Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Tanpa Normalisasi, Lawan Netanyahu Cemas

Kesepakatan kerja sama nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi memunculkan kekhawatiran baru di Israel. Sejumlah lawan politik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menilai langkah tersebut dapat memperbesar risiko perlombaan senjata di Timur Tengah.

Sorotan utama datang karena kerja sama itu berjalan tanpa kemajuan normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel. Bagi para pengkritik Netanyahu, situasi ini membuat Riyadh berpeluang memperoleh program nuklir tanpa memberikan imbalan diplomatik kepada Israel.

Program Sipil yang Dipandang Sensitif

Amerika Serikat dan Arab Saudi meneken kerja sama pengembangan nuklir pada Rabu. Rincian resmi dokumennya belum dipublikasikan, tetapi perusahaan AS disebut berpeluang terlibat dalam pengembangan nuklir sipil di Saudi.

Menurut CNN Indonesia, peluang tersebut mencakup kemungkinan pembangunan situs pengayaan uranium di Arab Saudi. Unsur pengayaan uranium menjadi perhatian karena infrastruktur nuklir sipil dapat membuka jalan menuju kemampuan nuklir yang lebih sensitif.

Arab Saudi merupakan salah satu negara penting dalam peta keamanan Timur Tengah dan memiliki hubungan yang kompleks dengan Israel. Karena itu, kerja sama nuklir Washington-Riyadh dinilai berpotensi mengubah perhitungan strategis Israel di kawasan.

TokohPosisiSorotan terhadap Kesepakatan
Avigdor LibermanMantan Menteri Pertahanan IsraelProgram sipil dikhawatirkan bermuara pada senjata nuklir dan perlombaan senjata.
Yair GolanKetua Partai Demokrat IsraelMenilai kesepakatan menciptakan realitas berbahaya bagi Israel.
Yoel GuzanskyPeneliti senior INSSMengingatkan risiko proliferasi dan preseden “model Saudi”.

Kritik Keras dari Lawan Netanyahu

Avigdor Liberman, mantan Menteri Pertahanan Israel yang juga memimpin Partai Yisrael Beiteinu, menyebut kesepakatan itu sebagai ancaman serius. Dalam unggahan di X, ia memperingatkan bahwa program nuklir sipil Saudi dapat berakhir pada kepemilikan senjata nuklir.

Liberman juga menilai kawasan berisiko menghadapi perlombaan senjata yang sulit dikendalikan. Kekhawatiran tersebut berangkat dari kemungkinan teknologi dan fasilitas sipil digunakan untuk membangun kapasitas yang lebih jauh.

Yair Golan, Ketua Partai Demokrat Israel, menilai kerja sama AS-Saudi telah menciptakan “realitas yang berbahaya” bagi Israel. Purnawirawan jenderal militer itu menempatkan kesepakatan tersebut sebagai kegagalan strategis pemerintahan Netanyahu.

“Ia sekaligus kehilangan peluang normalisasi hubungan dengan Arab Saudi dan memungkinkan negara itu memperoleh kemampuan nuklir,” ujar Golan, seperti dikutip CNN. Pernyataan itu menyoroti dua kepentingan Israel yang sebelumnya dipandang dapat berjalan beriringan, yakni normalisasi dan pembatasan risiko nuklir regional.

Netanyahu sendiri belum menyampaikan tanggapan resmi mengenai kerja sama tersebut. Namun, kritik terhadap pemerintahannya muncul karena kesepakatan ini tidak disertai kemajuan hubungan diplomatik antara Israel dan Riyadh.

Peluang Normalisasi Kian Menyusut

Yoel Guzansky, peneliti senior Institute for National Security Studies atau INSS, mengatakan kerja sama nuklir Washington dan Riyadh pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya dikaitkan langsung dengan normalisasi Saudi-Israel. Skema tersebut berubah setelah serangan 7 Oktober 2023 dan agresi Israel yang menyusul di Jalur Gaza.

Menurut Guzansky, peluang normalisasi menyusut karena Arab Saudi mengambil sikap yang semakin keras terhadap Israel. Ia juga menilai kondisi politik di bawah pemerintahan sayap kanan Israel saat ini pada dasarnya tidak memungkinkan normalisasi itu terwujud.

Perubahan situasi itu dinilai memberi keuntungan diplomatik bagi Riyadh. Arab Saudi dapat mengejar program nuklir sipil, sementara tuntutan normalisasi dengan Israel tidak lagi menjadi bagian yang terlihat dari kesepakatan tersebut.

Risiko Munculnya “Model Saudi”

Guzansky mengingatkan adanya risiko munculnya “model Saudi” di Timur Tengah. Istilah itu merujuk pada kemungkinan negara lain di kawasan menuntut bentuk kerja sama nuklir serupa dengan Amerika Serikat.

Jika preseden tersebut berkembang, risiko proliferasi nuklir regional dapat meningkat. Kekhawatiran Israel bukan hanya terkait program Saudi, tetapi juga dampak kesepakatan itu terhadap tuntutan negara-negara lain pada masa mendatang.

Guzansky menilai Israel kemungkinan tidak mampu menghentikan perjanjian tersebut sepenuhnya. Namun, Israel masih dapat berupaya mendorong penyempurnaan kesepakatan melalui Kongres AS, terutama mengenai mekanisme pengawasan dan inspeksi.

Isu ini menjadi semakin sensitif ketika ketegangan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Di tengah tujuan AS untuk melucuti senjata nuklir Iran, kerja sama nuklir dengan Arab Saudi kini menjadi perhatian besar bagi Israel dan stabilitas kawasan.

Source: www.cnnindonesia.com
Terkait