino kembali menjadi perhatian, tetapi pemerintah menyatakan persediaan beras nasional berada pada level yang dinilai aman. Stok sekitar 5,2 juta ton tersebut lebih tinggi dari kebutuhan cadangan selama periode kemarau yang biasanya mencapai sekitar 3 juta ton.
Selisih lebih dari 2 juta ton menjadi ruang pengaman untuk menjaga ketersediaan beras saat risiko kekeringan dapat mengganggu produksi. Pemerintah juga menyiapkan jalur penyaluran melalui stabilisasi harga dan bantuan pangan agar cadangan dapat menjangkau masyarakat.
Posisi Stok Lebih Kuat dari Periode El Nino 2023
Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, meminta masyarakat tidak khawatir terhadap pasokan beras. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino pada 2015, 2023, dan 2024 menjadi bekal untuk mengantisipasi gangguan pangan.
Perum Bulog menguasai Cadangan Beras Pemerintah sebanyak 5,24 juta ton per 22 Juli 2026. Angka itu menjadi dasar penyebutan stok sekitar 5,2 juta ton dan meningkat 244,74 persen dibandingkan posisi sebelum puncak El Nino 2023.
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), puncak El Nino pada 2023 berlangsung dari Oktober hingga Desember. Pada September 2023, stok beras tercatat hanya 1,52 juta ton, jauh di bawah posisi cadangan saat ini.
“Jadi kita tidak perlu khawatir, karena kapasitas yang diperlukan selama musim kemarau biasanya sekitar 3 juta ton. Sedangkan stok kita sekarang masih ada 5,2 juta ton, masih ada kelebihan lebih dari 2 juta ton,” kata Amran dalam keterangan resminya, Kamis (23/7/2026).
Penyaluran Disiapkan untuk Menahan Gejolak Harga
Cadangan tidak hanya disimpan, melainkan juga disalurkan melalui Program SPHP atau Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Program ini ditujukan untuk menjaga pasokan beras di pasar sekaligus membantu mengendalikan pergerakan harga pangan.
Penyaluran beras SPHP pada periode Maret hingga Desember 2026 telah mencapai 507,75 ribu ton. Jumlah tersebut setara 61,32 persen dari target penyaluran 828 ribu ton.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan pangan beras sebanyak 997,2 ribu ton yang dijadwalkan mulai disalurkan Perum Bulog pada Agustus 2026. Bantuan itu ditujukan bagi 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat yang tersebar di seluruh provinsi.
| Program | Volume | Target atau Capaian |
|---|---|---|
| SPHP | 507,75 ribu ton tersalurkan | 61,32% dari target 828 ribu ton |
| Bantuan pangan beras | 997,2 ribu ton | 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat |
| Cadangan Beras Pemerintah | 5,24 juta ton | Posisi per 22 Juli 2026 |
Stok Komoditas Lain Ikut Dipantau
Bapanas mencatat Cadangan Pangan Pemerintah Daerah tingkat provinsi mencapai 7,35 ribu ton pada akhir Juni 2026. Sementara itu, cadangan pada tingkat kabupaten dan kota berjumlah 13,15 ribu ton yang tersebar di 323 daerah.
Untuk komoditas lain, stok jagung pakan mencapai 176 ribu ton per 20 Juli dan terus disalurkan kepada peternak unggas melalui SPHP. Cadangan minyak goreng tercatat 1.000 kiloliter, gula konsumsi 2,79 ribu ton, serta daging ayam di ID Food sebanyak 38 ton.
Komoditas yang cepat rusak, seperti cabai, bawang merah, dan telur ayam ras, disebut masih ditopang produksi dalam negeri secara reguler. Pemerintah menilai surplus produksi sepanjang tahun untuk komoditas tersebut cukup tinggi dibandingkan tingkat konsumsi.
Menurut laporan Badan Pusat Statistik yang disampaikan Amran, Indeks Perkembangan Harga hingga pekan ketiga Juli 2026 secara umum masih terkendali. Empat provinsi mengalami kenaikan indeks, sedangkan 34 provinsi lainnya mencatat penurunan.
Di tingkat kabupaten dan kota, kenaikan Indeks Perkembangan Harga terjadi di 69 daerah, sementara 283 daerah mengalami penurunan. Perkembangan stok, penyaluran cadangan, dan pergerakan harga akan terus dipantau saat risiko El Nino berlangsung.
Source: www.liputan6.com






